Bendera Brexit Not EU dengan percikan darah
Ilustrasi: Diolah dari foto Tony Kyriacou/Rex/Shutterstock.

Legitimasi “Hate Crime” Pasca-Keluarnya Inggris dari Uni Eropa

Semenjak Inggris memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa (UE), kejahatan dengan latar belakang kebencian (hate crime) mencuat di Inggris. Lebih dari seratus kasus akan kejahatan yang berdasarkan ras dan hate crime ini dilaporkan telah terjadi (Independent, 2016).

Kejahatan dengan latar belakang kebencian umumnya menyerang pihak yang rentan, khusus kasus di Inggris ini korbannya adalah para imigran yang menjadi kaum marjinal disana.

Mencuatnya hate crime di Inggris

Terdapat tiga alasan utama mengapa warga Inggris ingin keluar dari Uni Eropa. Alasan pertama adalah karena jangkauan kekuasaan Uni Eropa yang terlalu besar dan mempengaruhi kedaulatan Inggris. Alasan kedua adalah aturan yang ditetapkan oleh Uni Eropa mencegah bisnis beroperasi secara efisien, dan alasan terakhir adalah isu migran yang mulai memenuhi Eropa serta menjadi salah satu faktor utama dari terjadinya hate crime.

Uni Eropa membuat warga negaranya dapat bergerak dengan bebas, sehingga membuat warga suatu negara dapat bekerja serta hidup di negara lain yang tergabung dengan Uni Eropa.

Para imigran ini dilihat oleh warga Inggris sebagai penyebab dari krisis pengangguran, upah yang rendah, rusaknya sistem pendidikan dan kesehatan, bahkan kemacetan lalu lintas.

Menurut model transmisi antargenerasi dan budaya yang diperkenalkan oleh Sibbit, ia menjelaskan mengenai konsep dari “komunitas pelaku” yang menyoroti arti dukungan sosial untuk terlibat dalam pelecehan dan kekerasan secara rasial yang berasal dari sebuah komunitas yang mendukung sikap tersebut (Roberts, Colin dkk., 2013).

Inkubasi dari sikap rasis dan pandangan anak muda menjadi semakin kuat dimana perilaku ini dilihat sebagai hal yang ‘normal’, hal ini sebagai hasil dari ekspresi publik dari pandangan tersebut oleh masyarakat yang lebih tua.

Beberapa penelitian lain menunjukkan bahwa penanaman keyakinan akan prasangka menjadi lebih akut dibawah kompetisi untuk sumber daya ekonomi yang langka (pekerjaan, perumahan, tunjangan). Sikap tersebut juga diperkuat dan ditopang oleh media massa.

Definisi hate crime

Hate crime oleh para penegak hukum di Inggris didefinisikan sebagai setiap tindak kejahatan yang dirasakan, oleh korban atau orang lain, dan termotivasi oleh kebencian atau prasangka terhadap seseorang yang berdasarkan karakteristik pribadi (Victim Support, 2016).

Terdapat lima kategori dari karakteristik hate crime dimana seseorang dijadikan sasaran karena kebencian atau prasangka, hal ini didasarkan oleh ras atau etnis, agama atau kepercayaan, orientasi seksual, disabilitas, dan identitas transgender.

Hate crime ini dapat merupakan tindakan yang bukan atau merupakan kejahatan, hal ini mulai dari pemberian nama panggilan, graffiti, serangan atau pelecehan secara online dengan menggunakan media sosial, vandalisme properti, penyerangan hingga pembunuhan.

Mengalami hate crime merupakan pengalaman yang cendrung menakutkan bagi banyak orang. Anda dapat dijadikan sasaran karena “siapa” anda, dan atau karena pelaku melihat anda menjadi “siapa” atau menjadi “apa”.

Oleh karena itu kejahatan ini lebih bersifat pribadi dan memiliki target yang khusus, sehingga bukan lah suatu serangan acak yang dapat menimpa siapa saja.

Legitimasi hate crime terhadap para imigran

Hate crime berdasarkan ras atau etnis merupakan jenis hate crime yang memiliki jumlah yang paling tinggi dari jenis hate crime lainnya. Pada tahun 2014-2015 dilaporkan terdapat 42.930 kasus hate crime yang berdasarkan ras atau etnis, diikuti dengan orientasi seksual sebanyak 5.597 kasus, agama sebanyak 3.254 kasus, disabilitas sebanyak 2.508 kasus, dan transgender sebanyak 605 kasus (Corcoran, Hannah. Deborah Lader, dan Kevin Smith, 2015).

Terdapat kenaikan atas serangan yang berdasarkan hate crime setelah referendum yang membuat Inggris keluar dari Uni Eropa. Banyak warga Inggris yang menggunakannya sebagai “pembenaran” untuk melakukan hal seperti kekerasan verbal baik secara langsung atau menggunakan media sosial, penyebaran pamflet yang menekan kaum imigran, tindakan vandalisme terhadap pusat budaya salah satu negara Uni Eropa, hingga penyerangan fisik terhadap kaum imigran(Daily News, 2016).

Pelaku yang melakukan hate crime disini melakukan legitimasi terhadap tindakan-tindakan yang mereka lakukan. Dengan keluarnya mereka dari Uni Eropa, para pelaku ini melihat bahwa mereka “terlepas” dengan Uni Eropa,  dan membuat mereka merasa kedudukannya lebih “tinggi” dari para imigran.

Dukungan sosial juga berpengaruh dalam legitimasi ini, dimana pelibatan dalam pelecehan dan kekerasan secara rasial bergantung dari komunitas atau masyarakat yang mendukung atau tidak mendukung hal tersebut.

Sikap dan pandangan anak muda terhadap hal ini akan menjadi semakin kuat apabila perilaku rasis ini di legitimasi atau dilihat oleh masyarakat yang lebih tua sebagai hal yang “normal”

Para pelaku disini juga berusaha untuk melakukan suatu hal seperti yang diperkenalkan oleh Sykes dan Matza (Roberts, Colin dkk., 2013), tindakan netralisasi atau pembenaran perlakuan mereka dengan cara seperti menyangkal kerugian yang ditimbulkan, dan misalnya melihat bahwa tidak ada kerugian yang ditimbulkan dalam pemberian nama panggilan kepada para korban.

Pelaku juga melihat korban sebagai pihak yang “pantas” mendapatkan karena mereka telah “mencuri” pekerjaan atau membuat rusak sistem pendidikan dan kesehatan.

Pelaku juga melegitimasinya karena mengikuti ikatan dari peer group yang melakukan perlakuan diskriminatif terhadap para imigran.

Pelaku mempertanyakan posisi dari pihak yang berusaha untuk menghukum pelaku yang seperti korban adalah pihak yang seharusnya keluar dari Inggris,

Terakhir, pelaku membenarkan perlakuan mereka dengan menyalahkan faktor-faktor lain yang membuat mereka melakukan hal tersebut.

***

Sumber

Corcoran, Hannah, Deborah Lader, dan Kevin Smith. 2015. Hate Crime, England and Wales, 2014/15. London: Home Office.

Daily News. 2016. Hate Crimes Toward Muslims and Polish Immigrants Reported Around The UK Following Brexit Vote. http://www.nydailynews.com/news/world/hate-crimes-reported-u-brexit-vote-article-1.2690489

Independent. 2016. Brexit: Wave of Hate Crime and Racial Abuse Reported Following EU Referendum. http://www.independent.co.uk/news/uk/home-news/brexit-eu-referendum-racial-racism-abuse-hate-crime-reported-latest-leave-immigration-a7104191.html

Liputan 6. 2016. Menguak Alasan Mengapa Inggris Ingin ‘Cerai’ dari Uni Eropa. Diakses dari http://global.liputan6.com/read/2539483/menguak-alasan-mengapa-inggris-ingin-cerai-dari-uni-eropa

Roberts, Colin dkk,. 2013. Understanding Who Commits Hate Crime and Why They do It. Cardiff: Welsh Goverment Social Research

Victim Support. 2016. Hate Crime. Diakses dari https://www.victimsupport.org.uk/crime-info/types-crime/hate-crime

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

One response to “Legitimasi “Hate Crime” Pasca-Keluarnya Inggris dari Uni Eropa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *