Bahaya dari cyber bullying
Cyber Bullying. Foto: VisualHunt

Anak Muda Melawan Cyber-Bullying

Era digital seperti saat ini bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, memiliki fungsi edukasi melalui banyaknya informasi yang tersebar, namun disisi lain dapat memiliki efek negatif yang kerap kali justru dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk kepentingan diri sendiri.

Salah satu subjek yang paling melekat pada era digital adalah anak muda. Selaku aktor utama, banyak sekali perkembangan era digital dengan generasi muda. Dimulai dari postingan mengenai motivasi, kuliner, pendidikan bahkan hingga sebuah jenis kejahatan yang baru banyak dikenal yaitu cyber-bullying.

Bullying merupakan suatu sifat yang tidak menyenangkan antar-individu secara berulang. Bullying bukan hanya akan berdampak secara psikologis, namun juga akan berdampak secara fisik seperti bunuh diri, cacat, dan lain sebagainya. Berkaca pada kemajuan zaman, maka praktik bullying saat ini telah berpindah ke dalam medium digital yang dikenal dengan cyber-bullying.

Hal ini menjadi sangat menakutkan karena bullying dalam konteks ini dapat diketahui oleh orang secara luas. Melalui media sosial, komentar-komentar yang bersifat bullying dapat dibaca oleh netizen, yang bahkan bukan termasuk dalam jaring pertemanan kita di sosial media. Hal ini tentu saja akan berimplikasi buruk ke dalam perkembangan dan kehidupan seseorang.

Praktik cyber-bullying dari dalam negeri dapat dilihat dari kisah Sonya Depari Sembiring. Ia merupakan siswi SMA yang sempat tertangkap oleh polisi wanita di Medan sesaat setelah pengumuman Ujian Nasional (UN). Hal buruk yang terjadi kemudian adalah banyaknya serangan digital yang mengarah kepada Sonya.

Lebih luas daripada itu, meskipun yang diserang Sonya secara personal, ternyata Bapak dari Sonya juga harus menerima efek buruk cyber-bullying tersebut—yang akhirnya meninggal dunia karena tidak sanggup melihat anaknya dibully di berbagai media.

Kisah pilu lain adalah mengenai Amanda Todd. Ia mengalami bullying di semua sekolah yang dijalaninya baik secara fisik maupun dalam dunia digital. Singkatnya, karena tidak sanggup menahan akan semua hal tersebut Amanda memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Dari pengalaman pahit tersebut, Ibu dari Amanda membuat sebuah organisasi bernama Amanda Todd Trust, yang berkonsentrasi kepada isu-isu bullying.

Pelajaran yang dapat diambil dari bahaya cyber-bullying adalah bahaya yang dapat diterima bisa lebih luas dibandingkan bullying secara fisik itu sendiri, karena dapat mengakibatkan hal buruk terhadap keluarga ataupun rekan sekitar.

Guna mencegah munculnya bullying di berbagai keadaan, terdapat sebuah komunitas yang akan mengkampanyekan anti bullying di Indonesia yaitu Sudah Dong!.

Komunitas ini sudah berada di empat kota Indonesia yaitu, Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Aceh. Keberadaan mereka diinisiasi oleh Katyana Wardhana dan sejumlah pemuda yang peduli terhadap isu bullying. Beberapa anggota dari komunitas ini adalah korban bullying sehingga mereka dapat memahami dampak buruk dari bullying.

Komunitas Sudah Dong! memiliki dua program yaitu program offline yaitu melakukan workshop ke berbagai sekolah dari yang terpelosok hingga ke Ibukota dan program online dengan mengedukasi pengguna media sosial dengan berbagai macam info yang terkait dengan isu-isu bullying. Selain itu, komunitas ini juga melakukan kampanye bersama dengan komunitas lain terkait isu-isu anak; bahkan berkesempatan menjadi narasumber di salah satu stasiun televisi swasta dengan tema “Tegar di-Bully.”

Saat ini Sudah Dong! memiliki program “Satu Juta Buku”, yaitu program pembagian buku yang sebagai bentuk pencegahan bullying yang dapat digunakan oleh siapa pun; baik korban ataupun pelaku bullying, orang tua maupun guru sekolah. Sesuai dengan judulnya, buku ini akan disebarkan sebanyak 1.000.000 eksemplar di seluruh Indonesia dan dapat diunduh di website sudahdong.com/bukupanduan.

Pemuda adalah generasi masa depan bangsa. Tentu perjalanan tersebut bukan hal yang mudah di zaman yang penuh tantangan ini. Untuk itu keberadaan Sudah Dong! dapat komunitas yang berdampak karena turut mengawal perkembangan anak muda.

STOP BULLY! BE BUDDY!

Tentang Mochammad Lanrega Hafiz

Mochammad Lanrega Hafiz atau yang akrab dikenal Rega adalah seorang pemuda kelahiran Jakarta. Menamatkan bangku perkuliahan S1 di Institut Pertanian Bogor dan S2 di Magister Manajemen Universitas Indonesia. Rega saat ini aktif bervolunter di beberapa NGO salah satunya adalah Sudah Dong!, sekaligus menjadi speaker di beberapa event bertema anak muda. Baca tulisan lain dari penulis ini