tangan sedang mengisi hasil survei salah

Masihkah Kita Percaya dengan Survei?

Fenomena #BREXIT mendadak menjadi trending topic baik di media sosial, media massa, maupun forum diskusi saat ini. Hal ini terjadi menyusul hasil referendum Uni Eropa yang dilakukan di Inggris pada hari Jum’at (24/6) bulan Juni lalu. Referendum yang diikuti sekitar 72% penduduk Britania Raya (Inggris, Wales, Skotlandia, dan Irlandia Utara) menghasilkan keputusan bahwa mereka akan keluar dari Uni Eropa.

Berbagai dampak negatif bermunculan akibat keputusan tersebut, mulai dari mata uang poundsterling yang melemah, kekhawatiran warga Eropa yang tinggal di Inggris maupun sebaliknya, serta isu berpisahnya Skotlandia dan Irlandia Utara dari Britania Raya. Namun, bukan itu yang ingin dibahas dalam artikel ini, melainkan fakta hasil survei salah yang dikeluarkan berbagai lembaga poll dan survey ternama di Inggris yang berbeda dengan hasil referendum sesungguhnya.

Hasil survei YouGov1, Ipsos MORI2, dan ComRes3 yang dilakukan pada bulan yang sama menunjukkan bahwa jumlah voters yang memilih untuk tetap berada di Uni Eropa lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang memilih untuk keluar. Namun, hasil pemungutan yang sesungguhnya menunjukkan hasil yang berbeda: 51.9% voters memilih untuk meninggalkan Uni Eropa, sedangkan 48.1% sisanya memilih untuk bertahan di Uni Eropa.

Fenomena hasil survei salah sebenarnya juga pernah terjadi di Indonesia, seperti pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta tahun 2012, saat hampir semua lembaga survei mengunggulkan calon petahana Foke-Nara. Hasil tersebut akhirnya dimentahkan oleh pasangan Jokowi-Ahok yang akhirnya memenangkan Pilgub Jakarta. Yang menjadi pertanyaan adalah: apakah saat ini hasil survei masih dapat dipercaya?

Terdapat beberapa hal yang menyebabkan hasil survei salah. Dalam artikel ini, akan dibahas 3 hal utama yang perlu diketahui agar kita memahami penyebab mengapa hasil survei terkadang berbeda dengan hasil sebenarnya.

1. Margin of Error

Perlu diingat bahwa survei dilakukan terhadap sample (contoh), yaitu sebagian dari populasi, bukan seluruhnya. Jadi, sangat wajar jika hasil survei tidak tepat 100% dengan hasil sebenarnya. Ketidaktepatan hasil inilah yag selanjutnya akan dikenal dengan istilah error (kesalahan).

Error dapat diminimalisasi dengan menetapkan metode sampling (penarikan contoh) yang tepat, tetapi error tidak dapat dihilangkan. Untuk itu, ditetapkanlah margin of error, yaitu batas kesalahan dari sebuah nilai dugaan yang masih dapat ditoleransi.

Sebagai contoh, survei menunjukkan bahwa pasangan A akan memenangkan pemilu terhadap pasangan B dengan perolehan suara sebesar 51% dengan margin of error sebesar 3%. Artinya, lembaga survei tersebut yakin bahwa hasil yang sebenarnya tidak akan berada di luar selang 51%±3%, yaitu di antara 48% – 54%. Selang tersebut menunjukkan bahwa lembaga survei juga meyakini adanya kemungkinan pasangan B memenangkan pemilu karena pemilu diprediksi akan berlangsung dengan ketat.

2. Non-sampling Error

Non-sampling error merupakan error yang terjadi di luar akibat penggunaan sample, melainkan terjadi saat proses pelaksanaan survei. Beberapa jenis non-sampling error diantaranya adalah non-response (responden tidak merespon saat disurvei), innacurate response (responden memberikan respon yang salah), selection bias (responden yang terpilih bukanlah individu yang tepat/sesuai dengan tujuan survei), dishonest interviewer (pewawancara tidak jujur dalam mengisi kuisioner), dan human error (pewawancara melakukan kesalahan yang tidak disengaja saat mengisi kuisioner).

Ada berbagai metode untuk meminimalisasi non-sampling error, diantaranya adalah reward (pemberian hadiah kepada individu yang bersedia menjadi responden), callbacks (menghubungi kembali responden untuk memvalidasi respon yang diberikan saat disurvei), dan trained interviewers (menyeleksi dan melatih pewawancara sebelum melakukan survei).

3. Pengaruh Politik

Saat ini, media massa memiliki andil besar dalam membangun opini publik. Oleh karena itu, banyak kaum elite atau para penguasa berusaha memanfaatkan media massa untuk memengaruhi opini publik. Salah satu alat yang digunakan adalah hasil survei, karena hasil survei merupakan hasil penelitian sehingga dianggap publik sebagai informasi faktual dan terpercaya.

Mereka membayar lembaga survei untuk mengeluarkan hasil survei yang cenderung berpihak kepada mereka untuk membangun mindset masyarakat agar nantinya berpihak atau mendukung mereka. Akibatnya, banyak lembaga survei yang tidak independen (memiliki muatan politis) saat melakukan survei atau jajak pendapat karena tergiur dengan bayaran dari kaum elite atau para penguasa tersebut. Fenomena ini sering terjadi terutama ketika memasuki masa kampanye pemilihan umum (pemilu).

Kesimpulannya, hasil survei salah bisa saja terjadi, baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Oleh karena itu, bijaklah dalam memahami atau memanfaatkan hasil survei. Gunakanlah hasil survei untuk sekadar memperluas wawasan.

Telaah lebih jauh (tabayyun) untuk mengetahui apakah hasil survei tersebut benar adanya dan tidak memiliki muatan politis jika ingin menjadikan hasil survei sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan. Yang terpenting juga, jangan gunakan hasil survei untuk ikut-ikutan memengaruhi orang lain atau malah menebar kebencian hanya demi mendukung elite politik tertentu tertentu dan menjatuhkan lawan politiknya.

Referensi

1YouGov. 2016. Times Survey Result. [online], (https://d25d2506sfb94s.cloudfront.net /cumulus_uploads/document/atmwrgevvj/TimesResults_160622_EVEOFPOLL .pdf, diakses tanggal 2 Juni 2016)

2Ipsos MORI. 2016. Ipsos MORI June 2016 Political Monitor. [online], (https://www.ipsos-mori.com/Assets/Docs/Polls/eu-referendum-topline-23-june-2016.pdf, diakses tanggal 2 Juni 2016)

3ComRes. 2016. Daily Mail / ITV News – EU Referendum Survey. [online], (http://www.comres.co.uk /wp-content/uploads/2016/06/Daily-Mail-ITV-News_EU-Referendum-Survey_22nd-June-2016_61021xh5.pdf, diakses tanggal 2 Juni 2016)

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

One response to “Masihkah Kita Percaya dengan Survei?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *