korban perkosan, pemerkosan, kekerasan seksual

Hanya 1% Persen Korban Perkosaan Diusut Tuntas Pihak Berwajib

Berdasarkan survei daring mengenai kekerasan seksual yang dilakukan oleh Magdalene dan Lentera Sintas Indonesia yang berkerjasama dengan Change.org Indonesia, 93% dari 1636 responden tidak melaporkan kasusnya ke pihak berwajib.

Hal ini terungkap di dalam press release hasil survei “Kekerasan Seksual di Indonesia” yang diadakan di Komnas Perempuan pada Kamis, 21 Juli 2016. Survei ini berlangsung selama bulan Juni 2016.

Survei ini diikuti oleh 25.213 orang sebagai responden. 25.213 orang tersebut terdiri dari 12.812 perempuan, 12.389 laki-laki, dan 12 transgender.

Wulan Danoekoesoemo, Direktur Eksekutif dari Lentera Sintas Indonesia mengatakan bahwa 28,6% dari 12.389 laki-laki pernah mengalami kekerasan seksual, 46,7% dari 12.812 perempuan pernah mengalami kekerasan seksual, dan 83% dari 12 transgender pernah mengalami kekerasan seksual.

Lima puluh depalan persen responden mengaku pernah mengalami pelecehan secara verbal; 25% mengalami pelecehan fisik seperti sentuhan, pijatan, remasan, pelukan, ciuman dan lainnya; 21% dipaksa melihat atau menonton konten porno, alat kelamin seseorang atau aktivitas seksual orang lain; terakhir 6% dari korban mengalami tindak perkosaan.

Wulan juga mengatakan bahwa pelaku dari kekerasan seksual ini bukan hanya berasal dari orang yang tidak dikenal korban, tetapi juga dari pelaku yang dikenal dekat oleh korban.

“Untuk pelecehan verbal, responden mengaku 70% pelaku adalah orang tidak dikenal. Kemungkinan besar ini adalah jenis-jenis pelecehan verbal yang terjadi di ruang publik. Berikutnya untuk pelaku pelecehan seksual yang bersifat fisik, 57% pelaku dikenal dekat oleh korban. Sedangkan untuk tindak perkosaan 69% pelaku dikenal dekat oleh korban.” Ujar Wulan.

Minimnya Kepercayaan kepada Penegak Hukum

Banyaknya jumlah korban dari kekerasan seksual tersebut tidak dibarengi dengan penanganan yang baik. Hasil survey ini menunjukkan bahwa hanya 6% dari responden yang mengalami perkosaan yang melapor ke pihak berwajib namun kasusnya berhenti, pelaku bebas, atau berakhir “damai”.

Hanya ada 1% dari responden yang mengalami perkosaan kasusnya disusut tuntas oleh pihak berwajib.

“Ini menjadi pertanyaan, apa yang terjadi dengan kasus yang tidak tuntas? Apa yang membuat kasus itu berhenti? Atau solusi apa yang ditawarkan dalam kasus-kasus tersebut?” kata Wulan.

Di dalam survei ini juga ditemukan alasan mengapa korban tidak melapor kepada penegak hukum. Alasan utama dari sedikitnya jumlah responden yang melapor adalah karena takut disalahkan.

Hal ini terjadi karena masyarakat yang masih melakukan victim blaming dan stigma, sehingga ketika ada korban yang melaporkan bahwa ia mengalami kekerasan seksual masyarakat akan berbalik menyerang korban.

Alasan lain dari tidak melapornya responden kepada penegak hukum adalah karena takut tidak didukung keluarga, diancam atau diintimidasi oleh pelaku, bantuan hukum yang mahal, terjadi di masa kecil, takut dinikahkan dengan pelaku, takut kehilangan pekerjaan, tidak mengerti tindakan pelaku termasuk pelecehan seksual, pelakunya dari keluarga sendiri, dan menjaga perasaan keluarga.

Mariana Amirrudin, Komisioner dari Komnas Perempuan melihat kurangnya responden dalam melaporkannya ke penegak hukum adalah karena masyarakat tidak percaya kepada perangkat hukum yang ada. Ia menambahkan kalaupun Komnas Perempuan mencatat sekian kasus kekerasan seksual di negara ini, itu tidak akan akan menunjukkan angka yang sebenarnya karena temuan kawan-kawan meresprentasi bahwa hampir 100% tidak mau melapor.

Isu kekerasan seksual dilihat sebagai isu yang seperti gunung es, dimana masih sangat banyak perempuan yang menjadi korban, namun tidak berani menceritakan pengalaman kekerasannya, apalagi mendatangi lembaga pengada layanan untuk meminta pertolongan.

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

5 responses to “Hanya 1% Persen Korban Perkosaan Diusut Tuntas Pihak Berwajib

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *