Gedung PPATK tampak depan
Gedung PPATK. Foto: Arie Prawira Sholeh/Flickr.com.

Apa itu PPATK? Apa Kaitan PPATK dengan Korupsi?

Bicara soal korupsi, bukan cuma KPK lho lembaga negara yang terlibat dalam pengusutan korupsi!

Kita juga punya Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Lembaga ini bertugas untuk mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang. Ingat kasus Panama Papers dan Offshore Leaks? Nah kasus-kasus semacam itu yang sering dimanfaatkan orang untuk mencuci uang hasil korupsi.

Di pemberantasan korupsi, kita juga kenal istilah transaksi mencurigakan. Yaitu transaksi yang jumlahnya gak wajar banget dilakukan oleh si pemilik rekening. Menyelidiki transaksi mencurigakan ini yang juga jadi bagian dari kerjanya PPATK.

26 Oktober lalu Presiden Jokowi mengangkat Kepala PPATK baru. Mau tahu apa kaitan PPATK dan korupsi? Sekarang yuk kenalan dulu sama PPATK!

Apa itu Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK)?

PPATK Berdiri 17 April 2002 dan beroperasi penuh tanggal 18 Oktober 2003. Menurut UU No. 8 Tahun 2010, bertugas mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang.

Salah satu hal yang diselidiki PPATK adalah transaksi mencurigakan (suspicious transaction). Ini adalah kaitan utama antara PPATK dan korupsi. Transaksi ini adalah transaksi keuangan yang menyimpang dari kebiasaan pola transaksi nasabah. Misalnya, karyawan swasta yang per bulannya paling banyak cuma transaksi Rp10 juta, tiba-tiba ada transaksi Rp100 juta.

Transaksi mencurigakan juga berarti transaksi yang diduga dilakukan untuk menghindari pelaporan transaksi keuangan, yang wajib dilakukan penyedia jasa keuangan (PJK) sesuai dengan ketentuan UU TPPU.

Korupsi dan Pencucian Uang itu Ibarat Kakak-Adik

Demikian kata Said Imran dari PPATK (20/10/2015). Selain transaksi bank, banyak juga pelaku kejahatan yang lebih menyukai transaksi tunai. Transaksi tunai lebih susah dideteksi karena lebih tak kelihatan dibanding transaksi bank.

Setelah mendapat uang, para koruptor tak menyimpan uangnya di bank, tapi dibelikan tanah, properti mewah, mobil mewah, perhiasan, dan lain sebagainya. Barang mewah ini jadi aset berharga bagi koruptor tanpa bisa dideteksi asal dananya dengan gampang.

Mantan pemimpin Libya Muammar Gaddafi, misalnya, diketahui memiliki properti senilai 10 juta USD di London. Uang gelap itu ia peroleh selama menjabat sebagai pemimpin Libya.

Selain dicuci lewat pembelian sah, perusahaan bodong kerap juga bermain dalam pencucian uang. Perusahaan bodong adalah sebutan untuk perusahaan yang terdaftar di suatu negara, tapi aktivitas ekonominya hampir tidak pernah dilakukan di negara tersebut atau malah tidak ada sama sekali.

Inilah yang menyebabkan kenapa negara-negara bersih korupsi ternyata masih juga masuk ke dalam skandal Panama Papers dan Offshore Leaks. Menyelidiki pencucian uang inilah yang jadi kaitan antara PPATK dan korupsi.

Kiagus Ahmad Badaruddin, Kepala PPATK Periode 2016-2021

Dilantik Jokowi 26 Oktober lalu, Kiagus Ahmad Badaruddin akan menjabat lima tahun menggantikan M. Yusuf yang habis masa jabatannya. Pria 59 tahun ini bergelut lebih dari 10 tahun di Kementerian Keuangan dan punya pengalaman 3 tahun di KPK. Ini dia profilnya.

Pendidikan:

  • D3 Ekonomi Perusahaan Universitas Sriwijaya Palembang
  • S1 Ekonomi Manajemen Universitas Sriwijaya Palembang (lulus 1986)
  • S2 University of Illinois at Urbana-Champaign (lulus 1991)

Karir:

  • Pelaksana di Kemenkeu (masuk 1977)
  • Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan KPK (menjabat 2003)
  • Direktur Sistem Perbendaharaan Kemenkeu (menjabat 2006)
  • Sekretaris Direktorat Dirjen Perbendaharaan Kemenkeu (menjabat 2009)
  • Sekjen Kemenkeu (menjabat 2012)
  • Irjen Kemenkeu (menjabat 2015)
  • Kepala PPATK (menjabat 2016)
Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *