Kursi jemuran di stasiun Cakung
Foto: Bangku sandar alias jemuran yang nongkrong di Stasiun Cakung. (Sumber: Arsip pribadi)

Hikayat Jemuran Handuk

hikayat/hi·ka·yat/ n karya sastra lama Melayu berbentuk prosa yang berisi cerita, undang-undang, dan silsilah bersifat rekaan, keagamaan, historis, biografis, atau gabungan sifat-sifat itu, dibaca untuk pelipur lara, pembangkit semangat juang, atau sekadar untuk meramaikan pesta.

Ini adalah hikayat puluhan benda panjang dan tinggi yang kini tertanam di setiap stasiun kereta rel listrik di Jabodetabek. Mereka mengudeta kursi besi atau kayu panjang yang dahulu dijadikan media duduk yang nyaman bagi penumpang kereta. Dengan label “kursi sandar”, benda ini kini mulai dimusuhi para rombongan kereta.

***

Sabtu, 28 Mei 2016, sekitar jam dua siang. Saya berada di Stasiun Cakung, stasiun paling timur di DKI Jakarta, dalam rangka urusan bertemu teman di kawasan Senayan. Cuaca saat itu panas terik, membuat saya dan calon penumpang yang sedang menunggu kereta rel listrik (KRL) Commuter Line tampak lelah dan segera mencari tempat istirahat. Tentu saja tiada pilihan lain selain duduk di tempat yang disediakan pihak stasiun.

Dan saya terpaksa “duduk” di tempat yang seperti ini.

Jemuran stasiun

Ya. Inilah kursi sandar. Pengganti kursi. Secara teori benda ini bisa diduduki. Sayangnya bila benar-benar diduduki, pantat terasa tidak nyaman. Tampang benda ini yang seperti tempat jemuran handuk membuat benda ini dikenal para komuter KA Commuter Jabodetabek sebagai, tentu saja, “jemuran handuk”.

Bagi pengguna kereta yang butuh duduk, kehadiran jemuran ini adalah hal yang mengesalkan. Saya pun juga merasakan. Benda ini praktis membuat pantat harus bersandar, tidak bisa sempurna untuk duduk. Saya yang harus menunggu kereta ke arah Jakarta Kota sangat terganggu penggunaan alat ini, mau bersandar pun susah karena kaki jadi pegal. Untuk duduk pun tidak nyaman karena alas pantat ke palang jemuran seluas seadanya. Mau jongkok? Malu weee.

Maka tidak heran jika calon penumpang yang tidak senang bersandar (tapi ada saja yang dengan senang hati menggunakannya) melakukan hal seperti di foto ini.

Orang duduk di pot stasiun
Foto 2: Taraa. Duduk manis di pot. Lihat yang di ujung sana. (Sumber: arsip pribadi)

Lalu, dari mana asalnya?

Jemuran stasiun luar negeri
Foto 3: Kalau di luar negeri, konsep bangku sandar bentuknya seperti ini. (Sumber: daytechlimited.com)

Pemasangan jemuran handuk ini dimulai dari Stasiun Manggarai, medio akhir 2015. Nyaris seluruh kursi panjang yang sebelumnya digunakan untuk duduk ditukar menjadi jemuran.

PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) berkilah bahwa pemasangan jemuran ini dilakukan untuk mengakomodasi penumpang yang ingin rehat saat tengah menunggu kereta datang, tetapi tanpa perlu memakan tempat yang banyak. “Kalau bangku yang biasa, kan makan space yang banyak. Makanya, kami tata peron dengan meminimalkan bangkunya,” kata Direktur Utama PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) Muhammad Nurul  Fadhila dikutip Kompas.com, Senin (28/12/2015). Dianggap cukup potensial, menjamurlah kursi-kursi seperti ini di beragam stasiun tempat bersinggahnya KRL. Termasuk Stasiun Cakung ini.

Pemandangan Stasiun Cakung
Foto 4: Sebelum adanya bangku sandar, Stasiun Cakung masih membawa bekas rel sebagai bahan tempat duduk. (Sumber: heritage.kereta-api.co.id)

Lantas, lanjut Fadhila, bangku sandar ini dipakai untuk penumpang biasa. Tidak semua kursi di Manggarai habis dilibas jemuran. Sisa kursinya dipakai untuk penumpang berkebutuhan spesial seperti ibu hamil, ibu yang membawa anak balita, penyandang disabilitas, dan orang lansia.

Tapi toh juga bakal seperti ini kejadiannya.

Satu lelaki dan dua perempuan di kursi prioritas di suatu stasiun
Foto 5: Tetap saja, namanya orang lelah, kalau ada kursi, mau apapun peruntukannya, ya duduk saja. (Sumber: Kompasiana.com)

Mengeluh

Dua perempuan duduk di kursi normal Stasiun Palmerah
Foto 6: Kursi dari palang besi yang disediakan Stasiun Palmerah. Semoga tidak diganti jemuran ya. (Sumber: Arsip pribadi)

Tentu saja ada yang tak senang dengan kehadiran jemuran ini. Oke, mari kita mulai dengan keluhan dari pengguna KRL harian yang berhasil direkam detikcom.

Di Manggarai, the origin of jemuran, dua orang yang berhasil diwawancara detikcom mengadu bahwa dengan adanya jemuran, mereka kesulitan duduk. “Kita di kereta udah berdiri, begitu keluar setidaknya pingin duduk, terlebih dengan kondisi barang banyak seperti ini. Paling nggak kalau ada bangku kita bisa istirahat,” papar Nurul, warga Bojong Gede yang ingin bangku di Manggarai kembali.

Kemauan Nurul akan kembalinya bangku seperti semula turut diutarakan Titis, warga Depok. “Jadi kita nggak terlalu capek kayak gini mas, kebayang berdiri terus selama di kereta begitu transit bisa duduk, eh malah berdiri lagi,” ucap Titis. Disimpulkan dari dua pengakuan di atas, bangku sandar ini bikin penumpang makin capek karena kaki tak bisa istirahat.

Dari laman Media Indonesia pun nasibnya sama. Beberapa orang yang diwawancarai media itu mengeluhkan,

“Bentuknya aneh,” Mursinah, 42, pengguna KRL di Tanah Abang asal Sudimara, Tangerang Selatan.

“Ya tetap enak menunggu kereta sambil duduk di kursi biasa. Saya sih masih kuat berdiri menunggu kereta. Yang kasihan itu kalau melihat orang tua yang bersandar di besi,” Anton, 36, warga Jatinegara, Jakarta Timur.

Screenshot petisi tolak kursi jemuran, change.org
Foto 7: Ini petisinya. (Sumber: change.org)

Maka problema-problema itu tertuang dalam sebuah petisi daring di change.org, sebuah situs tuntutan nomor satu sedunia. Dalam laman itu, Rahmat Ali, pencetus petisi, beropini bahwa penggantian bangku ke jemuran ini kurang beralasan seperti pihak KCJ katakan: penumpang hanya sebentar berada di stasiun untuk menunggu kereta, plus kursi yang makan tempat mengganggu arus manusia di stasiun.

Thus, kenyataan berbalik, menurutnya: kereta sering telat, penumpang berjubel. Mau duduk pun makin susah karena makin banyak bangku tergantikan oleh jemuran ini. Dampaknya,

Keberadaan bangku yg berubah jadi “jemuran handuk” tidak friendly untuk kebanyakan orang, tidak selalu penumpang KRL adalah orang yang sehat bugar karena ada juga balita/anak2, ibu membawa bayi/balita, manula, difabel. Bangku biasa sebelum berubah fungsi itu dapat dijangkau dan diduduki oleh golongan orang yang disebut (balita/anak2, ibu bawa bayi/balita, manula, difabel, dsb), kini mereka terpaksa memilih, bersandar atau mengampar/lesehan di bawah dengan konsekuensi bahwa bokong mereka akan kotor,jika musim hujan akan becek/basah.

Yang pencetus petisi (plus pendukungnya) mau hanyalah,

'Kembalikan fungsi bangku stasiun seperti semula, jangan pakai jemuran handuk'
Foto 8: All hail jemuran handuk! (Sumber: change.org)

Apapun silang pendapat seputar jemuran handuk ini, saya yang cukup rutin menggunakan KRL untuk pulang-pergi dari rumah saya ke pusat kota Jakarta (dan pengguna KRL lainnya) tentu perlu mengetahui apa sikap KCJ setelah jemuran handuk ini menginvasi stasiun seluruh Jabodetabek. Tapi, tentu saja kita, pengguna KRL, tetap saja menggunakan benda ini untuk bersandar, ‘kan?

Ah… sebuah kisah benci tapi mencintai, laksana hikayat-hikayat yang telah banyak kita temui dan baca. Hehehe.

Sharing is caring!
Share on Facebook1Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

One response to “Hikayat Jemuran Handuk

  1. Ngga sih mas, mending saya ngemper di tanah daripada pundak dan pantat saya sakit bawa tas 5kg sambil nyender di jemuran gitu setiap hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *