Narasumber mengisi talkshow di FHUI
Foto: Pradipa PR/Youth Proactive

Bullying Awkarin, Netizen Terlalu Sibuk Menghakimi

Nama Karin “Awkarin” Novilda sempat meriuhkan jagat maya pada akhir Juli silam. Namanya mencuat lantaran sejumlah besar netizen merasa terganggu dengan konten di media sosialnya. Konten Awkarin dianggap tidak senonoh dan vulgar karena mengumbar hubungan asmaranya dan kerap berkata kasar, hingga menyebabkan netizen melakukan bullying Awkarin.

Berkebalikan dengan netizen yang cenderung menyalahkan Awkarin, pegiat internet Donny BU beranggapan lain.

“Kita kerap menyalahkan dan menghukum orang yang kita anggap salah,” kata Donny BU. Padahal seringkali orang itu berbuat demikian “bukan karena dia ingin, tapi karena dia tidak tahu,” jelasnya Senin lalu (1/8).

Pada diskusi di Fakultas Hukum Universitas Indonesia itu, Donny menjelaskan bahwa bagi generasi muda media sosial adalah wadah yang paling nyaman untuk membentuk identitasnya.

Di lingkungan sosial lain, anak muda bisa menemui berbagai hambatan, seperti keluarga yang mengekang atau lingkungan kampus yang ketat. Sementara di media sosial cenderung tidak ada aturan ketat yang membatasi ekspresi anak muda. Maka mereka akan menjadi diri sendiri di tempat yang mereka anggap lebih nyaman.

Masalahnya, menurut Donny, di tempat nyaman ini generasi muda tidak punya panduan. Orang tua atau guru tak bisa membantu karena juga tak akrab dengan internet. Sumber informasi lain pun tak memadai. “Berapa banyak buku soal kebebasan berekspresi di media sosial dibanding buku soal hacking di Gramedia?” kata Donny.

Sebab itulah anak muda kemudian bereksperimen sendiri dengan dunianya di media sosial. Di antara mereka, ada yang berekspresi seperti Awkarin.

Netizen membiarkan terjadinya kekerasan

Salah satu yang membuat gerah masyarakat adalah kemesraan Awkarin dengan pacarnya, Muhammad Gaga. Beberapa bahkan melihat bahwa perbuatan remaja itu bisa dijerat dengan undang-undang. Pasalnya, foto Gaga yang diunggah adalah foto saat lelaki itu masih berumur 16 tahun.

“Itu bisa kita bilang eksploitasi minor (anak di bawah umur),” kata Narendra Jatna, pengajar di Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Menurutnya, Awkarin seharusnya tahu untuk tidak mengunggah foto-foto seperti itu karena sudah diatur di undang-undang. Ia juga seharusnya membaca ketentuan (terms of service) di media sosial. “Ada di situ semua, di Instagram, tak boleh pose indecent (tidak pantas),” kata Narendra.

Tapi Donny pun tak setuju dengan anggapan itu.

Come on, ini anak muda,” kata Donny, “Kalau ada draf UU, di mana sih biasanya disosialisasikan? Di kampus-kampus. Di diskusi-diskusi. Apa semua anak muda datang ke acara begitu?”

Papar Donny, memang mudah menyalahkan anak muda yang tak teliti pada peraturan perundangan. Tapi sikap seperti itu bukanlah sikap yang tepat. Justru, “kita harus bertanya, apakah kita pernah menyiapkan mereka untuk itu?” kata Donny.

Saat netizen kemudian melakukan bullying Awkarin, pegiat ICT Watch ini juga menilai yang terjadi adalah pembiaran. Netizen malah sibuk mempertanyakan akhlak, moralitas, atau latar belakang pribadi Awkarin, alih-alih mencegah orang lain melakukan kekerasan verbal terhadapnya. Netizen justru sibuk menghakimi ketimbang mencegah kekerasan.

“Daripada membatasi si pem-bully, kita lebih sibuk bertanya, mengapa anak ini di-bully,” ujar dia.

Kasus yang serupa dengan Awkarin bukan pertama kalinya. Bullying di ranah digital kerap terjadi di jagat maya Indonesia. Selain bullying Awkarin, ada mulai dari Florence Sihombing, mahasiswi UGM yang memaki kota Yogyakarta, hingga Sonya Depari yang membentak polisi. Sebagian dari mereka menghilang dari layar kaca setelah menerima tekanan besar dari netizen.

Awkarin sendiri nampak lebih cuek. Menanggapi berbagai tuduhan netizen tentang moralitasnya, ia bertukas pada Beritagar (2/8), “moral itu urusan manusia dan Tuhan, bukan para haters.

Sharing is caring!
Share on Facebook34Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *