Pemandangan diskon di mall

Religiusitas Kapitalisme

Perkawinan antara kapitalisme dan agama sangat mesra pada bulan Ramadan. Bank Indonesia (BI) mencatat adanya kenaikan signifikan dalam kebutuhan uang tunai periode Ramadhan dan Idul Fitri tahun 2016. Kebutuhan uang tunai pada periode tersebut tahun ini mencapai Rp160,4 triliun (Kompas.com). Dari tahun ke tahun, pola konsumsi selama bulan Ramadhan cenderung meningkat dan tingkat inflasi juga meningkat dibanding bulan lainnya.

Indeks Harga Konsumen (IHK) di bulan Juni 2016 menunjukkan inflasi sebesar 0,59%. Angka ini didapat berdasarkan survei yang dilakukan BI hingga pekan pertama Juni 2016 (infobanknews.com). Tunjangan Hari Raya nanti yang sebesar 1 kali gaji juga memicu pertumbuhan konsumsi ini.

Kita tentu menyadari selama bulan Ramadan ketika menjelang berbuka banyak sekali restoran dan tempat makan mengadakan acara “Islamisasi” dalam menarik pembeli. Bak gayung bersambut, kelas menengah dengan antusias akan memantapkan eksistensinya pada hal ini.

Biasanya masyarakat cenderung bersikap boros pada bulan ini dibanding bulan sebelumnya. Padahal, hal tersebut bertentangan dengan esensi dari ibadah puasa yang menekankan kepada kesederhaan, empati, dan penahanan diri.

Pertemuan agama dengan kapitalisme

Bulan Ramadan merupakan suatu bukti yang cukup nyata bagaimana agama dan logika kapitalisme bertemu dan beradaptasi. Dari artis yang mendadak “saleh”, barang barang konsumsi juga demikian, ustadz dadakan populer, film film religi serta judul acara yang berubah pada sebelum berbuka dan sahur.

Dalam konstruksi kapitalisme, segala hal dapat dikomodifikasi, termasuk agama. Agama yang seharusnya bersifat sakral dan spiritual dapat diubah menjadi sebagai bentuk komoditas yang dapat diperjualbelikan. Nilai agama yang sakral dan profan menjadi transenden sehingga menimbulkan pendangkalan agama/spiritualitas.

Dalam analisis Marxian, ada hal yang disebut sebagai fetisisme. Dalam hal ini, fetisisme adalah sebagai bentuk dari pemujaan terhadap komoditas. Nilai sublim kapitalisme (daya beli) dan iklan berlaku disini. Komoditas yang dibungkus oleh simbol-simbol agama akan laku terjual dalam bulan Ramadan atas nama kesalehan dan munculnya hedonisme religius tentunya.

Dengan adanya fetisisme ini, maka akan berlaku anggapan bahwa komoditas akan menambah kadar religiusitas seseorang. Anggapan semu ini akan membuat seseorang berusaha memilikinya yang terwujud dalam simbol-simbol agama seperti hijab style, frase “berbukalah dengan yang manis”, susu saleha, kurma, dorongan membeli pakaian baru, dan lainnya.

Puasa emansipatoris

Ibadah puasa adalah ibadah yang berintikan pada penahanan diri, entah itu yang bersifat fisik dan non-fisik. Komoditas yang berselimut simbol agama merupakan godaan terselubung bagi umat yang menjalankan puasa.

Puasa, dalam perspektif Sufi yang tertulis dalam prosa Maulana Jalaludin Rumi dan tulisan Ibnu Arabi, merupakan tindakan meniru sifat-sifat Tuhan. Seperti tidak makan dan minum, serta menahan diri dari gejolak nafsu.

Diharapkan dari kegiatan ini, manusia bumi menjadi manusia langit yang mengambil sifat Tuhan seperti Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang berintikan kasih sayang, peduli, dan empati terhadap sesamanya. Sehingga bekas ibadah ini terbentuk tidak hanya selama berpuasa namun juga setelah berbuka puasa.

Puasa juga menekankan kesederhanaan, ini terlihat dari hadis nabi yang ketika berbuka hanya memakan buah kurma dan beberapa teguk air (HR. Abu Daud no. 2356 dan Ahmad 3/164, Hasan Shahih).

Ramadan justru mengisyaratkan logika kapitalisme yaitu beli, beli, dan beli. Adagium Descartes saya ubah sedikit menjadi, “saya beli maka saya ada.” Ini mengubah sedikit pemahaman antara penyadaran nilai spiritualitas dan proses pendangkalan agama dalam selimut simbol-simbol komoditas yang menyebabkan hedonisme.

Dalam kitab suci sudah dijelaskan bahwa sikap boros sangat disukai setan. Sudah seharusnya pula kita sadar akan hal ini.

***

Rujukan

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/06/07/031500126/Ini.Alasan.Kebutuhan.Uang.Tunai.Periode.Ramadhan.dan.Idul.Fitri.Tahun.Ini.Meningkat?utm_source=RD&utm_medium=box&utm_campaign=Kaitrd.

http://infobanknews.com/pekan-pertama-juni-2016-inflasi-059/

Ibnu Arabi, Al Futuhat Al Makiyah (bab 71):NA

Jalaludin Rumi, Fihi ma Fihi (Mengarungi Samudra Kebijaksanaan):Forum.2014

Shaikh, Anwar. Sejarah Teori Kritis: Pustaka Indoprogress. 2016

Sharing is caring!
Share on Facebook5Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page
Heru Purnomo

Tentang Heru Purnomo

Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sehari-hari bekerja di PwC Indonesia, juga bergiat di Youth Proactive Transparency International Indonesia. Saat ini sebagai pembelajar pada program studi agama dan perdamaian di Indonesia Conference on Religion and Peace (ICRP) Jakarta. Baca tulisan lain dari penulis ini

One response to “Religiusitas Kapitalisme

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *