setumpuk kertas di atas meja
Foto: Dpoe.com

Peluang Bisnis di Bidang Open Data

Open data seringkali hanya dipahami sebagai hak dari warga negara untuk mendapatkan informasi yang memadai dari negara. Tetapi dalam diskusi yang dilakukan Open Data Lab di Jakarta pada 11 Agustus, ternyata ada peluang bisnis yang memungkinkan dari open data.

Ke depannya, pasar untuk open data masih sangat terbuka. GDP Indonesia tertinggi di ASEAN, proporsi generasi muda masih sangat mendominasi. Pasar teknologi, terutama  seluler sangat tinggi di Indonesia. Kebanyakan generasi muda sangat familiar denan penggunaan smartphone. Hal itu diutarakan Jonathan Iwan, seorang wirausahawan pendiri J Corporation.

Namun ada banyak masalah yang menghambat terbentuknya bisnis dari open data. “Kualitas data yang dihasilkan pemerintah masih sangat rendah,” papar Andaru dari Detik.com. Data satu dan yang lain masih sangat terpisah sehingga sulit untuk diambil korelasi antar data.

Antya dari Data Lab Jakarta mengungkapkan bahwa lembaga penelitian berpikir lebih baik untuk mencari data sendiri meski dana yang perlu dikeluarkan jauh lebih besar karena data yang dihasilkan juga ternyata jauh lebih bisa dipercaya. Mirisnya pernyataan ini diungkapkan oleh lembaga yang sering berkecimpung di bidang open data.

Senada dengan itu, Yantisa dari Humanitarian Open Street Map menyatakan data pemerintah juga tidak up to date. Padahal kekinian data sangat dibutuhkan oleh konsumen. Telat beberapa tahun saja data menjadi kurang valid karena dinamika perubahan di lapangan sangat cepat.

Pola pikir pemerintah juga tidak mendukung berkembangnya budaya bisnis open data. Pemerintah masih sering berpikir buat apa membuka banyak data dan dengan kualitas yang baik kalau ternyata hanya dijadikan ladang bisnis oleh sebagian orang, demikian papar Diah dari Perludem.

Diah melanjutkan, banyak jajaran pemerintahan juga tidak memiliki keahlian yang memadai di bidang teknologi. Bagi sebagian orang, dapat membuka email dan membuat Power Point saja sudah dianggap sebuah kemewahan. Masih ada orang-orang yang sangat bergantung dengan asisten untuk berurusan di bidang teknologi. Meski untuk jajaran pemerintahan usia muda hal ini tidak berlaku.

Meski begitu, selalu ada peluang bagi swasta untuk membisniskan open data. Rina Anandita dari PT SDK beruajar bahwa perusahaan membutuhkan data yang tepat untuk mengenali konsumen, dan open data dapat menjadi sumber yang memadai. Mengenali konsumen dapat menekan biaya untuk pemasaran karena iklan dapat langsung ditujukan ke konsumen yang tepat. Selain itu, perusahaan bisa mengetahui secara langsung produk apa yang dibutuhan konsumen.

Namun pertanyaannya apakah perusahaan mau membeli data yang sifatnya terbuka, karena toh harusnya mereka dapat dengan mudah mendapatkannya? Rina menjawab perusahaan pun akan berpikir bahwa data yang dihasilkan pemerintah adalah data mentah dan tentu perlu dana yang besar untuk mengolahnya lagi. Sementara jika dia langsung membeli hasilnya dari lembaga pengolahan open data, pengeluarannya pasti lebih murah.

Yang dijual dalam usaha open data adalah proses analisis data. Perusahaan open data memiliki keahlian yang memadai untuk mengolah data, yang belum tentu dimiliki oleh setiap perusahaan. “Nilai tambahnya inilah yang seharusnya ditonjolkan,” tutup Antya sebagai pemrakarsa diskusi.

Sharing is caring!
Share on Facebook8Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *