Adam Seligman memberikan presentasi di LIPI
Foto: Pradipa PR/Youth Proactive

“Bertoleransi Artinya Bersedia Merasa Tak Nyaman”

Bagi 60% warga Jerman, Islam tidaklah pantas jadi bagian dari Jerman. Survei Infratest dimap ini menunjukkan besarnya keengganan menerima Muslim yang semakin meningkat seiring gelombang pengungsi Suriah. Di Indonesia, yang terjadi serupa tapi tak sama. Survei Center of Strategic and International Studies menunjukkan 68,2% orang Indonesia enggan menerima tempat ibadah umat agama lain di lingkungan tinggalnya.

Fenomena ini dinilai ironis. Negara-negara kini ditinggali oleh semakin banyak ragam identitas, tapi masyarakat justru semakin enggan untuk menerima keragaman itu. Rendahnya toleransi masyarakat dikhawatirkan memunculkan sikap intoleran.

Ketidaknyamanan dengan yang berlainan identitas kerap menjadi problem intoleransi. Padahal, menurut antropolog Adam Seligman, kunci toleransi justru menerima ketidaknyamanan itu. “Bertoleransi artinya bersedia merasa tak nyaman,” kata Profesor Studi Agama Universitas Boston itu dalam sesi diskusi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Selasa silam (28/6).

Lanjut Adam, toleransi artinya bersedia menerima orang dengan gaya hidup dan perilaku yang berbeda. Menurutnya, rasa tak nyaman itu pasti akan ada karena saat hidup dengan orang yang lain identitas dan lain gaya hidup, seseorang akan merasa asing (unfamiliar) dengan mereka.

“Masalahnya, kita sering keliru menganggap rasa tak nyaman itu sebagai sesuatu yang secara moral benar atau salah (morally right or wrong),” paparnya.

Profesor yang banyak mengkaji tentang keberagaman ini mencontohkan dari pengalaman pribadinya sendiri. Suatu waktu, ia pernah pergi ke Pakistan bersama keluarganya. Di sana ia melihat banyak sekali perempuan yang memakai cadar menutupi seluruh tubuhnya kecuali mata. Sebagai orang Amerika Serikat, dia merasa asing dengan pemandangan itu. “Saya merasa tidak nyaman,” kata dia.

Ia mengisahkan lagi pengalaman lainnya saat mengikuti seminar di Kepulauan Karibea. Di sana terdapat pemandian air panas di ruang terbuka, dan berendam lah ia bersama teman-teman laki-lakinya. Tiba-tiba, beberapa perempuan masuk tanpa busana. Saat itu pun, sebagai orang yang religius, Adam menyebutkan ia merasa tidak nyaman melihat perempuan tanpa sehelai kain pun. Di tempat asalnya, pemandian lelaki dan perempuan lazimnya dipisah.

Tapi kemudian Adam menyadari bahwa ketidaknyamanan itu bukan berarti perempuan Pakistan yang bercadar lantas jadi berdosa karena memiliki gaya hidup yang berbeda dengannya. Demikian pula, dengan perempuan yang tiba-tiba masuk ke pemandian tanpa busana.

“Perempuan serba tertutup salah, perempuan serba terbuka salah. Kalau seperti itu berarti masalahnya di saya, bukan di mereka,” kata Adam sambil tertawa.

Paparnya, kesalahan dari pengalamannya adalah menilai cara hidup seseorang dari kacamata moralnya sendiri. Padahal apa yang berlaku bagi orang kulit putih religius di Amerika Serikat seperti Adam belum tentu berlaku bagi orang kulit coklat Muslim di Pakistan–atau bahkan di Amerika Serikat juga. Kunci dari toleransi adalah menerima perbedaan-perbedaan itu.

Bukan mencari kesamaan

Adam tak sepakat dengan gagasan bertoleransi yang menekankan pencarian kesamaan dari perbedaan (search for common grounds). Menurutnya, terlalu sibuk mencari kesamaan dari beragam identitas justru dapat mengerdilkan perbedaan yang ada.

“Ketika orang mencari kesamaan, yang dilihat adalah ‘Anda seperti saya’,” sebut Adam, “Bukan ‘saya yang seperti Anda’.”

Berdasarkan pemaparan profesor yang mengajar sosiologi agama ini, cara pandang seperti ini mengecilkan keunikan yang ada di tiap orang. Tiap individu memiliki keunikan masing-masing, dari agamanya, suku bangsanya, hingga selera makan dan hobinya masing-masing. Keunikan-keunikan inilah yang menurut Adam harusnya dikenali, dipertemukan, dan diperbincangkan.

Menurut Adam, gagasan mencari kesamaan berakar dari gagasan adanya pemisahan antara ruang publik dan ruang privat. “Di ruang privat, Anda boleh jadi siapa saja, Anda bisa suka apa saja,” kata Adam. “Tapi, itu semua cuma di ruang privat. Di ruang publik, beda sama sekali. Ini bermasalah.”

Dengan membatasi keunikan individu di ruang privat, tidak ada keberagaman yang diterima dan dikompromi. Karena di ruang publik–di masyarakat, di tempat kerja, dan lain sebagainya–semuanya tampak seragam. “Yang terjadi [dengan cara pandang ini] adalah menyembunyikan keragaman, bukan mempertemukannya,” ungkapnya.

Ia menilai cara pandang seperti ini harus ditolak karena justru tak bisa mengembangkan masyarakat yang toleran. Tidak ada pertemuan dari identitas yang berbeda. Yang terjadi justru sekilas semua tampak wajar, namun keragaman itu tersembunyi dan terpendam, hingga akhirnya bisa sewaktu-waktu pecah sebagai konflik.

“Dengan mempertemukan perbedaan, kita jadi tak menegasikan diri sendiri. Kita jadi tahu apa saja prasangka kita terhadap orang lain,” tukas pengajar di Universitas Boston ini.

“Kita semua hidup dalam komunitas moral yang berbeda,” lanjut Adam, “Kita semua punya jarak kita sendiri. Jadi kita harus mempertemukan jarak-jarak itu. Atau kita tak akan pernah berhadapan dengan perbedaan,” pungkasnya.