Aplikasi pendeteksi parkir otomatis San Carlos
Aplikasi pendeteksi parkir otomatis di San Carlos, Amerika Serikat. Foto: Curtis Perry/Flickr.

Empat Kota Ini Manfaatkan Teknologi Pintar, Salah Satunya ada di Indonesia

Belakangan, pembangunan kota dilakukan dengan paradigma smart thinking. Smart thinking adalah cara memanfaatkan teknologi untuk menyempurnakan kualitas hidup warga perkotaan dengan memperbaiki layanan publik, agar kota jadi lebih layak dihidupi oleh warga negaranya. Teknologi ini misalnya bisa berupa penyempurnaan transportasi publik, membuat kebijakan yang ramah lingkungan, dan memberikan layanan kesehatan yang baik. Kota yang menerapkan paradigma ini disebut smart city.

Pengembangan smart thinking awalnya dilakukan di negara-negara ekonomi maju. Tapi belakangan berbagai kota di dunia juga menerapkan paradigma pembangunan ini. Kota-kota ini juga ada di Indonesia lho!

Sao Paulo, Brazil

Foto dari Take Vista
Pengguna melaporkan jalanan rusak di Sao Paulo lewat aplikasi Take Vista. Foto: Take Vista.

Kota Sao Paulo, Brazil, adalah kota yang mendapat dukungan dari Open Government Partnership untuk membuat kebijakan publik yang berkomitmen pada pemerintahan terbuka (open government). Artinya kota ini mesti terbuka dalam memberikan anggaran dan proses pembuatan kebijakannya, memberdayakan warga, melawan korupsi, dan menggunakan teknologi untuk memperkuat pemerintahan.

Menurut Huffington Post (27/10), ada dua aplikasi yang dikembangkan dalam mendukung pembangunan ini. Aplikasi pertama adalah Take Vista. Lewat aplikasi ini, warga bisa memotret kondisi fasilitas publik yang bermasalah–seperti jalanan–untuk dilaporkan ke pemerintah. Aplikasi kedua adalah Olhares Urbanos (Pandangan Urban) yang membantu pemerintah untuk mengidentifkasi pelanggaran tata ruang. Untuk mendukung proses ini, pemerintahan kota juga mendirikan Interdepartmental Committee on Open Government di tahun 2014.

Bogota, Kolombia

Pemandangan di busway Bogota
Pemerintahan Bogota berambisi mengurangi kendaraan pribadi, kemudian memperbanyak bus dan sepeda. Foto: Fenix2012/Wikimapia.

Untuk mengatasi kemacetan, pada tahun 2005 pemerintahan kota Bogota mendirikan Traffic Control Center. Departemen ini mengumpulkan data kemacetan di kota secara real time, kemudian dianalisis, dan hasilnya digunakan dalam pengambilan keputusan sehari-hari. Untuk memungkinkan analisis secara akurat, pemerintahan Bogota membangun 50 sensor pendeteksi kecepatan berkendara, 160 sensor penghitung jumlah kendaraan dan sepeda, dan 100 kamera di jalan raya.

Intelligent Transportation System (ITS) ini juga memberikan akses kartografi dan geographic information system (GIS) bagi pengguna biasa. Menurut Huffington Post (27/10), keberhasilan sistem ini memicu Bogota untuk membangun sistem serupa yang fokus pada pengurangan kejahatan jalanan seperti pencurian dan perampokan.

Lagos, Nigeria

Ambulans di Lagos, Nigeria
Selama 2001-2011, sekitar 64 ribu warga Nigeria mengalami kecelakaan lalu-lintas. Foto: The Nation Health Service

Manajemen kondisi gawat darurat di Lagos banyak terbantu karena peran besar teknologi. Di tahun 2001, pemerintah kota Lagos mendirikan Lagos State Emergency Medical Service (LASEMS) dan Lagos State Ambulance Services (LASAMBUS), menanggapi begitu banyaknya darurat medis yang terjadi di kota itu. Layanan ini berfungsi dengan jaringan komunikasi radio dan hotline telepon untuk memastikan kecepatan informasi.

Selain itu, warga negara juga bisa memanfaatkan Lagos Directory Online, semacam buku kuning yang menyediakan kontak dan alamat tiap dinas di pemerintahan kota Lagos. Ada kontak pemadam kebakaran, helpline kekerasan di rumah tangga, helpline penganiayaan anak, serta layanan kesehatan. Menurut govTechnology, di tahun 2015 pusat informasi Lagos menerima 5 juta telepon tiap bulannya. Hotline tersebut banyak berperan bagi masyarakat Lagos.

Surabaya, Indonesia

Petugas beraksi di Surabaya Command Center
Pusat kendali kota Surabaya di Gedung Siola. Foto: Yadi/Humas Kota Surabaya.

Surabaya disebut-sebut sebagai pionir smart thinking dalam pembangunan kota di Indonesia. Surabaya punya fasilitas Command Center atau pusat kendali untuk mengatasi segala permasalahan yang terjadi dengan cepat. Pusat kendali ini memantau CCTV yang dipasang di setiap sudut sarana publik–dari jalan raya hingga taman. Berbagai macam dinas terlibat dalam sistem ini, dari dinas kebersihan, dinas perhubungan, hingga Satpol PP dan Pemadam Kebakaran. Pusat kendali ini melayani masyarakat melalui nomor pengaduan 112. Nomor tersebut dapat diakses 24 jam dan bebas pulsa.

Di Surabaya, inisiatif mengelola pemerintahan berdasarkan teknologi sudah dimulai sejak tahun 2002. Menurut InfoKomputer (20/8/2015), saat itu diawali dengan program e-government yang mengurus pengadaan barang dan jasa. Widya Anggraini, Surabaya Community Manager di urb.im, menyebutkan bahwa penerapan smart thinking di Surabaya terbagi dalam dua kelompok besar, yaitu pengelolaan keuangan daerah dan pelayanan masyarakat. Saat ini sudah ada 17 aplikasi e-government yang sudah berjalan di Surabaya.

***

Indonesia sendiri lagi getol-getolnya membangun kota dengan paradigma smart thinking. Indonesia sudah mempunyai Smart City Index sejak tahun 2015, dan sudah pula digarap proyek Smart City Indonesia. Selain Surabaya, Jakarta juga membangun konsep smart city dan dikenal dengan aplikasi Qlue dan Safetipin, masing-masing untuk melaporkan fasilitas publik yang bermasalah dan kriminalitas jalanan. Bandung pun punya mekanisme citizen complaint online, rapor camat/lurah oleh warga (SIP), Perizinan Online (Hay.U), dan monitoring program kerja Pemkot (Silakip).

Tapi smart city bukan cuma soal teknologi. Partisipasi aktif warga dalam membangun kota harus mendapat ruang dalam paradigma smart city.

“Tujuan akhir smart city adalah menciptakan lingkungan yang aman, bersih, dan dapat memberdayakan warga,” kata Ilham Akbar Habibie dari Dewan Teknologi Informasi & Komunikasi (TIK) Nasional di diskusi tahun lalu. Karena itulah, “smart city beda dengan cyber city,” pungkasnya. Teknologi cuma sarana untuk pemanusiaan warga.

Nah, bagaimana kalau di kotamu?

 

Sharing is caring!
Share on Facebook11Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *