Aktivis Migrant Care berunjuk rasa memperingati Hari Buruh Migran Sedunia di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Selasa (18/12/2012). Mereka antara lain mendesak Pemerintah untuk memberikan perlindungan kepada buruh migran sebagai penyumbang devisa negara dari tindakan kekerasan hingga ancaman hukuman mati sebagai tanggung jawan konstitusi
Aktivis Migrant Care berunjuk rasa memperingati Hari Buruh Migran Sedunia di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Selasa (18/12/2012). Mereka antara lain mendesak Pemerintah untuk memberikan perlindungan kepada buruh migran sebagai penyumbang devisa negara dari tindakan kekerasan hingga ancaman hukuman mati sebagai tanggung jawan konstitusi. Foto Kompas/Heru Sri Kumoro

Buruh Migran Rentan Terjebak Sindikat Peredaran Narkoba Internasional

Penanganan masalah peredaran narkoba di Indonesia dinilai terlalu fokus pada pemberian hukuman pada kurir. Pemerintah dianggap tidak memiliki komitmen untuk menelusuri dan membongkar jaringan sindikat yang disinyalir melibatkan banyak pihak.

Dalam kasus Rita Krisdianti, seorang buruh migran yang ditangkap membawa paket narkoba seberat 4 kilogram di dalam tasnya di Malaysia, aktivis Migrant Institute Nursalim melihat adanya kejanggalan dalam proses penangkapan. Nursalim menganggap seharusnya 6 petugas yang menangkap Rita menahan aksinya hingga saat Rita bertemu dengan seseorang dan memberikan tas yang berisi narkoba tersebut.

“Ketika itu, Rita langsung ditangkap dan di BAP di bandar,” papar Nursalim saat mengantarkan presentasinya pada kegiatan diskusi ‘Buruh Migran dan Hukuman Mati’ yang diselenggarakan oleh Koalisi Masyarakat Sipil untuk Penghapusan Mati di ASEAN, di Plaza Indonesia, Jakarta (07/09).

Alih-alih menelusuri dan membongkar sindikat peredaran narkoba, pemerintah cenderung menjatuhkan hukuman mati kepada orang yang menjadi kurir. “Jaringan narkotika senang jika orang yang tertangkap itu segera dihukum mati. Karena bagi mereka, ketika mereka dipelihara dalam penjara, itu akan menimbulkan ketakutan bagi mereka jika jaringan mereka terbongkar atas pengakuan atau kesaksian dari para narapidana,” papar Senior Advisor Human Right Working Group Chairul Anam yang juga turut menjadi pembicara diskusi. “Hukuman mati itu melanggengkan rantai narkotika.”

Selain menutup peluang pembongkaran sindikat, sasaran pemberian hukuman mati yang diberikan dinilai tidak tepat. Pasalnya, buruh migran disini kerapkali menjadi pihak yang dikorbankan sebagai kurir. Menurut peneliti Migrant Care Wahyu Susilo, terdapat tren penggunaan buruh migran sebagai kurir oleh sindikat peredaran narkoba. “Buruh migran yang juga seringkali terjebak dalam perdagangan manusia kemudian terperangkap ke dalam sindikat peredaran narkoba,” paparnya.

Dengan mengutip data Kementerian Luar Negeri, Nursalim mengatakan bahwa dari sekitar 205 WNI yang terancam hukuman mati, 58% di antaranya terjerat kasus narkoba yang juga merupakan buruh migran.

Tren ini menurut Chairul mengkhawatirkan karena mengorbankan buruh migran. “Awalnya kurir mereka adalah orang mereka sendiri, karena begini, maka mereka semakin kuat jaringannya karena yang digunakan adalah buruh migran. Jadi tidak ada keuntungan apapun dengan praktek hukuman mati.”

Kerentanan ekonomi merupakan faktor yang menurut Nursalim sering menjebak buruh migran menjadi kurir narkoba. Sindikat narkoba, menurut Nursalim “tahu posisi buruh migran yang kondisi ekonominya buruk,” ungkapnya.

Dalam contoh buruh migran asal Filipina, Mary Jane terjebak saat diiming-imingi oleh tetangganya Maria Kristina Sergio akan mendapatkan pekerjaan di Malaysia sekembalinya dari Indonesia. Saat pergi ke Indonesia, Kristina memasukkan 2,6 kilogram heroin ke dalam tas yang diberikan kepada Mary Jane untuk di bawa ke Indonesia tanpa sepengetahuannya.

Demikian pula pada kasus yang menimpa Rita Krisdianti. Rita diiming-imingi bisnis baju dan kain sari oleh teman yang ditemuinya di Macau yang berinisial ES dan RT. Namun, ternyata tas yang semula diketahui Rita hanya berisi sejumlah kain juga berisi 4 kilogram sabu.

Rita yang ketika itu seharusnya dipulangkan ke Indonesia setelah menerima pemutusan hubungan kerja oleh majikannya di Hong Kong justru dikirim ke Macau. Dalam pasal 59 UU No 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri, disebutkan bahwa buruh migran harus dipulangkan terlebih dahulu ke Indonesia jika perjanjian kerjanya telah berakhir.

Dalam masa penantian kerja di Macau, Rita sama sekali tidak mendapatkan perlindungan. Dalam kondisi hidupnya yang rentan, ES dan RT memberikan banyak bantuan untuk memenuhi hidup Rita. Kepercayaan yang telah terbangun ini menurut Nursalim menimbulkan tidak adanya kecurigaan terhadap ES yang ternyata bagian dari sindikat narkoba. “Terbangunlah trust. Posisi itu membuatnya tidak bisa mengelak ketika teman yang dipercaya ternyata menjadi pelaku narkoba.”

Modus lain yang digunakan oleh sindikat narkoba selain memanfaatkan kerentanan buruh migran adalah dengan menjalin asmara dengan buruh migran. Modus ini dicontohkan oleh Nursalim pada kasus yang dialami oleh Merry Utami. Merry Utami dijebak oleh kekasihnya Jerry anggota sindikat narkoba yang mengaku berkewarganegaraan Kanada. Merry yang dititipi tas oleh kekasihnya itu tidak mengetahui bahkan mencurigai isi tas tersebut. “Namanya pacaran kan dititipi barang apapun tidak curiga,” tutur Nursalim saat ditemui Youth Proactive pasca kegiatan diskusi selesai.

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

One response to “Buruh Migran Rentan Terjebak Sindikat Peredaran Narkoba Internasional

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *