Haris Azhar dalam aksi #MelawanGelap
Foto: KontraS

#SayaPercayaKontras, Kamu?

Sebagai anak muda, menyuarakan kebenaran ketika melihat kesalahan orang atau pihak lain sering kali kita dengar sebagai sesuatu yang harus kita lakukan di tiap tahapan lembaga pendidikan. Mengungkap sesuatu menjadi satu tanda bahwa sistem pengawasan berjalan bukan cuma tertulis hitam di atas putih. Hal inilah yang dilakukan Haris Azhar di dunia advokasi bersama KontraS.

Tapi apa yang dilakukan Haris Azhar—mengungkap bisnis narkoba hasil investigasinya dengan terpidana mati kasus narkoba Freddy Budiman—mendapat reaksi negatif.

Setidaknya sampai hari ini, testimoni Haris Azhar yang dimuat di twitter @KontraS pada 28 Juli 2016 membuat dirinya berstatus sebagai terlapor atas pelanggaran Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi (UU ITE). Tidak main-main, proses pelaporan Haris Azhar dilakukan oleh tiga institusi negara yakni Kepolisian, Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan juga Badan Narkotika Nasional (BNN). Sanksi hukum kini tengah mengancam Haris Azhar.

Dengan bergulirnya kasus Haris Azhar, dapat kita lihat bersama bahwa menyuarakan dan mengungkapkan kebenaran akan menemui hambatan yang besar. Pihak pengungkap atau whistleblower akan berhadapan dengan ketersinggungan pihak yang terungkap hingga ke sanksi hukum.

Pengungkapan yang dilakukan Haris Azhar sejatinya adalah upaya reformasi institusi hukum di negeri ini. Youth Integrity Survey 2013 yang dilakukan oleh Transparency International Indonesia menempatkan Polisi dan TNI sebagai institusi yang minim mendapat kepercayaan anak muda. Isu soal ada oknum aparat yang bermain di bisnis narkoba juga sudah menjadi rahasia umum yang beredar di masyarakat. Survei Imparsial tahun 2011 misalnya, menunjukkan 61,2% warga Jakarta tidak puas pada kinerja Polisi.

Apa yang Bang Haris ungkap bukan hal aneh bagi banyak orang, hingga muncul hashtag #SayaPercayaKontras sebagai bukti kapabilitas Bang Haris dkk serta bentuk dukungan terhadap proses hukum yang menjerat dirinya.

KontraS dan Haris Azhar bukan kali ini saja tiba-tiba mengungkap hal-hal yang berkaitan dengan kemanusiaan. Dirinya bersama sekalangan aktivis kerap kali menyuarakan isu-isu kemanusiaan, seperti pengungkapan kasus Munir, pengungkapan kasus HAM 1965 dan 1998, dan satu yang paling menonjol ialah penentangan penerapan hukuman mati sejak KontraS berdiri di tahun 1998. Integritas dan kontribusi Bang Haris bagi perbaikan kualitas kemanusiaan sudahlah sangat teruji.

Negara seharusnya bisa melihat whistleblowing system sebagai cara warga negara untuk saling berbenah dan memperbaiki diri. Bukannya justru membatasi pengungkapan publik dengan memfasilitasi pihak yang merasa tidak senang dengan pengungkapan.

Pengungkapan harusnya diusut terlebih dahulu untuk diuji kebenarannya, barulah jika ternyata lewat mekanisme pembuktian hukum pengungkapan hanyalah berisi fitnah, negara bisa memprosesnya sebagai perbuatan tidak menyenangkan.

Negara kita memang belumlah tuntas mencari solusi yang tepat untuk urusan ini. Padahal proses pengungkapan atau whistleblowing hadir untuk menyiasati ketimpangan kekuasaan antara pihak pelapor dan yang terlapor. Hadirnya pasal-pasal ancaman di UU ITE, proses whistleblowing bagaikan menemui halangan berat.

Terbukti setelah pemberlakuan UU ITE, banyak kasus pencemaran nama baik bergulir di negara ini. Beberapa yang menyedot perhatian publik ialah kasus Prita Mulyasari melawan tirani rumah sakit internasional, hingga yang terkini ialah Haris Azhar yang mengungkap praktik narkoba dari oknum di tiga lembaga negara. Data menunjukkan lebih dari 130 orang yang terjerat regulasi yang tidak punya indikator yang jelas ini.

Kita harus ingat bahwa Polisi dan TNI yang punya tingkat kepercayaan minimal di masyarakat, seperti dibuktikan Youth Integrity Survey 2013 dan survei Imparsial 2011. Bisa jadi ketika kamu mengeluhkan hal-hal janggal dan pelanggaran layanan publik di media sosialmu, UU ITE bersiap menjeratmu.

Maka mari suarakan #SayaPercayaKontraS agar upaya kita membuat kehidupan lebih baik di kemudian hari tidak lagi harus tersandung masalah-masalah laten di negara ini.

#SayaPercayaKontraS, kamu?