Diskusi mengenai startup di kalangan anak muda
Anak Muda dan Dunia Startup. Foto: visualhunt.com

Startup: Don Quixote Ekonomi Indonesia

Keterpukauan Indonesia dengan hal-hal berbau digital sudah di level yang ‘menarik’. Setelah program 1000 Startup Digital Indonesia, TNI pun ikut serta dalam meluncurkan hackathon. Institusi yang kedua paling tertutup setelah BIN ini—karena menyangkut pertahanan dan keamanan negara—mencoba membuka diri yang kemungkinan besar hanya untuk terlihat relevan.

Ada hero delusion—tidak beda dengan yang dialami Don Quixote—bahwa sektor digital dapat menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan. Iklan 1000startup digital pun mencoba menjaring anak-anak muda yang ambisius dan penuh harapan serta oportunis tentunya. Idenya adalah bahwa permasalahan Indonesia dapat diselesaikan dengan beberapa baris kode. Lagi-lagi, sebuah hal yang ‘menarik’.

Jika delusi Don Quixote disokong oleh Sancho Panza maka startup disokong oleh negara. Negara seakan menutup mata terhadap digital divide yang nyata ada. Bukan hanya divide dalam akses tetapi juga literasi, menurut LIRNEasia, 56% dari pengguna facebook di Indonesia mengatakan tidak sedang menggunakan internet. Apabila terdapat 93 juta pengguna internet di Indonesia, maka dapat dikatakan bahwa lebih dari 45 juta dari mereka tidak menyadari perbuatan mereka.

Dan kemudian, para hero startup—para techies dan simpatisan techies—berdelusi bahwa kehadiran mereka akan membuat segalanya lebih baik, bahwa semua orang se-connected dirinya.

Lalu bagaimana dengan mereka yang mengaku terliterasi secara digital? Saut Situmorang yang dikenakan UU ITE pasal 27—sebuah pasal yang seharusnya tidak ada—menuntut Facebook untuk bersikap karena menurut hematnya, mayoritas korban UU ITE  adalah pengguna Facebook. Ia berargumen bahwa karena dirinya adalah customer Facebook, maka Facebook perlu prihatin kepada korban-korban seperti dirinya.

Dari argumen tersebutlah dapat dilihat jika klaim bahwa seorang memiliki literasi secara digital terbukti sekedar klaim. Hal ini karena konsep customer sendiri memiliki pengertian sebagai seseorang yang membayarkan sejumlah uang untuk barang/jasa.

Singkatnya, bagaimana mungkin seseorang yang menggunakan platform gratis dapat mengklaim dirinya sebagai customer? Apakah Saut kurang paham konsep customer atau ia melihat Facebook sebagai entitas yg berbeda (misalnya sebagai sebuah negara mungkin)?

Facebook adalah platform gratis berbasis online—bagi kalian yang bagian dari digital divide yang lain—dan menuntut mereka atas hal-hal yang berada diluar kewenangannya adalah, sekurang-kurangnya, konyol.

Mengingat kata pepatah: Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak.

Lagi-lagi, isu yang digembar-gemborkan publik internasional seperti net neutrality, Facebook dan Google yang memiliki potensi sebagai ‘Big Brother’ dan Piratebay, seakan mudah terangkat ke permukaan dan dibahas semua orang agar merasa relevan menjadi ‘bagian dari global village yang dinamakan internet’.

Isu-isu seperti ‘kecurangan’ Telkom atau ‘ketidakadilan’ harga paket internet menjadi masalah yang seakan tidak memiliki dampak dan mudah terlupakan.

Kebisingan di taraf global membungkam hal-hal yang penting di level nasional dan sepertinya masyarakat senang berdelusi bahwa semua masalah dapat diselesaikan secara digital. Jika pemahaman masyarakat mengenai internet belum tuntas dan ditambah persebaran akses internet yang belum merata, apakah melompat ke arah pembangunan aplikasi dan usaha berbasis teknologi merupakan keharusan?

Jika hal yang ingin dicapai adalah untuk menaikan daya saing, mungkin saja bisa terjadi. Hal ini dikarenakan Forbes menunjukkan bahwa 9 dari 10 startup kemungkinan gagal. Semoga negara yang mendorong delusi para hero ini siap menampung ribuan anak muda yang tidak siap gagal dalam mendaki bukit untuk menggapai sepotong kue ekonomi tersebut.

Hal ini mungkin didasari oleh pendidikan kolektif yang selalu menjadikan masyarakat sebagai pengguna. Oleh karena itu, penting untuk kembali memikirkan prioritas dalam menumbuhkembangkan potensi anak muda, bagaimana harapan buta dengan data setengah matang justru memiliki dampak membahayakan.

Kita perlu tahu dimana posisi dan potensi kita; jangan sekadar mencoba menjadi relevan dan melompati syarat dasar pembangunan (pendidikan, infrastruktur, transfer pengetahuan), atau kita hanya akan menjadi negara hipster dengan SDM yang hanya bisa mengkonsumsi bukan produksi.

Pada akhirnya, jika dipasangkan dengan cerita sukses dari Jobs, Gates, dan Zuckerberg yang seakan-akan zero to hero, masyarakat kita hanya menerkam maju tanpa pengetahuan nyata mengenai sektor yang ingin dibangun. Alih-alih ingin membangun ekosistem digital yang progresif, anak-anak muda ambisius ini hanya dijadikan sekadar kelinci percobaan.

Hufft.

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *