Acara pemutaran film dan diskusi dalam rangka peringatan Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia di Museum Nasional
Foto: Rizal Assalam/Youth Proactive

Melawan Perampasan Lahan dengan Film

“Kami adalah masyarakat Hutan Tobelo. Kami menjaga hutan, gunung dan air karena bagi kami itu adalah orang tua, rumah, dan sumber makanan kami. Kami menjaga air supaya kami dapat hidup disitu,” tutur salah seorang masyarakat adat dalam film dokumenter pendek Masyarakat Adat di Hutan Halmahera.

Kehidupan masyarakat adat yang bersahaja itu terusik dengan adanya ancaman perampasan lahan. Masyarakat adat itu diusir secara paksa yang disertai oleh ancaman dan intimidasi dari wilayah hidupnya yang dijaga sejak lama.

Lebih dari sepertiga wilayah Maluku Utara telah dialokasikan untuk perizinan pertambangan.  “Di berbagai macam tempat wilayah adat saat ini berada pada posisi yang sangat terancam karena semua izin pertambangan diberikan di atas wilayah adat. Di Halmahera terdapat 335 izin usaha pertambangan, ada 4 perkebunan sawit dan ratusan Hak Pengusahaan Hutan yang tersebar di berbagai macam kabupaten,” jelas seorang aktivis masyarakat adat Halmahera. Luas wilayah yang dikonversikan untuk kegiatan pertambangan berkisar 1 juta hektar.

Berdasarkan data Life Mosaic, terdapat lebih dari 5000 komunitas adat yang jumlahnya mencapai 370 juta orang di 70 negara. Dalam kasus konflik agraria, seringkali aktivitas pembukaan lahan untuk pembangunan infrastruktur, tambang atau perkebunan sawit dilakukan di atas tanah yang dimiliki oleh masyarakat adat.

Menurut Fasilitator Pendidikan Kerakyatan Life Mosaic Anny Setyaningsih, “pembangunan yang menggusur wilayah adat tidak pernah mengikutsertakan masyarakat adat. Misalnya pembangunan pelabuhan. Padahal itu belum tentu jadi kebutuhan masyarakat adat. Atau cara pengelolaan hutan, pendekatannya diturunkan dari Jakarta, tidak berasal dari cara pandang masyarakat adat,” katanya.

Perampasan lahan memberikan konteks besar dalam memahami berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakat adat. “Karena [menjadi] masalah utama masyarakat adat, mereka kehilangan wilayah adatnya karena dirampas, baik oleh perusahaan maupun oleh negara,” jelas Anny.

Akibat hilangnya wilayah adat, penghidupan, budaya, pendidikan dan cara berpikir adat juga ikut menghilang. “Jika [wilayah adat] itu habis, maka sudah tidak ada lagi tersisa,” lanjut Anny.

Dalam Catatan Akhir Tahun Konsorsium Pembaruan Agraria, sepanjang tahun 2015 telah terjadi 252 kejadian konflk agraria di tanah-air yang didominasi oleh sektor perkebunan (127 konflik), dengan luasan wilayah konflik mencapai 400.430 hektar. Konflk-konflk ini melibatkan sedikitnya 108.714 kepala keluarga.

Film sebagai medium perlawanan

Dalam rangka memperingati Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (HIMAS), Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), If Not Us Then Who, Indonesia Nature Film Society (INFIS) beserta Life Mosaic menyelenggarakan Pemutaran Film dan Diskusi di Museum Nasional, Jakarta (8/8).

Menurut salah satu pembuat film If Not Us Then Who, Nanang Sujana, tujuan pembuatan dan pemutaran film ini adalah sebagai kampanye audio-visual.

“Kita ingin memotivasi banyak orang termasuk komunitas masyarakat adat untuk tidak berharap pada pemerintah atau LSM untuk menyelamatkan hutan dan wilayah adat masing-masing. Harus memulai pada diri mereka. Sebagai kampanye positif untuk kembali menggerakkan kebanggaan mereka terhadap wilayah adat dan hutan mereka,” ujar Nanang.

Format film dipilih sebagai media kampanye karena dianggap lebih efektif menggerakkan masyarakat adat. Menurut Anny, untuk menjadi penggerak, mereka membutuhkan alat kreatif, tidak membosankan, dan lebih mudah memicu diskusi.

“Film [adalah] salah satu media paling ramah untuk orang kampung. Itu akan lebih muda dicerna dan memicu diskusi,” katanya.

Untuk memberikan amunisi dalam melawan perampasan lahan, Life Mosaic menyusun 10 seri film dokumenter pendek dalam rangkaian Wilayah Kehidupan. Kesepuluh film tersebut memberikan pengetahuan tentang apa itu perampasan lahan, bagaimana taktik perusahaan dalam mengambil alih lahan masyarakat adat, hingga pengetahuan penggunaan mekanisme hukum dalam menggugat perusahaan pengrusak hutan.

Film itu sendiri dapat diunduh secara bebas pada website Life Mosaic.

Sharing is caring!
Share on Facebook45Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *