Retno dan Bonar mempresentasikan hasil survei Setara Institute

Hasil Survei: Siswa SMA Cukup Toleran, Berpotensi Radikal

Siswa SMA di Bandung dan Jakarta dinilai cukup toleran. Ini terungkap dalam hasil survei Setara Institute mengenai tingkat toleransi siswa SMA Negeri di Jakarta dan Bandung Raya, yang launching di Bakoel Koffie pada 24 Mei 2016. Survei ini dilakukan pada periode 4-18 April 2016.

Sejumlah 81% siswa menolak organisasi keagamaan yang hendak menggantikan Pancasila dengan dasar negara yang lain, 79,47% menolak kelompok yang menggunakan kekerasan, 74,7% menolak kelompok yang mengafirkan kelompok lain, dan 85,26% menolak pelarangan pendirian rumah ibadah.

Dalam soal memilih pemimpin, masih ada preferensi untuk memilih pemimpin dari agama yang sama. Terdapat 30,8% siswa yang menyatakan bahwa pemimpin di lingkungan OSIS harus dari agama yang sama dan 29,5% menyatakan kepala daerah harus berasal dari agama yang sama.

Terkait soal ideologi, 58% siswa merasa kehidupan manusia di Indonesia perlu diatur oleh hukum Islam. Wakil Ketua Setara Institute Bonar Tigor mengakui keterbatasan pengukuran soal topik ini karena pandangan siswa bisa dipahami sebaga bentuk kepatuhan kepada agama yang dianutnya.

“Bisa jadi pandangan ini mengafirmasi penggunaan agama sebagai sumber hukum positif melalui proses demokrasi,” kata Bonar.

Berbeda dengan syariat Islam, hanya 2% siswa yang mengartikan jihad dengan perjuangan yang boleh menggunakan cara apapun termasuk kekerasan. Sebanyak 70% siswa menganggap ISIS adalah organisasi kekerasan yang mengatasnamakan agama. Namun ada 1% responden yang mendukung apa yang diperjuangkan ISIS dan bahkan 0,4% menyatakan mendukung aksi terorisme.

Keterpaparan dari internet

Para responden menunjukkan bahwa mereka sudah sangat terbiasa bersentuhan dengan internet. Sebanyak 41% siswa mengakses internet lebih dari lima jam sehari. Internet dijadikan rujukan utama untuk memperoleh informasi.

Ada 87,8% siswa yang menggunakan internet untuk memperoleh pengetahuan tentang agama. Namun, berdasarkan hasil survei ini, agama tidak menjadi topik favorit siswa untuk diperbincangkan di media sosial.

“Meski begitu dengan semakin berkembangnya popularits internet, bukan tidak mungkin internet akan semakin dijadikan rujukan utama dalam soal agama,” papar Bonar Tigor.

Berdasarkan penjelasannya, saat ini sekolah memakai sistem full day. Artinya siswa bertemu dengan orang tua hanya pada waktu malam hari. Sedangkan sebagian waktu siswa selain belajar digunakan untuk mengakses internet. Dengan skema seperti ini semakin lama peran orang tua akan semakin menipis.

Sumber utama pengetahuan keagamaan masih masih tetap didominasi oleh guru (39,9%), orang tua (23,2%), dan internet (19%). Oleh sebab itu, menurut Bonar, guru merupakan salah satu sektor yang perlu memperoleh perhatian lebih, selain soal kurikulum, model pembelajaran, dan siswa itu sendiri.

“Penting bagi guru memberikan pendidikan soal toleransi di sekolah,” jelas penggiat pendidikan Retno Listyarti. Ia menceritakan, saat ini banyak kejadian guru yang menunjukkan indikasi tidak toleran. Ada kasus guru agama yang tidak mau menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ada pula guru yang tidak mempunyai sikap toleransi terhadap Ahmadiyah.

“Bisa kita bayangkan bagaimana sikap murid jika memiliki guru dengan pandangan radikal seperti itu,” sebut Retno.

Mantan kepala sekolah ini menyatakan kecenderungan tidak toleran ini juga tergambar dari praktik intoleransi di sekolah-sekolah. Beberapa sekolah mewajibkan siswa untuk mengenakan busana Muslim pada hari tertentu. Ada juga sekolah yang mewajibkan untuk membaca Al-Quran 15 menit sebelum masuk kelas, padahal dalam aturan harusnya yang dibaca adalah buku teks.

Tambah lagi, ia menyebutkan, ada juga sekolah yang mewajibkan untuk melaksanakan salat dhuha, padahal menurutnya dalam ajaran Islam salat dhuha adalah amalan yang tidak wajib dilakukan umat Islam.

Potensi terorisme siswa SMA

Berdasarkan penjelasan Setara Institute dalam siaran persnyasurvei ini menggunakan acuan kajian The Staircase to Terrorism oleh Mughoddam (2005). Siswa dipetakan ke dalam empat kategori: dari 760 responden yang terlibat, ada 61,6% siswa yang toleran, 35,7% yang intoleran pasif/puritan, 2,4% yang intoleran aktif/radikal, dan 0,3% yang berpotensi menjadi teroris.

Kategori intoleran pasif berarti orang memiliki kecenderungan intoleran tetapi mereka tidak melakukan tindakan intoleran. Sementara kategori intoleran aktif berarti siswa tersebut sudah terlibat dalam tindakan-tindakan intoleran. Adapun siswa dengan kategori potensi teroris memiliki pandangan bahwa kekerasan menjadi cara wujudkan keyakinan mereka.

Bonar menjelaskan bahwa siswa yang tergolong intoleran pasif tidak jadi masalah. “Sebab secara intrinsik setiap agama mengajarkan ajarannya paling benar dan ini adalah kenyataaan sosial yang tidak bisa dicegah,” kata peneliti Setara itu. Menurutnya, kategori intoleran pasif masih bisa ditoleransi selama tidak ada tindakan nyata yang dilakukan.

Populasi survei ini sendiri adalah 18.000 siswa-siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri di Jakarta dan Bandung Raya di 171 sekolah: 106 terletak di Jakarta dan 65 di Bandung Raya. Metode pemilihan sampel dilakukan dengan multi-stage random sampling sampai dengan satuan unit terkecil yatu kelas, baru kemudian dilakukan simple random sampling untuk memilih siswa di kelas. Survei ini memiliki tingkat kepercayaan 95% dan margin of error 5%.

 

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

One response to “Hasil Survei: Siswa SMA Cukup Toleran, Berpotensi Radikal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *