Orang bermeditasi di tengah sepi

Menakar Kehendak

“Jangan ada pernyataan hormatilah orang yang tidak berpuasa. Nanti umat Islam minta dihormati saat ada perayaan Natal atau Nyepi, bagaimana?”

Tahun ini agaknya tampak beda dari puasa di tahun-tahun sebelumya. Walau ritmenya tetap sama, sahur, berbuka, dilanjutkan dengan taraweh, diselingi dengan pelbagai kegiatan berbau spiritual yang uploadable. Bedanya hanya di jagat viral, ketika satuan kepolisian pamong praja di sebuah kabupaten merazia warung makan milik ibu-ibu. Kemudian video razia itu menyebar luas melalui Youtube.

Beragam reaksi muncul dari netizen. Sebagian tidak setuju dengan alasan bahwa itu merupakan tindak semena-mena dengan dalih perbuatan tersebut tidak menghormati puasa, sebagian lain setuju terhadap tindakan tersebut dengan dalih yang sama.

Bagaimana seharusnya meletakkan sikap hormat-menghormati itu? Bagaimana takarannya?

Pertama, dari sudut pandang puasa itu sendiri. Berdasar literatur yang terdapat dalam kitab suci dan kitab-kitab sastra, puasa merupakan laku yang sudah menjadi tradisi manusia sejak zaman lampau. Entah kapan dimulainya, berpuasa adalah perbuatan yang berdimensi transendental: mampu membangkitkan aspek-aspek keilahian dalam diri manusia.

Dalam kitab Ramayana yang digubah oleh Walmiki, diceritakan bahwa para Brahma pergi ke hutan untuk melakukan puasa. Hingga sampai waktu tertentu, at least setelah menerima wahyu atau ketenangan pikiran dari Yang Mahakuasa.

Bukan hanya Brahma, ajaran-ajaran Abrahamik (Yahudi, Kristen, Islam) yang lahir dan besar di jazirah Arab pun memiliki kebiasaan ini. Bahkan Muhammad Abdullah, sebelum diberikan otoritas kenabian, adalah orang yang kerap berpuasa. Tentu saja sebelum Islam lahir (Islam lahir ditandai dengan penerimaan wahyu pertama oleh Muhammad Abdullah), berpuasa adalah hal yang lazim bagi masyarakat Arab kala itu.

Untuk ajaran Kejawen pun, puasa merupakan sebuah laku yang mampu meningkatkan kesadaran untuk mengenal diri sendiri, meningkatkan kewaspadaan, serta mengendalikan hasrat terhadap dunia. Intinya adalah pelbagai agama serta kepercayaan menjadikan puasa sebagai bagian dari ritus ibadah yang memiliki posisi penting.

Kedua, karena puasa memiliki posisi penting dalam peribadatan maka perlu persiapan khusus dan latihan. Pada mulanya orang yang berpuasa memisahkan diri dari kehidupan. Bukan hanya berhenti melakukan beberapa perkara, orang yang berpuasa pergi ke tempat tempat sepi untuk melakukan ibadahnya.

Ini memberikan sedikit gambaran bahwa puasa bukan bermakna menghentikan dunia dalam diri orang lain, tetapi menghentikan dunia dalam diri sendiri. Sebab merasa tidak kondusif jika berpuasa di tengah keramaian, berpuasa di tempat sepi adalah pilihan yang paling ideal. Namun dengan satu catatan, semua pekerjaan mesti ditinggalkan. Tidak mencari nafkah, tidak pula bergaul dengan pasangan dalam waktu yang tidak singkat. Walaupun jauh dari keramaian, puasa ini lah yang membutuhkan persiapan luar biasa.

Apakah pada masa kini bentuk puasa seperti itu? Menurut ajaran Abrahamik yang terakhir, puasa cukup dilakukan selama sebulan penuh, setiap hari dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Dilakukan dengan menahan makan dan minum, serta hal-hal lain yang disepakati membatalkan puasa seperti ber-jima dan ber-istimna.

Puasa jenis ini tidak mengharuskan pelakunya memisahkan diri dari lingkungan. Orang yang berpuasa tentu saja diperbolehkan untuk beraktivitas seperti biasa: bekerja, bersosialisasi, memasak dan menjual makanan, bahkan diperkenankan berhubungan dengan pasangan begitu masuk waktu berbuka.

Ketiga, apakah perlu kondisi yang kondusif agar berpuasa bisa dilakukan dengan lancar? Jawabannya tentu saja iya. Kondisi yang kondusif merupakan keadaan ideal sehingga orang-orang yang sedang berpuasa tidak tergoda untuk membatalkan puasa.

Lantas bagaimanakah kondisi yang kondusif itu? Jika kembali ke poin pertama, kondisi kondusif adalah tempat yang tenang tanpa ada manusia lain (yang tidak sedang berpuasa) di sekitarnya.

Apakah orang yang berpuasa masa kini bisa mendapatkan hal itu? Tentu saja tidak.

Sebenarnya, kondisi kondusif bagi orang yang berpuasa secara esensi pada abad modern begitu susah ditemukan. Jika yang dimaksud adalah kondisi tanpa makanan dan minuman, di mana pun selalu tersedia barang-barang tersebut. Di warung kecil, pasar, supermarket, rumah makan, bahkan keran toilet pun menyediakan minuman bagi orang yang hendak mencuri-curi puasanya.

Jika puasa direduksi maknanya sebagai upaya menahan makan dan minum, maka setiap penjual makanan dan pembuat makanan (yang tampak maupun tidak) adalah orang pertama yang menyebabkan kegiatan berpuasa menjadi terganggu.

Apakah cuma dengan melihat orang menjual makanan lalu orang yang berpuasa mesti membatalkan puasa? Poin ketiga ini lah yang menjadi fokus tulisan ini. Hal inilah yang akan menguraikan, mengapa razia itu sampai dilakukan.

Berdasar berita yang tersebar di pelbagai media, razia warung makan dilakukan sebab dianggap titdak menghormati orang yang sedang berpuasa. Lalu, bagaimanakah seharusnya menghormati orang yang sedang berpuasa? Apakah cukup dengan menciptakan kondisi yang kondusif?

Tentu, menciptakan kondisi kondusif ketika orang-orang beribadah komunal seperti ketika shalat, kebaktian, dan Nyepi merupakan tanggung jawab bersama. Tetapi apakah kondisi yang kondusif ini juga perlu diwujudkan demi membantu kekhusyukan orang yang sedang berpuasa? Tentu jawaban atas pertanyaan tersebut tidak akan dijawab secara eksplisit.

Puasa adalah jenis ibadah sirr: ibadah yang pada hakikatnya adalah persembunyian. Maksud dari ibadah ini adalah tidak ada yang mengetahui apakah seseorang sedang berpuasa atau tidak, selain dirinya sendiri. Jika warung makan dirazia sebab tidak menciptakan kondisi kondusif, apakah razia juga akan dilakukan terhadap warung-warung kelontong dan supermarket yang tentu saja di situ banyak sekali makanan bisa dibeli, dibawa pulang, lalu dimakan sendirian di dalam kamar?

Dari ketiga hal yang telah dipaparkan di atas, penulis memahami betul peran ulil amri (pemimpin) demi mewujudkan suasana yang nyaman bagi masyarakatnya. Namun merazia warung makan, sekali lagi, tentu merupakan tindakan yang kurang tepat: dilakukan dalam upaya menciptakan kondisi yang kondusif secara komunal dengan melupakan hakikat yang sebenarnya bahwa kondisi kondusif dalam berpuasa sifatnya sangat personal.

Tulisan ini hanya sebagai sebuah respon. Tidak bermaksud mendiskreditkan kelompok mana pun, serta tidak bermaksud menyalahkan pihak mana pun. Berbagi gagasan bukan merupakan sebuah dosa kan? Tentu saja perlu dipahami bahwa Indonesia dan semua umat yang ada di dalamnya adalah tanggung jawab bersama. Segala yang ada di dalamnya perlu dirawat baik-baik, sehingga kelak bisa mewujudkan generasi yang luhur dan adiluhung.

Selamat berpuasa bagi kerabat-kerabatku, semoga selalu dilimpahkan kasih dan sayang oleh Ilahi.