Peneliti CSIS presentasi survei
Foto: Pradipa PR/Youth Proactive

Survei: Lulusan Pendidikan Tinggi Cenderung Toleran Korupsi

Lazim ada anggapan bahwa rendahnya tingkat pendidikan berkaitan dengan kecenderungan untuk memaklumi praktik korupsi. Ternyata, hasil survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS) mengungkap pemakluman ini pun terjadi pada lulusan pendidikan tinggi, khususnya lulusan S3.

Temuan survei ini menunjukkan, 33,3% lulusan S3 cenderung menganggap memberikan uang atau barang kepada aparat negara untuk memperlancar proses (suap-menyuap) sebagai hal yang wajar dilakukan. Suap-menyuap merupakan salah satu praktik korupsi dalam Undang-undang Tindak Pidana Korupsi.

Dilihat dari tingkat pendidikannya, lulusan S3 berada di urutan ketiga yang paling memaklumi suap-menyuap; di urutan pertama adalah individu yang tidak punya latar pendidikan (38,2%), kemudian disusul individu yang berlatar pendidikan SD (37,1%).

“Kita asumsikan [lulusan S3 ini] adalah orang yang tidak mau repot,” kata peneliti CSIS yang melakukan survei, Vidhyandika Perkasa, saat rilis hasil survei Persepsi dan Pengalaman Masyarakat terhadap Fenomena Korupsi di Indonesia pada Selasa (26/7) kemarin. Sehingga, mereka cenderung menganggap menyuap aparat negara untuk memuluskan keperluan mereka adalah hal yang wajar.

Selain lulusan S3, sebanyak 23,6% yang berlatar pendidikan S1 juga cenderung toleran korupsi. Begitu pula lulusan SMP/sederajat (32,3%) dan SMA/sederajat (24,6%). Yang paling tidak toleran terhadap korupsi justru adalah lulusan diploma (18,3%) dan lulusan S2 (13,8%).

Ada kaitannya dengan usia

Peneliti CSIS Arya Fernandes menduga hal ini ada kaitannya dengan usia. Saat ditanyakan, ia menyebutkan bila dilihat dari temuan survei yang melihat toleransi korupsi berdasarkan rentang umurnya, usia yang lebih tua cenderung toleran korupsi.

Di peringkat satu, yang paling toleran korupsi adalah individu berusia di atas 60 tahun (33%). Selanjutnya adalah rentang usia 51-60 tahun (14,5% toleran korupsi). Kemudian disusul 41-50 tahun (13,8%) dan 31-40 tahun (8,8%).

Paling tidak toleran terhadap korupsi adalah yang berusia muda. “Di rentang usia 19-30 tahun, hanya 4% yang toleran korupsi,” kata Arya, yang juga jadi bagian dalam tim survei. Sehingga, menurutnya, bisa jadi tingkat toleransi yang tinggi pada lulusan S3 ada kaitannya dengan kondisi bahwa banyak dari mereka yang berusia tua.

Jika dibandingkan dengan hasil survei lain, temuannya sedikit berbeda.

Berdasarkan Survei Integritas Anak Muda 2012 yang dilakukan Transparency International Indonesia, toleransi anak muda terhadap korupsi tak jauh berbeda dengan usia tua. Misalnya, ada 20% anak muda (usia 16-30 tahun) tidak menolak korupsi asalkan jumlahnya kecil, sementara di usia tua (31-65 tahun) hanya 18% yang berpendapat demikian.

Pada indikator lain, 22% anak muda tidak menolak korupsi jika tindakan itu sudah umum dilakukan, sementara hanya 20% usia tua yang berpendapat serupa. Dalam hal solidaritas bahkan perbedaannya lebih jauh: 30% anak muda sepakat mendukung keluarga dan temannya yang melanggar hukum, sementara hanya 23% usia tua yang sepakat dengan dukungan seperti itu.

Meski demikian, kedua survei tersebut memang memiliki responden berbeda. Survei Integritas Anak Muda 2012 dilakukan di DKI Jakarta dengan 2005 responden, sementara Persepsi dan Pengalaman Masyarakat terhadap Fenomena Korupsi di Indonesia dilakukan secara nasional dengan 3900 responden.

Pada survei dari CSIS ini, 3900 responden tersebut terdiri atas 200 sampel proporsional di 34 provinsi dan 1900 oversample di lima provinsi: Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Timur, Maluku Utara, dan Banten. Pada lima provinsi tersebut, CSIS juga melakukan focus group discussion. “[Lima provinsi ini] dipilih dari konsentrasi pemberitaan korupsinya di media massa,” kata Vidhyanandika.

Vidhyandika menyebutkan bahwa survei yang dilakukan CSIS ini adalah baseline survey (survei dasar). “Kami masih akan menyempurnakannya lagi setelah mendapat masukan-masukan,” tandasnya.

Sharing is caring!
Share on Facebook309Tweet about this on Twitter5Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

2 responses to “Survei: Lulusan Pendidikan Tinggi Cenderung Toleran Korupsi

    1. Betul juga bung Rustam Yusuf,setidaknya untuk kontent permisif pada laku korupsi bisa jadi general. Contohnya, dengan memasukkan semua provinsi, minimal ada gambaran hubungan tingkat pendidikan pada kondisi permisif tadi,sekaligus bisa menjadi bahan evaluasi untuk tingkat efektivitas mata kuliahwajib berjudul Psikologi Anti Korupsi yang ada di Univ Gorontalo dan dibawakan oleh keluaran S3, atau jangan….jangan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *