seorang anak memakai kostum superman, satya dan pahlawan

Satya dan Pahlawan

Satya suka sepeda barunya. Ia mengayuhnya keliling kompleks, dari ujung ke ujung, pada mulanya. Lama-lama, ia menuju jalur sebelah. Mama tahu, tetapi hanya berpesan hati-hati. Menyenangkan sekali, walau sesederhana itu.

Ia mengayuhnya menuju tempat yang lebih jauh lagi. Asalkan sudah pulang sebelum Mama pulang kantor tak apa, pikirnya. Ia mulai bersepeda di jalan di luar komplek, tetap berada di tepian dan menyeret sepedanya ketika menyeberang. Ada banyak anak-anak lain di luar dan ia mengenal beberapa di antaranya.

Satya menyukai sepeda barunya.

#

Dia libur, mama pergi ke luar kota. Papa ke rumah nenek untuk menjenguk saudara nenek yang sedang sakit. Satya tak punya teman di rumah, Satya mengambil sepedanya dari garasi. Melewati mobil keluarga, melewati sepeda motor mama, dengan cueknya tak mau mengusik kucing mereka yang tidur menggulung di dekat pilar. Ia membuka pagar dengan mendorongnya kuat-kuat, hingga berbunyi berisik. Seekor kucing di rumah tetangga terkejut dan melompat dari atas pagar, berlari seperti kuda.

Satya mengayuh sepedanya, melewati jalan komplek yang masih sunyi. Aldo sepertinya belum bangun, Satya melewati rumahnya pelan-pelan, menengok lama-lama tetapi memang belum ada tanda-tanda kehidupan di rumah bercat biru itu.

Keluar dari komplek lagi sepertinya tidak apa-apa. Satya mengayuh, mengayuh, dan terus mengayuh hingga akhirnya berbelok ke kiri, menjumpai jalan raya yang juga baru setengah hidup.

Namun di seberang sana, ibu penjual nasi uduk sudah menggelar dagangannya. Sudah rapi semuanya bersusun di atas meja. Satu pelanggan datang dan si ibu dengan cepat meninggalkan meja untuk menyiapkan segala sesuatunya di bagian belakang warung. Sepertinya teh panas dan nasi uduk yang seperti biasa. Satya tak membawa uang sepeser pun, padahal masakan itu kelihatan begitu menggiurkan.

Ia melewati seorang penyapu jalanan yang pulang bertugas. Juga seorang wanita muda yang bergegas menuju minimarket dua puluh empat jam di depan sana.

Tempat sampah besar di tepi jalan sudah dibersihkan, tetapi ada bungkus-bungkus baru. Seseorang bahkan melemparkan sebuah bungkusan baru saat Satya mendekati kotak dari semen itu.

Seorang bapak mendekati tempat sampah, karung di punggungnya. Satya berhenti dan menelengkan kepala saat si bapak membuka bungkusan besar yang baru dilemparkan. Seekor kucing melompat dari bagian atas tempat sampah, Satya tertegun. Itu kucing yang tadi terkejut di depan rumahnya. Ia berlari, dan si bapak menyadarinya.

“Awas!”

Semua terjadi dengan cepat, Satya seakan menyaksikan film di depan matanya, tetapi tidak ada yang tragis kali ini, syukurlah. Ia sendiri terengah-engah, tetapi si bapak tampak tenang dan mengembalikan si kucing ke bagian atas tempat sampah. Mengelus tengkuknya dan ia sepertinya juga mengucapkan salam.

Satya mengerjapkan matanya lebih cepat.

#

“Ada yang ingin Satya beli, ya?”

Satya masih mengguncang tabungannya. Kaleng dengan gambar superhero kesayangannya di bagian luar. Tak berbunyi, berat, dan ia tersenyum ketika mengulangi guncangannya. Satya mencueki Mama sampai Mama menggeleng-geleng.

“Satya mau beli apa, Nak?”

“Harga kain berapa, ya, Ma?”

“Kain buat apa?”

“Buat jubah, Ma.”

Kening Mama berkerut. “Jubah apa? Baju superhero, ya? Bukannya kita sudah beli bulan kemarin? Yang warna merah. Ingat, ‘kan?”

“Iya. Bukan buat Satya, kok, Ma.” Satya meletakkan tabungannya ke atas meja makan dan ia menatap Mama sepenuh hati. “Satya mau beliin buat bapak yang kerja di luar komplek sana.”

Mama tertawa kecil. “Satya, Nak, kenapa kita harus membelikan orang asing sebuah baju?”

“Bapak itu sudah melakukan sesuatu, Ma. Dia keren, dia berhasil menyelamatkan seekor kucing dari mobil besar yang ngebut di jalan raya depan komplek. Sungguh!”

“Satya kenal bapak itu?”

“Enggak. Tapi rasanya Satya sering lihat bapak itu di tempat yang sama beberapa kali, kok, sebelum ini. Waktu Satya bersepeda keluar komplek setiap sore atau pagi Sabtu dan Minggu.”

“Bapak itu di mana?”

“Di tempat sampah.”

Mama diam. Satya mengamati cara Mama berekspresi. Bola matanya yang berputar, dan cara dia berdecak.

“Bapak itu hebat, Ma!”

“Iya, iya, Satya, Mama mengerti kata-kata kamu. Tapi dia ‘kan hanya menyelamatkan seekor kucing. Dan dia pemulung. Superhero sesungguhnya melakukan hal yang sangat, sangat luar biasa. Misalnya, menyelamatkan orang-orang dari gedung yang runtuh.”

Satya menyilangkan tangan di depan dada, mulai cemberut. “Tapi itu cuma ada di film, Ma. Di dunia nyata ‘kan nggak pernah ada gedung runtuh.”

“Ada, Sayang. Satya belum pernah melihatnya saja.”

Satya menggoyang-goyangkan kakinya dengan cepat di bawah meja.

#

Besok sore, Satya menemukan bapak yang sama. Mengorek-ngorek tempat sampah yang sama, yang sekarang penuh dan berantakan. Satya berhenti beberapa meter di dekat tempat sampah.

Kucing yang sama menemani si bapak. Ia bertengger di bagian atas tempat sampah dan menunggu, mengamati si bapak membuka-buka plastik dan mengorek onggokan sampah berlalat.

Si bapak menemukan sebuah kotak styrofoam. Masih ada sisa nasi, sayur, juga tulang-belulang ayam di dalamnya. Si bapak mendekati kucing itu dan memberikan tulangnya. Si kucing menerima, melahapnya dengan cepat, si bapak menepuk tengkuknya, lalu lanjut bekerja.

#

“Mama, aku benar-benar ingin membelikan bapak itu jubah.”

“Sayang, pemulung nggak mungkin pakai baju superhero.”

Satya menelengkan kepala. “Apa itu artinya nggak boleh?”

“Bukan nggak boleh.” Mama mengeringkan tangan, menjauh dari wastafel, tetapi Satya masih mengekorinya. “Tapi, Satya yakin? Dia hanya menyelamatkan seekor kucing dan memberinya makan. Banyak yang melakukan itu, Nak. Satya juga sering, ‘kan?”

“Satya nggak pernah lihat orang lain nyelametin kucing dengan berani kayak gitu, Ma.”

Mama mengembuskan napas panjang, lalu menunduk dan mengelus ubun-ubun Satya. “Sekarang Satya datang ke ruang kerja Papa, ya. Minta ajari Papa membaca. Kalau sudah selesai, datang ke Mama, Mama bakal dongengin sesuatu buat kamu.”

Satya menghentak-hentakkan kakinya. Mama berlalu.

#

Satya menyandarkan sepedanya pada tembok tempat sampah.

“Pak. Halo.” Satya mengulurkan tangan. “Namaku Satya.”

Si Bapak termangu. Satya masih mengulurkan tangannya, bergeming menunggu.

“Tangan Bapak kotor, Nak.”

“Nggak apa-apa. Aku bisa cuci tangan habis ini, kok, Pak.”

Mereka bertatapan dan Satya mengangguk keras-keras.

“Totok, Nak. Terima kasih.” Ia kikuk, merasa bersalah dan menghindari tatapan ingin tahu Satya. “Nak, mundur sedikit nggak apa-apa. Jauh-jauh aja dari sampah. Nanti Satya bau.”

Satya tak menjawab, dan mundur sedikit. Berjongkok mengamati Pak Totok membongkar sampah dan mengumpulkan botol-botol plastik, gelas bekas air mineral, dan menyisihkan kardus-kardus yang basah.

“Pak, Bapak suka superhero, nggak?”

Pak Totok masih bekerja, hanya melirik sesaat, tetapi menjawab dengan suara yang ramah, “Apa itu superhero, Nak?” tangannya memilah dua botol yang rusak, menimbang-nimbang, tetapi kemudian memasukkan keduanya ke dalam karung.

“Kata Mama, sih, pahlawan.”

“Ooh. Tahu. Bapak suka pahlawan.”

“Pahlawan bagusnya dikasih apa, ya, Pak?”

Kucing yang sama, yang meninggalkan tembok, mendekat pada Satya sembari Satya menunggu Pak Totok. Satya mengulurkan tangan, si kucing menyambut ramah dengan mengelus-eluskan kepalanya pada telapak tangan Satya.

“Dikasih doa aja, deh, Nak.” Pak Totok berdiri lalu menyeka keningnya yang terbakar matahari seharian, yang berkeringat hingga mengkilap dan topi lusuhnya ia gunakan untuk mengipasi diri. “Mereka ‘kan sudah berjasa besar. Tapi, kalau Bapak, yang nggak punya apa-apa ini, lebih baik memberi doa saja.”

Satya mengangguk-angguk dan bibirnya membentuk huruf ‘o’, cukup lama.

“Satya suka pahlawan?”

“Suka, suka banget!” Satya sangat bersemangat. “Tapi benar, ya, Pak, kalau mau jadi pahlawan itu harus melakukan hal besar dulu?”

“Nggak juga.” Pak Totok berjalan memasuki tempat sampah, mengorek lebih dalam sampah-sampah yang berbungkus dan berhamburan tak karuan. “Neneknya Bapak dulu memasak buat para prajurit waktu perang kemerdekaan. Bapak juga menganggap dia pahlawan. Dia berjasa, Nak. Dia memberi makan para prajurit. Kalau nggak ada neneknya Bapak, prajurit mau makan apa? ‘Kan mereka jadinya nggak bisa berperang dan merebut negara.”

“Mmm. Gitu.” Satya mengangguk-angguk. Dia terdiam sesaat. Kemudian, dia tersenyum, “Kalau begitu, Pak, semoga Bapak sehat selalu dan dapat banyak uang supaya bisa makan enak setiap hari.”

Pak Totok tertegun, lalu memandang Satya heran. Satya nyengir lebar.

Tentang Annisa Yumna Ulfah

Annisa Yumna Ulfah, adalah seorang penyuka dunia literasi dan sejarah, juga tertarik dengan dunia astronomi, traveling dan fotografi, dan seni-seni yang berkaitan dengan alam. Selalu ingin tahu dan selalu melirik mengamati, loving both coffee and tea! Baca tulisan lain dari penulis ini