Lifestyle blogger Hannah Payne (18) memangku laptop
'Kamilah digital native pertama yang sesungguhnya,' kata Hannah Payne (18), blogger gaya hidup. Foto: The New York Times/Max Whittaker

Belum Genap 20 Tahun, Generasi Z Berambisi Mengubah Dunia

Tak bisa lepas dari gadget, narsis akut, dan cuma mau instan. Stempel itu kerap muncul bagi Generasi Z, anak-anak muda yang lahir di periode 1995-2010. Mereka memenuhi layar digital dengan berbagai curhat-nya di media sosial dan aksinya di kanal-kanal YouTube.

Tapi Generasi Z juga dikenal sebagai muda-mudi yang kreatif dan banyak berkarya. Kedekatannya dengan gadget, yang menyebabkan Generasi Z sering dicap sebagai generasi short attention span, memungkinkan anak-anak muda ini untuk memanfaatkan perangkat mereka untuk memberdayakan diri sendiri.

Linda Manziaris, misalnya. Gadis dari Toronto, Kanada, ini sudah menjalankan bisnisnya sendiri di umur 16 tahun.

Bersama kakaknya, Susanna Manziaris, dia menjalankan perusahaan perhiasaan Body Bijou. Linda membuat sendiri berbagai macam kalung dan gelang yang dijajakan di Body Bijou, beroperasi sebagai toko online. 50 persen dari keuntungan itu kemudian disumbangkan ke Girls Helping Girls, organisasi yang membantu memberikan akses pendidikan bagi perempuan.

Anak kedua di keluarga Manziaris ini pertama kali belajar membuat perhiasan di mata pelajaran kesenian kelas 7 (setingkat dengan kelas 1 SMP). Selepas itu, Linda belajar sendiri.

“Saya banyak belajar dari YouTube dan saya berguru dengan pembuat perhiasan,” kata Linda saat diwawancarai portal Like A Boss Girls. “Dari situ, saya mulai merancang kado untuk ibu dan tante, dan saya mulai menjual satuan ke teman-teman kerja mereka.”

Linda Manziaris si pembuat perhiasan
Linda Manziaris. Foto: Filler Magazine.

Ketekunan seperti Linda bukan cuma dimiliki gadis itu seorang. Jauh dari benua Amerika, Salsabila Roihanah juga ulet dalam berkarya. Perempuan Kediri, Jawa Tengah, yang seusia dengan Linda itu rajin merangkai kata, melahirkan beberapa novel dalam usia yang sangat muda. Sekurang-kurangnya sudah ada tiga buku novel remaja dan dua kompilasi cerpen yang diterbitkannya.

Banyak karyanya bercerita tentang persahabatan. Ada juga yang berangkat dari pengalaman pribadi. Salah satu kompilasi cerpen Salsa, Dag Dig Dug, berkisah tentang perjuangannya melalui olimpiade. “Motivasi dari orangtua, guru, teman-teman dan orang sukses yang berprestasi jadi cambuk semangatku,” jelas Salsa kepada Brilio.net (21/4/2015).

Menurut survei PR Newswire dan Monster Worldwide, sebagian besar Generasi Z percaya bahwa mereka adalah penentu hidup mereka sendiri. Sebanyak 76% percaya bahwa mereka pemilik dari karir mereka sendiri. 49% dari Generasi Z punya keinginan besar berwirausaha.

Sebagai generasi yang sejak lahir sudah menyentuh gadget, Generasi Z adalah digital native. Anak-anak muda ini percaya bahwa teknologi memungkinkan mereka untuk jadi lebih produktif. Banyak dari mereka yang percaya kalau perangkat mobile mengubah cara orang berkomunikasi, sehingga lebih banyak dari mereka yang memilih bekerja dengan smartphone ketimbang laptop.

Laporan Forbes (28/5/2013) juga menyebutkan bahwa Generasi Z punya keinginan besar untuk mengubah status quo. Tokoh idola mereka, seperti Katniss Everdeen di film Hunger Games, adalah representasi diri mereka yang berjuang melawan kesulitan demi menciptakan masyarakat yang lebih baik.

Tak mengherankan jika Linda menyisihkan 50% keuntungan usahanya bagi organisasi yang fokus pada pendidikan. “Kalau kau mendidik perempuan, kau mendidik keluarganya dan komunitasnya, hingga siklus kemiskinan akan terurai,” kata Linda.

Dan di Hong Kong, wajah Joshua Wong menghiasi proses politik yang bergulir baru-baru ini. Dua tahun lalu, Joshua dan teman-temannya mengguncang Hong Kong dengan payung-payung berwarna kuning. Dia bersama ribuan anak muda menuntut pemerintah Cina untuk memberikan hak otonom bagi Hong Kong.

Hong Kong bisa jadi termasuk tujuh besar ekonomi paling maju di Asia–dengan PDB per kapita sebesar 55 juta USD–tapi secara politik Hong Kong adalah entitas yang terjajah. Sempat direbut Inggris dan dikendalikan Tiongkok, di tahun 2047 Hong Kong diproyeksikan untuk melebur sepenuhnya dengan Republik Rakyat Tiongkok. Dimulai dari tahun 2014, dengan melarang warga Hong Kong memilih pemimpinnya sendiri.

Ribuan anak muda membuka payung di Hong Kong
Demonstran di Hong Kong membuka payungnya selama 87 detik, memperingati 87 tembakan peluru gas air mata polisi. Foto: EPA/Alex Hoffard.

Di tahun 2011, saat masih berumur 14 tahun, Joshua membentuk kelompok siswa yang disebut Scholarism untuk mencegah Hong Kong mengadopsi kurikulum Tiongkok yang akan menghapus peristiwa Pembantaian Lapangan Tiananmen 1989 dari buku sejarah. Sekitar 100.000 orang bergabung dengannya pada aksi damai di tahun 2012, dan pemerintah Hong Kong membatalkan penerapan kurikulum itu.

Empat tahun setelahnya, Joshua berdiri di antara ribuan mahasiswa lain lagi di tengah semprotan gas air mata dari polisi dan ancaman gangster. Mereka membentuk posko-posko, bertahan dari derasnya hujan. Perjuangan mereka membuahkan hasil. Protes anak muda ini dikenal sebagai Revolusi Payung.

“Masa depan tak ditentukan oleh orang dewasa,” kata Joshua pada TIME, saat itu berumur 18 tahun. “Aku mau tanya pada orang-orang dewasa itu, orang-orang yang punya modal dan kuasa, ‘Kenapa kalian tak memperjuangkan demokrasi?'”

Seperti banyak dari Generasi Z lainnya, Joshua melihat bahwa kolaborasi adalah hal yang penting. Revolusi Payung tak punya pemimpin tunggal. “Kalau Hong Kong cuma mengandalkanku, gerakan ini akan gagal.”

Menurut laporan NextGeneration Recruitment, 34% dari Generasi Z percaya tiap orang harus punya kemampuan berorganisasi. Laporan lain dari perusahaan teknologi Ricoh Europe menyebutkan 43% dari Generasi Z sangat tak menyukai komunikasi yang buruk dengan rekan kerjanya.

Sebab itulah bisa dipahami mengapa Generasi Z percaya dengan tren sharing economy, seperti jasa yang diberikan oleh AirBNB dan Go-JEK. Jasa ini menjadikan kerja sama–berbagi bersama–sebagai slogan jualannya. Tapi, berbeda dengan generasi sebelumnya yang mengadopsi mentah-mentah perkembangan ini, Generasi Z sedikit lebih kritis.

Menurut studi Center for Generational Kinetics, sebanyak 63% akan berusaha memastikan profil dari penyedia jasa, dan 11% dari mereka menyebutkan juga bahwa mereka akan memastikan apakah penyedia jasa ini memberikan asuransi bagi pengguna. Kepastian dan keselamatan menjadi salah satu perhatian utama Generasi Z.

Terkait kepastian, seperti Generasi Y (lahir 1981-1994) yang mendahului mereka, Generasi Z juga akan dihadapkan pada tren ketidakpastian kerja.

Sejak dua dekade berselang, generasi muda dihadapkan pada ancaman sistem kerja kontrak, upah murah, dan outsourcing serta freelance. Di Indonesia, ijazah sarjana tak menjamin adanya upah layak dan bebas dari eksploitasi kerja lebih dari 40 jam seminggu. Kim Moody, pegiat hak-hak pekerja, memprediksi tren ini akan terus bertahan hingga beberapa tahun ke depan.

David Mills, CEO dari Ricoh Europe, memandang ini lebih optimis. Dia memandang Generasi Z memiliki tiga hal yang membedakan dari generasi sebelumnya, yakni “keinginan untuk inovasi terus-menerus, komunikasi instan, dan kolaborasi terbuka.” David melihat, tiga hal ini yang akan banyak berperan mengubah iklim kerja berikutnya.

Hal-hal positif ini jelas akan membawa dampak baik dalam gerakan anak muda untuk melawan korupsi. Pelibatan Generasi Z dalam mendorong pelayanan publik yang lebih baik dapat ditemukan dalam berbagai praktik.

So, masih ada yang menganggap generasi Z itu hanya narsis saja?

Sharing is caring!
Share on Facebook44Tweet about this on Twitter2Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

One response to “Belum Genap 20 Tahun, Generasi Z Berambisi Mengubah Dunia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *