Orang mengeluarkan lembaran uang palsu
Uang palsu zero currency bagi peminta pungli. Ilustrasi: Pradipa PR/Youth Proactive

15 Cara Kreatif Melawan Korupsi, Dimulai dari Sekitar Kita

Melawan korupsi bisa dilakukan dimulai dari sekitar kita. Banyak anak muda yang sudah melakukannya, misalnya saja teman-teman di Youth Report Center yang sudah membuat posko pengaduan di kotanya masing-masing.

Nah, tapi untuk bisa sampai ke sana pastinya ada prosesnya. Untungnya, kita bisa memanfaatkan toolkit atau perangkat yang dibuat Transparency International untuk membantu kita, anak muda, menyusun rencana cara melawan korupsi. Ada 15 cara nih yang bisa kita coba. Booklet-nya bisa kamu baca online atau unduh di website Transparency International, tapi juga bakal kita paparkan di 15 bahasan berikut.

1. Pantau aliran uang pemerintah

Kita, warga negara, butuh pemerintah karena pemerintah yang menyediakan layanan publik. Pemerintah bisa menyediakan layanan publik karena kita membayar pajak. Nah, kalau tak ada yang mengawasi pemerintah untuk mengelola uang dari pajak itu, kemungkinan untuk disalahgunakan bisa makin besar. Ingat kasus korupsi pegawai pajak Gayus Tambunan? Itu contohnya.

Jadi, salah satu cara melawan korupsi adalah dengan memantau ke mana uang yang digunakan pemerintah itu mengalir, alias follow the money. Pantau dimulai dari pemerintah daerahmu dulu. Gimana memantaunya?

  1. Identifikasi apa masalah yang perlu dipantau. Waktu itu pemerintah janji bikin sekolah, kok belum dibikin? Jalanan yang rusak sudah dilaporin, tapi kenapa masih rusak? Coba identifikasi apa masalah yang mengganggu orang-orang di lingkungan sekitarmu.
  2. Bentuk tim pemantau. Kumpulkan teman-teman yang juga tertarik dengan isu yang mau kamu pantau. Teman-teman yang punya kemampuan analitis dan matematis bisa sangat bermanfaat dalam kerja ini.
  3. Tentukan goals. Pastikan kamu menentukannya secara realistis dan bisa dikelola.
  4. Bersiaplah! Rencanakan riset awal (preliminary research) untuk memantau belanja pemerintah daerahmu. Kumpulkan data anggaran, belanja negara, perkembangan proyek infrastruktur, dan sebagainya.
  5. Kumpulkan bukti-buktinya. Turunlah ke lapangan dan cari datanya.
  6. Diskusikan temuanmu. Kumpulkan timmu untuk mendiskusikan keanehan di belanja negara. Jangan lupa catat juga apa ada belanja negara yang memang ditepati pemerintah, misalnya ternyata memang ada sekolah yang sudah dibangun.
  7. Sebarkan temuanmu. Gelar diskusi terbuka di lingkunganmu untuk membicarakan temuan timmu. Lalu langsung kejar dan follow up pihak pemerintah daerah untuk meminta keterangan, ke mana uang yang hilang dari daftar belanja negara.
  8. Jaga momentumnya. Pikirkan bagaimana supaya isu ini tetap dibicarakan orang dan bagaimana timmu bisa terus memantau angggaran dan belanja pemerintah selanjutnya.

2. Pantau kelengkapan layanan dan fasilitas di sekolahmu

Kalau mengawasi pemerintah daerah terlalu jauh, kamu bisa mulai dengan mengawasi sekolahmu sendiri. Semakin besarnya biaya pendidikan, makin besar pula kemungkinan uangnya dikorupsi. Nah, untuk memastikan banggaran pendidikan bebas dari korupsi, kamu bisa mulai dengan mengawasi sekolahmu sendiri.

Caranya? Pantaulah kelengkapan layanan dan fasilitas sekolahmu. Misalnya, perangkat laboratorium sudah lengkap belum? Perpustakaan yang katanya mau diperbaiki sudah diperbaiki belum? Teman-teman kita di SMAN3 Surakarta pernah mencoba cara ini untuk membongkar praktik korupsi di sekolahnya. Ini dia step-by-step-nya.

  1. Identifikasi apa masalahnya. Coba cari suatu hal yang mengganggu pikiranmu dan banyak teman-temanmu terkait layanan sekolah.
  2. Apa tujuannya? Tentukan apa yang mau kamu capai dan rancang goals-nya.
  3. Pahami medannya. Pastikan kamu pahami kebijakan sekolah dan pemerintah daerah terkait pengadaan layanan dan fasilitas di sekolahmu. Misalnya, betul ada nggak sih uang untuk perbaikan perpustakaan? Petakan anggaran sekolahmu dan lacak aliran uangnya.
  4. Jangkau orang penting. Gunakan kesempatan ini untuk membuka aksesmu dengan orang-orang penting terkait penganggaran seperti pihak yayasan sekolah, dinas pendidikan daerah, atau bahkan menteri pendidikan.
  5. Mulai perencanaan. Lakukan pertemuan awal dan rencanakan prosesnya. Latih teman-temanmu dan relawan supaya bisa terlibat dalam melakukan penelitian.
  6. Turun ke lapangan. Ini waktunya timmu melakukan penelitian lapangan, menganalisis proses dan pola pengeluaran sekolahmu terkait isu yang kamu tentukan.
  7. Sebarkan temuanmu. Bisa kamu presentasikan ke manajemen sekolah atau ke media massa, tergantung temuanmu.

3. Pantau keluhan dengan kartu laporan warga

Sebagian besar orang pasti punya pendapat soal layanan publik yang disediakan pemerintah. Sesekali ngomel di kumpul keluarga atau di media sosial. Tapi seberapa sering pendapat itu terkumpul jadi suatu laporan yang bermakna?

Nah, ini bisa dilakukan pakai kartu laporan warga (citizen report card). Bentuknya tak harus dalam kartu betulan, bisa saja kamu kembangkan dalam bentuk aplikasi kalau lingkungan sekitarmu adalah pengguna aplikasi.

Kartu ini digunakan untuk mengumpulkan masukan dan kritik layanan publik langsung dari orang-orang yang memakainya. Misalnya keluhan soal transportasi publik, soal dana BOS, pelayanan BPJS, atau macam-macam lainnya. Dengan kartu laporan ini kamu bisa mengumpulkan data untuk mengukur kualitas layanan publik. Jadi, gimana caranya?

  1. Tentukan topiknya. Identifikasi apa–atau siapa–yang mau kamu ukur (misalnya, pejabat atau kandidat politik tertentu, atau sektor layanan publik tertentu).
  2. Identifikasi audiens. Kamu harus tahu siapa yang pendapatnya relevan dalam penelitian ini. Misalnya, kalau kamu mengukur kualitas sekolah, kamu bisa memilih murid sekolah dan orang tua sekolah.
  3. Sadarilah apa yang kamu lakukan. Penting untuk juga bicara dengan organisasi terkait dan stakeholder lain–seperti media massa–di awal-awal penelitian ini. Jangan lakukan belakangan.
  4. Tentukan sampelnya. Perkirakan berapa banyak orang yang diperlukan supaya survei yang kamu lakukan ini memang statistically significant. Kamu bisa mulai dengan menentukan apakah mau pakai jumlah definit (misalnya, 200 orang saja) atau persentase (misalnya, 10 persen dari populasi).
  5. Susun pertanyaannya. Susun pertanyaan kuesionermu, pastikan tetap sederhana. Kamu harus memastikan semua orang bisa memahaminya.
  6. Bersiaplah. Latihlah teman-temanmu untuk melakukan survei dan memahami metode penelitian.
  7. Sebarkan ke orang-orang! Beritahukan survei yang sedang kamu kerjakan ini ke orang banyak.
  8. Tanyakan ke publik. Tanyakanlah ke orang-orang untuk mengetahui pandangan mereka.
  9. Proses hasilnya. Olah data yang kamu temukan dan cari pola-polanya. Fokus pada data yang mencolok, apa artinya itu? Apakah kerja pemerintah buruk di satu hal tertentu?
  10. Sebarkan temuanmu. Biarkan media massa dan lingkungan sekitarmu tahu apakah layanan publik pemerintah sesuai ekspektasi. Sebarkan kekurangan dan kelebihan dari layanan pemerintah.
  11. Rencanakan jangka panjang. Siapa yang akan melanjutkan survei ini di masa depan? Coba petakan bagaimana caramu follow up dengan sektor yang sudah kamu ukur.

4. Pemantauan dan pelaporan dengan memanfaatkan teknologi

Teknologi bisa bermanfaat untuk cara melawan korupsi. Yaitu, dengan melaporkan korupsi dan memfasilitasi keluhan. Laporan bisa dilakukan lewat website, aplikasi, atau telepon. Media sosial terutama sangat efektif untuk memantau korupsi secara real-time. Fasilitas crowdsourcing juga bisa membantu memobilisasi orang dengan cepat. Nah, begini caranya.

  1. Kumpulkan tim yang bisa diandalkan. Cari teman-teman lain yang berminat dan mampu memanfaatkan teknologi untuk lawan korupsi. Pastinya kamu butuh programmer dan designer.
  2. Cari topiknya. Tentukan apa yang mau kamu laporkan dan penting untuk disadari publik. Misalnya, pungli di sekolah, suap-menyuap dengan aparat, atau bahkan transparansi keuangan partai politik.
  3. Manfaatkan platform yang bisa digunakan. Seperti apa kamu mau membuat layanannya? Apakah bentuknya adalah pemetaan seperti Ushahidi.com? Apakah seperti pengumpulan keluhan seperti LAPOR.go.id? Apakah bentuknya dari SMS pengaduan seperti FrontLineSMS.com? Kamu yang paling tahu.
  4. Latih timmu. Kamu harus tahu bagaimana memanfaatkan platform-nya. Siapkan juga kolom Frequently Asked Questions (FAQ) dan laman tanya-jawab untuk menghadapi pertanyaan dari pengguna.
  5. Ceritakan ke orang-orang! Beritahukan ini ke teman-temanmu di media sosial. Teruslah meminta blogger dan selebtwit atau selebgram untuk membantu mempromosikan. Ikuti berbagai macam ajang networking digital yang lazim di antara pegiat startup.
  6. Kumpulkan datanya. Kumpulkan semua data yang kamu dapat dari teknologi itu dan susunlah dalam bentuk laporan.
  7. Beritahukan perkembangannya. Pastikan lingkungan sekitarmu tahu perkembangan dari data temuanmu. Beritahukan orang-orang yang berpengaruh dan sampaikan apa yang diperlukan untuk membuat perubahan.

5. Kreatif dengan komik dan kartun

Komik dan kartun bisa memicu pembicaraan dan debat, apalagi di antara anak muda. Komik dan kartun bisa diakses oleh banyak orang dan juga bisa dibuat orang tanpa perlu punya akses ke produksi media besar. Bermodal Photoshop, Illustrator, GIMP, Toon Boom, atau bahkan sekadar cukup pensil dan kertas, sudah cukup untuk bisa berkarya.

Kita sudah punya banyak teman yang mencoba cara ini. Misalnya Ngomik Maksa dan Komik Azer. KontraS juga kerja sama dengan KOSMIK untuk bikin komik tentang HAM. Dulu juga terkenal Lagak Jakarta karya Benny & Mice. Nah, kenapa nggak kita coba cara mereka?

  1. Pastikan dulu, cocok kah komik dengan rencanamu? Jangan sampai ternyata lingkungan sekitarmu kurang suka baca komik. Pahami juga gaya penyampaian komik beda-beda tergantung daerahnya.
  2. Apa ceritanya? Tentukan apa cerita yang mau kamu sampaikan. Apakah tentang mengungkap korupsi di kampus? Cerita tentang penggusuran paksa yang melibatkan jaringan konglomerat korup? Kisah putus sekolah karena biaya sekolah yang bengkak akibat korupsi? Cerita anak muda mencari cara melawan korupsi? Kamu harus punya bayangan, baru bisa menceritakan suatu kisah.
  3. Siapkan perlengkapannya. Kamu bisa gunakan yang paling sederhana: pensil, pulpen, dan kertas. Bisa juga manfaatkan aplikasi seperti Photoshop, Illustrator, dan/atau SAI. Kamu yang suka gratisan bisa coba GIMP.
  4. Rencanakan juga cara penyebarannya. Banyak cara untuk menyebarkan komik sekarang. Kalau sasaran audiens kamu bukan pengguna internet, kamu bisa fotokopi 100 lembar misalnya. Kalau sasaran audiens kamu pengguna internet rajin, bisa tiru komik-komik online seperti contoh yang disebutkan tadi. Sebar lewat Facebook dan Instagram misalnya.

6. Kreatif dengan teater dan drama

Teater dan drama bisa digunakan untuk memberdayakan warga. Warga bisa mengekspresikan kegelishan mereka soal suatu isu lewat pagelaran teater dan drama. Ini misalnya pernah dilakukan warga Kampung Bukit Duri dengan drama Ciliwung Larung, terkait ancaman penggusuran.

Apakah kamu pelakon amatir atau profesional, apakah kamu lebih tertarik teater boneka atau pentas orang, apakah kamu lebih cocok dengan pentas musik atau stand-up comedy atau poetry slam, kamu bisa membuat lingkungan sekitarmu terlibat dalam upaya membuka wacana tentang antikorupsi lewat teater dan drama.

  1. Tentukan cakupan dan tujuannya. Apakah mau mengangkat isu soal korupsi atau cara melawan korupsi di seluruh Indonesia, di sektor tertentu, atau di lingkungan sekolahmu? Kamu yang memutuskan.
  2. Kumpulkan tim. Cari pegiat seni dan penonton seni yang mau membantumu dalam proses produksi. Bisa dari sekolah, lingkungan sekitar, atau dari pegiat kebudayaan. Bisa juga kamu merekrut teman-temanmu yang berminat.
  3. Pilih pertunjukannya. Pilih jenis pertunjukan yang cocok dengan visimu. Apakah drama, tari-tarian, musik, atau lainnya. Pastikan ini cocok dengan sasaran pengunjungmu dan dengan orang-orang yang kamu rekrut.
  4. Tentukan tanggalnya. Pilih lokasi pertunjukan dan tentukan tanggalnya. Kamu bisa cari gedung pertunjukan setempat, di tempat publik seperti taman, atau bahkan di jalanan dan kompleks perumahan asal punya izin. Kamu bisa periksa panduan mengurus Surat Izin Keramaian yang pernah Youth Proactive susun.
  5. Cari sponsor. Supaya lebih enak, carilah organisasi atau bisnis setempat yang mau mendukung kegiatanmu. Bisa bermanfaat untuk membantu biaya produksi, promosi, perlengkapan panggung, atau lainnya.
  6. Practice makes perfect. Pastikan kamu punya jadwal latihan teratur untuk tiap pemainnya. Latihan pertunjukan seni bisa memakan enam bulan (seminggu sekali) sampai cuma dua minggu. Kalau pemainnya bukan profesional, latihan bisa dilakukan dengan teman-teman terdekat supaya jangan gugup.
  7. Promosikan pertunjukanmu. Manfaatkan teman-teman dan media sosial. Minta juga sponsormu untuk bantu promosi.
  8. Show time! Jangan lupa kamu rekam pertunjukanmu supaya bisa diunggah di media sosial. Perekaman pertunjukan juga penting untuk pembelajaran ke depannya.

7. Kreatif dengan permainan papan (board game) atau bahkan video game

Permainan tak bisa dilepaskan dengan kehidupan sehari-hari kita. Kalau dulu kita sering main Monopoli, Ular Tangga, dan kartu Yu-Gi-Oh, anak muda sekarang pun sering bermain game gadget macam Angry Birds dan Clash of Clans. Nah, permainan ini juga bisa dimanfaatkan untuk topik serius seperti korupsi. Permainan bisa mengembangkan pengetahuan, sikap dan nilai, juga efektif dalam membangun kerja sama.

Kalau video game mungkin terlalu mahal ongkos produksinya, kamu bisa mulai dengan bikin permainan papan (board game). Cara ini, selain lebih murah, juga masih populer untuk sasaran audiens tertentu. KPK memanfaatkan board game dalam kampanye antikorupsi, begitu pula Saya Perempuan Antikorupsi (SPAK). Di kota-kota besar juga ramai kafe-kafe khusus bagi penggemar permainan papan, misalnya The Guild Board Game Cafe di Surabaya.

Kamu pun bisa coba bikin juga, nih.

  1. Tentukan aturan dasarnya. Kamu harus tahu sasaran audiensmu dan konteks untuk memainkan permainan ini. Permainan model apa yang kamu mau buat, peguasaan sumber daya seperti Monopoli kah? Permainan kartu seperti Yu-Gi-Oh kah? Kamu bisa cari berbagai inspirasi di BoardGame.ID.
  2. Rancang, susun, anggarkan. Jangan lupa kamu juga harus punya timeline untuk proses pembuatan permainan ini. Kamu juga harus pertimbangkan hal-hal seperti: dari bahan apa permainan ini akan dibuat (kertas, karton, plastik, dsb)? Berapa banyak yang perlu dibuat dan berapa biayanya?
  3. Cari dukungan. Dekatilah bisnis dan organisasi yang mau membiayai permainan ini. Negosiasikan syarat dan ketentuannya, misalnya apakah mereka bisa mencakup ongkos produksi atau cuma distribusi.
  4. Uji cobalah permainanmu. Mulai rencanamu dan cobalah permainannya dengan focus group sebelum dicoba dengan sasaran. Selama masa percobaan, tanyakanlah pemain apakah mereka masih bingung dengan konsepnya. Pastikan kamu punya instruksi permainan yang jelas di panduan permainannya.
  5. Sebarkan! Ceritakanlah permainanmu dengan teman-teman dan lingkungan sekitarmu. Cara terbaik untuk promosi adalah dengan menggelar turnamen dan mencari kesempatan promosi di acara seperti Popcon Asia yang tiap tahun digelar di Jakarta.

8. Kreatif dengan olahraga

Olahraga pun bisa dicoba untuk meningkatkan perhatian masyarakat soal isu korupsi dan transparansi. Pendidikan antikorupsi lewat olahraga bisa menciptakan suasana fun sekaligus efektif untuk menjangkau anak muda. Semuanya dilakukan di luar kelas, jadi tak terasa seperti menggurui.

Ini misalnya pernah dicoba dengan ToleRUN untuk merayakan keberagaman. Bisa juga kamu coba nih!

  1. Mulai perencanaan. Kamu harus siap sedia paling lambat tiga bulan sebelum acara. Bentuk komite dan atur pembagian kerja. Tentukan pesan apa yang mau dipelajari oleh sasaran audiensmu. Siapkan rencana kerja dan tentukan penganggaran yang memungkinkan.
  2. Pilih tempatnya. Paling lambat dua bulan sebelum acara kamu sudah harus memastikan tempatnya. Kalau balapan, tentukan rute yang paling cocok. Beritahu polisi untuk mengelola jalanan, siapkan tim kesehatan, dan informasikan juga pemerintah daerah setempat.
  3. Kumpulkan peserta! Paling lambat enam minggu sebelum acara kamu sudah harus gencar promosi dan mulai mendapatkan peserta untuk mendaftar. Kamu bisa merekrut dari perusahaan, komunitas keagamaan (lembaga dakwah atau kelompok gereja), dinas pemerintah, atau pendidikan. Bisa juga dari komunitas-komunitas anak muda yang banyak banget.
  4. Siapkan perlengkapan. Sebelum acara dimulai, pastikan persediaan air, tenda-tenda, perlengkapan audio, dan sebagainya sudah tersedia.

9. Mobilisasi dengan kelompok muda

Indonesia punya banyak banget komunitas anak muda. Tiap kelompok muda punya tujuan beda, tapi jelas mereka semua setuju banget buat melawan korupsi dan meningatkan kesadaran masyarakat akan dampaknya sehari-hari. Nah, kamu bisa banget kerja sama dengan komunitas-komunitas muda sebagai cara melawan korupsi. Beragam dari Indonesian Youth Conference, sampai yang memang fokus pada isu antikorupsi seperti KOMPAK Paramadina.

  1. Refleksi. Sebelum kamu buru-buru membuat program, refleksi dulu. Sudah adakah kelompok muda yang bisa membantumu? Apa sih masalah besar korupsi bagi anak muda sekarang? Apa sebabnya? Apa yang bisa dilakukan?
  2. Kolaborasi. Kolaborasi konon jadi ciri utama Generasi Z. Nah kamu pun mesti kolaborasi dengan berbagai kelompok muda, bisa juga dengan kelompok-kelompok keagamaan (lembaga dakwah atau gereja), kelompok ekstrakurikuler sekolah, atau kelompok olahraga.
  3. Tanya teman. Kamu tetap harus bertanya langsung dengan sesama anak muda, misalnya organisasi atau kolaborasi apa yang cocok buat dibentuk? Di mana basisnya dan berapa sering pertemuannya? Bagaimana cara merekrut anggota dan sukarelawan? Apa tujuannya?
  4. Ingat logistik! Kita suka dengan ide besar tapi kadang lupa detil penting. Yang paling penting nih, dananya dari mana? Lalu bagaimana pengelolaannya? Bagaimana melatih rekrutmen baru? Bagaimana melakukan kerja-kerja pengorganisasian? Bagaimana mengukur performa kerja komunitas? Bagaimana ini bisa direplikasi di daerah lain?

10. Mobilisasi dengan integrity camp

Kemah-kemah integritas dan antikorupsi bisa jadi sarana efektif untuk networking di antara anak muda, sekaligus mempelajari cara melawan korupsi dengan santai dan menyenangkan. Model-modelnya bisa kamu bentuk seperti pesantren kilat atau retreat yang sering ada di sekolah, atau dalam bentuk acara outbond lain.

Kamu bisa mencoba cara ini dengan mengumpulkan teman-teman dari sekolah atau kampus untuk terlibat dalam kegiatan outdoor. Bisa sehari sampai seminggu.

  1. Mulai perencanaan. Rencanakan apakah akan dilakukan di luar sekolah/kampus. Biasanya kegiatan outbond dilakukan di luar lingkungan akademis untuk mengganti suasana.
  2. Minta izin. Kalau kamu menggandeng lingkungan sekolah atau kampus, bicarakan dengan pihak akademik untuk mengurus izin atau meminta dukungan logistik.
  3. Tentukan hasilnya. Pastikan harus ada hasil yang dicapai dari outbond, bukan cuma senang-senang saja. Tentukan juga tanggal dan tempatnya.
  4. Siapkan logistik. Mulai dari lokasi, biaya, izin, transportasi, akomodasi, dan pengorganisasian. Minimal sebulan sebelum acara ini sudah harus beres supaya kamu tak terburu-buru.
  5. Cari yang ahli di bidangnya. Kamu mesti kolaborasi dengan pengajar antikorupsi yang memang ahli di bidangnya. Kamu bisa cari pegiat antikorupsi setempat dan tokoh-tokoh dari KPK misalnya.
  6. Kreatiflah! Pastikan semua aktivitas mencakup partisipasi aktif dari peserta. Gunakan juga kompetisi, kegiatan seni, olahraga, dan permainan.

11. Mobilisasi dengan gerakan “zero bribe”

Ini butuh sedikit keberanian, tapi seru banget. Cara ini adalah bentuk untuk menolak praktik suap-menyuap yang masih sering terjadi kalau kita berurusan dengan birokrasi dan aparat.

Taktik ini asalnya dari gerakan “zero rupee” di India. Caranya, setiap kali kamu diminta untuk bayar suap atau pungli, alih-alih membayar dengan uang sungguhan, kamu justru “bayar” dengan kertas yang sekilas mirip uang sungguhan (“zero currency”), tapi begitu dibuka ternyata uang kertas bohongan yang punya pesan antikorupsi.

Seru, ‘kan? Begini caranya.

  1. Sebelum mulai, pastikan dulu ini aman. Pernah ada orang lain yang mencoba cara ini di tempatmu? Apakah ini bakal mengancam keselamatanmu? Pastikan kamu diskusi dulu dengan pegiat antikorupsi yang berpengalaman sebelum memulai ini.
  2. Kumpulkan dukungan. Ajak teman-teman dan keluargamu yang mau ikut. Semakin banyak yang ikut, semakin efektif gerakan ini.
  3. Siapkan bahannya. Unduh “zero currency” untuk mata uang negaramu lewat website www.zerocurrency.org.
  4. Lipat gandakan! Cetak mata uang palsu tadi dengan cetakan berwarna di kedua sisinya. Semakin mirip dengan uang sungguhan, semakin bisa menipu si penerima suap. Pasti mereka bakal kaget begitu sadar kalau itu bukan uang sungguhan!
  5. Bangun momentum. Dorong teman-teman dan keluargamu untuk menyebarkan uang bohongan “zero currency” itu. Sebarkan kabarnya di sekolah, kampus, atau di sudut-sudut kota.
  6. Mulai lakukan bersama. Setiap kali kamu diminta untuk bayar uang rokok, uang pelicin, atau jenis suap/pungli lainnya, bayar saja dengan “zero currency”.
  7. Ceritakan keberhasilanmu. Ceritakan kampanyemu dan doronglah semakin banyak orang untuk ikut serta.
  8. Laporkan. Pertimbangkan untuk melaporkan orang-orang atau instansi yang memintamu untuk membayar suap/pungli.

12. Mobilisasi dengan aksi damai atau unjuk rasa

Aksi damai atau unjuk rasa adalah cara efektif untuk mengumpulkan berbagai kalangan di masyarakat dalam mendukung suatu isu. Tiap hari Kamis, misalnya, ibu-ibu korban pelanggaran HAM sudah melakukan ini di depan Istana Negara dengan Aksi Kamisan. Anak-anak muda sempat juga berkumpul dalam aksi Melawan Gelap waktu ramai pembredelan buku. Tahun 2015 kemarin, kita juga sempat aksi menolak kriminalisasi KPK.

Bagaimana caranya mengumpulkan massa?

  1. Susun pengorganisasian inti. Unjuk rasa butuh banyak rencana dan harus dilakukan dalam kelompok. Pikirkan logistiknya: media massa, izin, perlengkapan, keamanan, transportasi, dan sebagainya.
  2. Tentukan pesannya. Pesan efektif adalah pesan yang singkat dan sederhana. Cari slogan yang cocok untuk kampanyemu. Buatlah supaya catchy.
  3. Tentukan tempat dan waktu. Tempat dan waktu sangat menentukan kapan orang-orang bisa berpartisipasi.
  4. Kabari aparat dan urus izin. Pikirkan siapa yang perlu diberitahukan. Di Indonesia, unjuk rasa memerlukan izin dari kepolisian. Kalau kamu masih sekolah atau mahasiswa, kabari juga pihak sekolah atau kampusmu.
  5. Kumpulkan sukarelawan. Kumpulkan sebanyak mungkin orang untuk membantumu pada hari acara. Gunakan sistem jaringan komunikasi (jarkom).
  6. Sebarkan! Sebuah aksi tergantung pada kesadaran masyarakat luas. Buatlah publisitas sebanyak mungkin: lewat media sosial dan media massa. Manfaatkan cerita dari mulut ke mulut.
  7. Tentukan orator. Orator penting sebagai pusat perhatian aksi. Orator yang bagus bisa mengedukasi peserta unjuk rasa dna publik tentang pesan kampanyemu dan menginspirasi mereka untuk mendukung.
  8. Pastikan keamanan. Keamanan peserta unjuk rasamu sangatlah penting. Mereka adalah tanggung jawab timmu.
  9. Siapkan perlengkapan. Pengeras suara, spanduk, kamera perekam, dan sebagainya sangatlah penting.
  10. Periksa cuaca. Jangan sampai hujan deras di hari unjuk rasa.
  11. Sebarkan pamflet bagi peserta. Kamu bisa membantu peserta dengan menyebarkan pamflet dan brosur untuk membantu mereka memahami isu. Unjuk rasa juga bisa jadi caramu untuk mendapatkan informasi kontak dari tiap peserta untuk kesempatan berikutnya.
  12. Bersihkan sampah! Jangan lupa, kebersihan setelah unjuk rasa juga masih jadi tanggung jawabmu dan setiap peserta.

13. Mobilisasi dengan petisi

Petisi bisa dimanfaatkan kepada para pengambil kebijakan, seperti pemerintah dan pihak yayasan pengelola pendidikan, untuk menunjukkan bahwa ada banyak pendukung pada isu yang kamu angkat. Kamu bisa memanfaatkan petisi online seperti change.org, bisa juga memanfaatkan sarana offline.

Pastinya, petisi ini cuma sarana. Kampanye nggak berhenti cuma di petisi. Tapi sarana ini efektif untuk mengumpulkan dukungan. Nah, gimana caranya?

  1. Tentukan tujuanmu. Apa yang mau kamu capai? Siapa sasaran petisinya? Apa tuntutanmu? Pastikan itu semua jelas di petisimu: apa yang kamu mau dan siapa yang harus melakukannya. Pastikan di lingkungan sekitarmu sudah ada orang-orang yang berpikiran serupa, supaya nggak ngomong sendiri.
  2. Tentukan apakah offline, online, atau dua-duanya. Aturan soal petisi dan efektivitas petisi akan bergantung pada daerah dan isu yang kamu angkat.
  3. Tentukan sasarannya. Apakah pemerintah, kampus, perusahaan, parpol, NGO, atau lainnya.
  4. Teliti sebelum membuat petisi. Pastikan kamu sudah mengumpulkan fakta dan data sebelum kamu memulai suatu petisi. Kamu harus tahu jelas apa yang sedang kamu kampanyekan.
  5. Penggunaan bahasa (wording) harus jelas. Kamu harus menjelaskan dengan singkat dan padat, serta hindari bahasa rumit. Harus bisa menjelaskan apa yang salah dengan isu yang kamu angkat dan sarankan apa yang kita seharusnya butuhkan. Orang biasanya tergugah dengan penyampaian petisi yang menggunakan cerita kemanusiaan (human interest).
  6. Susun rencana pengiriman petisi. Sebelum kamu menyebarkannya, kamu harus tahu bagaimana menyasar orang-orang yang mau menandatangani petisimu. Bisa lewat e-mail, bisa langsung.
  7. Kumpulkan tanda tangan. Setiap tanda tangan berharga. Rekrut sebanyak mungkin orang.
  8. Follow up. Jangan sampai petisimu berhenti di tanda tangan saja. Tindak lanjuti dalam bentuk laporan ke pemerintah atau media massa.

14. Cara melawan korupsi pemilu dengan Sumpah Pemilu

Eits, bukan cuma pemuda yang punya sumpah. Menurut Transparency International, kamu bisa juga bikin Sumpah Pemilu. Apaan tuh maksudnya?

Jadi, Sumpah Pemilu adalah cara gimana kamu meningkatkan kesadaran masyarakat di sekitamru untuk menyelenggarakan dan terlibat dalam pemilu yang bebas dari korupsi. Artinya, jangan sampai masyarakat ikut-ikutan politik uang (memilih karena dibayar) atau melakukan kecurangan dalam hasil pemilu. Ini pernah dicoba di Kepulauan Solomon. Nah, gimana sih Sumpah Pemilu itu?

  1. Buatlah tim. Kamu harus bekerja dengan orang-orang untuk menyusun apa rencana dan hasil akhir yang diinginkan dari pemilu itu.
  2. Tentukan tujuanmu, yang spesifik. Sumpah Pemilu berguna untuk mengangkat apa masalah-masalah yang biasa terjadi selama pemilu selama ini. Biasanya untuk konteks pilkada. Nah, kamu harus identifikasi apa masalah yang terjadi di lingkunganmu. Apakah politik uang, atau tim sukses yang menyamar jadi sukarelawan, atau selebtwit yang berkampanye di luar masa kampanye, dan sebagainya.
  3. Siapkan perlengkapan. Tentukan perlengkapan apa yang bisa dimanfaatkan. Persiapkanlah timmu.
  4. Mulai bekerja. Mulai dengan orang yang bisa menyiapkan rencana kampanye dan timeline.
  5. Rumuskanlah Sumpah Pemilu. Rumuskanlah sumpah dalam bahasa yang sederhana, singkat, dan padat. Pastikan tak ada kepentingan pemilih yang diabaikan. Buatlah dalam gaya Sumpah Pemuda atau Teks Proklamasi, misalnya. Sumpah Pemilu di Kepulauan Solomon misalnya berbunyi,

    “Saya bersumpah akan menolak suap-menyuap, tak akan menerima janji palsu, tak akan menjual suara saya, tak akan terlibat dalam kegiatan korup selama, sebelum, dan sesudah pemilu. Saya juga bersumpah akan menggunakan kesadaran penuh saya untuk memilih dan meminta bantuan Tuhan untuk memilih. Saya bersumpah hanya akan memilih pemimpin yang jujur.”

  6. Publikasikan! Publikasikan kampanyemu dan kumpulkan dukungan sebelum dirilis.

15. Cara melawan korupsi pemilu dengan crowd-sourcing

Korupsi politik adalah salah satu korupsi paling berbahaya. Salah satunya dilakukan dengan memanipulasi suara. Kamu bisa bergabung jadi sukarelawan KPU pemantau pemilu untuk mencegah terjadinya manipulasi suara. Kamu bisa juga memanfaatkan crowd-sourcing dengan teknologi untuk memantau pemilu. Waktu Pilpres 2014 kemarin, ada inisiatif Kawal Pemilu untuk memastikan hasil pemilu konsisten.

Kamu pun bisa mencoba cara itu. Misalnya dengan tweet hasil suara di TPU masing-masing.

  1. Buatlah tim. Pastikan timnya digital savvy dan mau memastikan pemilu berlangsung bersih.
  2. Tentukan alatnya. Apakah kamu mau mengawal lewat media sosial, lewat website seperti Kawal Pemilu, atau dua-duanya.
  3. Rencanakan! Susun timeline supaya bisa diikuti setiap anggota kelompok.
  4. Mulai kerja. Putuskan bagaimana berinteraksi dengan pemilih dan bagaimana supaya pemilih bisa berdiskusi dengan timmu. Tentukan siapa anggota tim yang bertanggung jawab.
  5. Luncurkan! Luncurkan sebulan sebelum pemilu. Promosikan dan publikasikan sebanyak mungkin supaya orang mengenalinya.
  6. Kumpulkan hasil pemilu. Saat hari H, kumpulkan setiap data dan susun jadi laporan.
  7. Publikasikan. Publikasikan laporan dan keberhasilan pemantauan pemilu. Pastikan untuk berterima kasih kepada tiap orang yang terlibat.

Nah, itulah 15 cara kampanye kreatif antikorupsi yang ditawarkan Transparency International. Kalau mau tahu lebih lengkapnya lagi, kamu bisa lihat brosur 37 halaman yang bisa dibaca online atau dinduh di website Transparency International.

Pastinya, habis ini kamu tahu caranya mengangkat isu antikorupsi di sekitarmu, ‘kan? Good luck, ya!

 

Sharing is caring!
Share on Facebook2Tweet about this on Twitter1Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

One response to “15 Cara Kreatif Melawan Korupsi, Dimulai dari Sekitar Kita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *