Orang memandangi laptop di tengah kegelapan

Full-day School: Bebani Siswa, Mencekik Orang Tua

Gagasan Mendikbud Muhadjir Effendy untuk menerapkan full-day school di tingkat SD-SMP Negeri dan Swasta menuai banyak pro dan kontra. Salah satu masalahnya adalah, sistem ini tidak hanya menambah jumlah waktu belajar di sekolah, tapi juga menambah biaya dan anggaran.

Menambah fasilitas sekolah untuk mengimbangi sistem belajar full-day school tentunya menambah anggaran, juga honor bagi guru-guru yang jam mengajarnya bertambah jika full-day school diterapkan.

Yang jadi pertanyaan, kepada siapa tambahan biaya ini dibebankan? Apakah pemerintah menyanggupi untuk menutup semua anggaran yang diperlukan jika full-day school diterapkan secara nasional? Apakah hasilnya akan merata?

Yang sudah-sudah, jika anggaran dari pemerintah untuk sekolah kurang, maka biayanya akan dibebankan kepada orang tua siswa.

Seperti beberapa tahun lalu ketika program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) diluncurkan. Pemerintah bertujuan menggratiskan biaya sekolah bagi anak-anak yang kurang mampu. Namun, siswa-siswi di MtsN Arjawinangun Cirebon, misalnya, tetap membayar biaya SPP yang seharusnyas sudah gratis, karena pihak sekolah merasa anggaran untuk menjalankan sekolah kurang jika hanya mengandalkan dana BOS.

Sebenarnya, sistem full-day school bukanlah hal baru dalam dunia pendidikan di Indonesia. Sistem ini sudah diterapkan di beberapa sekolah. Sistem pendidikan di pesantren malah mengharuskan siswanya belajar sampai malam.

Di Sekolah MAN Babakan Ciwaringin (sekarang MAN 2 Cirebon) misalnya, yang menerapkan kelas full-day dan kelas reguler, biaya yang dibebankan pada orangtua jauh berbeda.

Tahun ajaran 2007/2008 uang SPP kelas reguler Rp45.000/bulan sedangkan SPP kelas full-day Rp90.000/bulan. Untuk tahun ajaran 2016/2017, iuran awal tahun untuk siswa kelas Reguler sebesar Rp3.650.000 dan SPP digratiskan melalui program Pemda Kabupaten Cirebon. Sedangkan untuk kelas full-day iuran awal tahun sebesar Rp7.000.000 dan uang SPP sejumlah Rp.150.000/bulan.

Untuk iurannya saja antara kelas reguler sudah beda dua kali lipat. Memang, fasilitas yang diterima pun berbeda antara anak yang belajar di kelas full-day dengan anak yang belajar di kelas reguler. Bangunan kelas full-day dan kelas reguler pun dibuat terpisah.

Namun tentu saja, sistem ini tidak bisa dijadikan sama rata secara nasional.

Jika tetap menerapkan sistem pendidikan yang ada sekarang, orang tua bisa memilih di mana akan menyekolahkan anaknya, apakah di pesantren, sekolah biasa, atau sekolah yang menerapkan full-day school. Tentunya disesuaikan dengan kemampuan ekonomi orang tua siswa dan keinginan untuk terlibat dalam kehidupan pendidikan anaknya.

Tapi jika sistem full-day school ini diterapkan secara nasional, maka orang tua tidak lagi punya pilihan selain mempercayakan anaknya seharian penuh berada di sekolah dalam pengawasan pihak sekolah. Orang tua juga harus merelakan keterlibatan mereka dalam pendidikan anaknya menjadi sangat minim. Serta harus bersedia mengeluarkan uang lebih banyak untuk biaya sekolah.

Saat ini, full-day school hanya diterapkan d sekolah-sekolah dengan fasilitas infrastruktur bagus, didukung kegiatan ekstrakurikuler yang beragam, dan jumlah guru yang memadai.

Bila diterapkan secara nasional, pemerintah harus bisa menjamin bahwa semua sekolah di Indonesia memiliki semua fasilitas itu, baik yang ada di perkotaan maupun pedesaan dan daerah terpencil. Karena bagi wali murid yang hanya mampu menyekolahkan anaknya di sekolah biasa, penerapan full-day school secara nasional akan membuat mereka harus memutar otak lebih keras untuk mencari nafkah agar anaknya bisa tetap sekolah dengan biaya yang lebih mahal dari sebelumnya.

Jangan sampai full-day school–yang katanya bertujuan menjaga siswa saat kedua orang tuanya bekerja–malah semakin merampas waktu anak bersama orang tuanya. Karena orangtua siswa justru harus bekerja sampai jauh lebih malam demi mencari biaya tambahan untuk sekolah anak mereka.

Sharing is caring!
Share on Facebook38Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *