Gambar seorang guru dengan buku dan label Best Teacher

5 Cara Jadi Guru Berintegritas

Setiap tanggal 25 November kita memperingati Hari Guru Nasional. Peringatan ini dicetuskan sejak tahun 1994 lewat Kepres No. 78 Tahun 1994 dan juga di UU No. 14 Tahun 2005. Tanggal ini juga bertepatan dengan ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang didirikan sejak tahun 1945.

Tapi, nih, sektor pendidikan di Indonesia masih memprihatinkan, terutama terkait korupsi. Pantauan Indonesia Corruption Watch (ICW) dari tahun 2003-2013 ada 296 kasus korupsi pendidikan dengan kerugian negara sebesar Rp619 miliar.

Nah, jadi penting buat refleksi soal pendidikan, salah satunya dengan melihat dari sisi pengajarnya alias guru. Integritas guru penting dalam pendidikan. Terutama buat kamu, teman, atau saudara kamu yang berprofesi sebagai guru atau calon guru. Gimana sih caranya?

1. Jauh-jauh dari pemilu, terutama dari calon kepala daerah/legislatif!

Menjelang pilkada, panas banget nih urusan pemilu. Integritas guru paling diuji ketika berhadapan dengan politik. Di Kabupaten Pandeglang, Banten, menurut laporan ICW ternyata guru sering jadi mesin politik. Guru diperalat calon-calon yang bakal bersaing di pemilu supaya membantu pemenangan mereka, baik itu sebagai tim kampanye resmi atau bukan.

Padahal guru bisa dikenakan sanksi yang diatur UU No. 5/2014 tentang Aparatur Sipil Negara kalau ketahuan memenangkan calon tertentu.

Guru, terutama guru sekolah negeri, tak boleh terlibat dalam pemenangan calon tertentu karena mereka adalah abdi negara. Guru digaji oleh pemerintah daerah dan punya akses ke fasilitas negara. Jadi guru rentan diperalat untuk berkampanye memakai fasilitas negara, biasanya untuk mendukung calon petahana (incumbent).

Ada delapan modus politisasi guru menurut ICW:

  1. Guru banyak bertemu dengan incumbent;
  2. Guru jadi ajang sosialisasi incumbent;
  3. Dana BOS dipakai untuk spanduk sosialisasi incumbent;
  4. Briefing/ancaman memilih incumbent;
  5. Program pendidikan pemerintah diakui sebagai bantuan dari incumbent;
  6. Sosialisasi incumbent kepada pemilih pemula (murid SMA/sederajat);
  7. Kandidat menjanjikan promosi jabatan pada guru bila terpilih;
  8. Mobilisasi dukungan lewat SKPD pemerintah.

2. Jangan suka membolos alias magabut (makan gaji buta)

Ini integritas guru yang paling common sense ya. Kita semua tahu guru gak boleh membolos. Tapi tahu gak sih kalau menurut Menurut Wakil Mendiknas Fasli Jalal, di tahun 2010 kemarin ada 500 ribu guru yang membolos di Indonesia tiap harinya? “Itu yang tercatat di luar bulan puasa,” katanya. Padahal di tahun itu ada sekitar 2,6 juta guru. Artinya ada sekitar 1/5 guru yang membolos tiap harinya.

Guru membolos sering terjadi pada bulan puasa. Menurut liputan PRO Kaltim (4/8/2014), guru masih sering meliburkan diri melebihi jadwal. Padahal libur guru berbeda dengan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di pemerintahan. Guru telah libur terlebih dahulu sesuai dengan jadwal liburan sekolah.

Kalau di kelas guru sering ngasih tugas di buku pelajaran atau LKS, terus gurunya pergi ke luar kelas, nah, itu magabut juga, tuh!

3. Terlibat dalam berorganisasi, misalnya dengan Saya Perempuan Antikorupsi (SPAK)

Ada beberapa organisasi yang bisa melibatkan guru dalam isu-isu pendidikan, misalnya Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI). Nah, di isu antikorupsi, guru-guru perempuan bisa ikut terlibat dalam SPAK.

SPAK adalah gerakan yang menonjolkan partisipasi perempuan di tengah masyarakat dalam melawan korupsi. SPAK telah memiliki lebih dari 550 perempuan agen perubahan dari berbagai latar belakang dan tersebar di 20 provinsi. Perempuan yang tergabung dalam gerakan ini terdiri dari berbagai kalangan, dari ibu rumah tangga hingga profesional seperti pengacara dan guru.

Di dunia kerja, SPAK mendorong keterlibatan perempuan dalam melawan korupsi dengan melaporkan jumlah kekayaannya secara terbuka, serta membayar pajak, dan turut melaporkan tindakan korupsi yang dilakukan oleh rekan kerja maupun atasannya. Nah, keterlibatan dan integritas guru dengan SPAK bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan masalah-masalah korupsi di pendidikan.

4. Mengajak siswa kritis dengan isu korupsi di sekolah

Nggak perlu jauh-jauh kalau bicara korupsi, isu korupsi pun sering terjadi juga di sekolah. Misalnya saja, dalam hal pungutan liar (pungli). Seperti yang pernah Youth Proactive bahas sebelumnya (19/11), pungli sering terjadi di sekolah dalam bentuk biaya formulir pendaftaran ulang, biaya seragam sekolah, biaya LKS, biaya les, sampai biaya study tour.

Nah, integritas guru paling bisa nyata terlihat kalau guru mengajarkan nilai-nilai antikorupsi itu ke siswa-siswanya dimulai dari lingkungan yang paling dekat, yaitu di sekolah. Guru bisa mengajarkan siswa untuk menjauhi praktik pungli yang terjadi di sekolah tadi. Guru juga bisa melatih siswa untuk kritis sama layanan di sekolah. Misalnya, sudah bayar SPP mahal, kok toilet masih kotor dan perangkat laboratorium masih kurang atau rusak? Bisa jadi ada yang salah di sekolah.

Pastinya guru juga jangan sampai terlibat korupsi sendiri. Lebih keren lagi kalau bisa mendorong siswa untuk membongkar praktik korupsi di sekolah, seperti di SMAN 3 Surakarta!

5. Memanfaatkan Cek Sekolahku (CSK) sebagai sarana pengaduan

Hal yang sering dilupakan adalah guru punya fungsi sebagai jembatan antara siswa dan pihak sekolah. Hal ini dikarenakan banyak banget pelayanan publik sekolah yang harusnya maksimal, tapi justru jadi buruk karena korupsi. Nah, platform Cek Sekolahku dari Transparency International Indonesia, bisa menjadi pilihan bagi siswa jika akses pertukaran itu terhambat.

CSK merupakan sistem pengaduan pelayanan publik di sekolah yang dapat digunakan siswa untuk ngomel ke pihak sekolah. Tidak hanya sampai disitu, pengaduan akan terus ditindaklanjuti ke pihak Dinas Pendidikan tingkat daerah dan tentunya pihak sekolah itu sendiri. Guru berintegritas juga harus memastikan keterbukaan sistem pengaduan ini diketahui oleh siswa.

***

So, selamat Hari Guru ya!

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter3Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

2 responses to “5 Cara Jadi Guru Berintegritas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *