islam, gender, seksualitas
Foto: Setiaji Wibowo/Youth Proactive

Akademisi: Kaum Luth Diazab Bukan Karena Homoseksual

Dalil yang dipakai untuk mendiskriminasi LGBT adalah dalil tentang hukuman Tuhan kepada umat Nabi Luth. Ternyata tipikal hukuman yang diberikan kepada umat Nabi Luth tidak berbeda dengan hukuman yang diberikan kepada umat lain yang membangkang, sebagaimana dijelaskan Profesor Mun’im Sirry dalam diskusi di Komnas Perempuan (21/6).

“Nabi-nabi dalam al-Quran digambarkan dengan pola yang sama, yakni diutus kepada suatu kaum untuk memberi peringatan,” ujar Mun’im. Pola ini yang dinamakan dengan mono-prophetic. Sebagian ada yang menerima ajakan ini dan sebagian ada yang menolak. Orang-orang yang menolak ini kemudian akan diazab Tuhan, seperti yang dilakukan kepada umat Nabi Luth.

Menurut Mun’im, istilah-istilah yang digunakan untuk menyebut dosa kaum Luth ternyata bukan istilah khusus yang hanya ditemui di kasus Nabi Luth. Istilah seperti fahisyah (immoral), syahwah (nafsu keinginan), musrifun (belebih-lebihan), dan mujrimun (pendosa) juga digunakan dalam Qur’an untuk menyebut perbuatan yang dikecam lainnya.

Ayat yang digunakan untuk menolak LGBT dalam Islam berbunyi, “Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.”

Berdasarkan pemaparan Mun’im, pemahaman terhadap ayat ini biasanya memaknai kesalahan umat Nabi Luth karena mereka telah melakukan hubungan sesama jenis.

Namun lulusan pesantren Al-Amin Madura ini memilik pemahaman yang berbeda.

Menurutnya ada tiga penyebab mereka diazab. Pertama, mereka diazab karena berselingkuh, padahal mereka telah memiliki istri sendiri. Kedua, Tuhan melaknat mereka sebab telah memaksakan hubungan seksual kepada orang yang tidak memiliki keinginan atas hubungan itu (non-consensual sex). Ketiga, siksa itu turun oleh karena mereka melakukan kekerasan kepada tamu yang seharusnya mereka sambut.

Dari situ muncul pertanyaan besar apakah benar kaum Luth diazab Allah memang benar karena perbuatan seks sesama jenisnya?

Profesor Mun’im memaparkan pandangan Ibnu Hazm, seorang ulama klasik Islam dari Andalusia, yang tidak melihat seperti itu. Dalam kitabnya al-Muhalla, ulama itu menolak pandangan yang mengaitkan azab kaum Luth dengan perbuatan seks sesama laki-laki, tapi justru karena penolakan mereka tehadap ajakan nabi Luth dan misi keilahiannya.

Ia melanjutkan, ulama empat madzhab (Hanbali, Syafi’I, Maliki, dan Hanafi) menganggap hubungan sesama jenis (sodomi) sebagai pelanggaran.  Namun karena Qur’an tidak menetapkan hukuman tertentu soal sodomi, tiga madzhab (madzhab Maliki, Syafi’i, Hanbali) menggunakan analogi dengan menyamakan perbuatan sodomi dengan zina yang hukumannya adalah had. Sedangkan madzhab Hanafi tidak mau menggunakan analogi dalam konteks ini dan berpendapat bahwa hukuman sodomi adalah ta’zir (sepenuhnya diserahkan kepada penguasa).

Dosen yang mengajar teologi agama di University Notre Dame ini menyimpulkan bahwa hukum tentang hubungan sesama jenis masih bisa direinterpretasi. Masalah hubungan sejenis masuk dalam urusan fikih (pemahaman hukum), bukan urusan syariah (persoalan normatif di kitab suci). Menurut akademisi ini, fikih terbuka untuk dipikirkan ulang, karena itu tidak ada fikih yang final.

“Mereka yang bilang (hukuman sesama jenis) adalah hal yang qath’i (pasti), jelas mereka tidak kenal buku fikih dan tidak kenal tradisi keilmuannya sendiri,” pungkas Profesor Mun’im.

Sharing is caring!
Share on Facebook4Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

27 responses to “Akademisi: Kaum Luth Diazab Bukan Karena Homoseksual

    1. Ahli bego, jelas di Qur’an itu, di datangkan bidadari dari langit saja mereka Nggk mau (kaum nabi Luth itu).
      LGBT itu tdk sama dgn selingkuh. Selingkuh itu kesenangan dgn lawan jenis. Kalau sesama jenis blum ada namanya.

      ini ahli jgn2 golongan LGBT jg nich..

  1. Ayatnya sdh jelas tp kok interpretasinya ngawur ya? “Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” Masa diartikan sbg selingkuh, hubungan dgn unsur pemaksaan dan tidak menghormati tamu? Akademisi gemblung ini.

    1. Kata mendatangi itu adalah perkosan akang, jelas kan, mendatangi dalam hal ini keinginan yang bernafsu bukan yang di datangi, belajarlah ilmu bahasa lagi. Quran memiliki bahasa yang halus dan tingkat tinggi.

    2. Dalam hal ini kisah luth bukanlah ayat hukum,sehingga penafsirannya harus menggabungkan semua kisah luth dalam Quran, di sebutkan pula mendatangi pria padahal mereka sudah memiliki istri, jadi jelas bukan yang dimaksud wanita adalah istri mereka sendiri.

      Lalu tidak hormat pada tamu, saya tanya, bila anda mencintai seseorang apa anda ingin mengusir mereka? Kisah ini dikatakan mereka meminta luth menyerahkan tamunya (berarti pemaksaan yang tidak hormat pada tamu) lalu mereka ingin mengusir luth dan tamunya (malaikat).

      Coba gunakan akal sehat anda, pernahkan anda meminta secara beramai2 orang yang sampean cintai dengan paksa dan mengusir orang yang anda cintai? Tolong jangan artikan kisah luth hanya di satu ayat, tapi iqra lah semua kisah luth tsb.

  2. Yaa sok aja cari cari pembelaan, memang benar yang semakin pintar itu jika tidak difahami dengan benar tidak ada bedanya dengan yang bodoh

  3. Mari pikir dengan logika, apabila Tuhan tak melarang hubungan sesama jenis, apa yang akan terjadi pada dunia ini?
    Bukankah Tuhan telah menciptakan seluruh hal berpasang-pasangan?

    1. Penyakit??

      Homosexuality is not a mental disorder. All of the major medical organizations, including The American Psychiatric Association, The American Psychological Association, and the American Academy of Pediatrics agree that homosexuality is not an illness or disorder, but a form of sexual expression.

      1. DSM 5 itu pertentantangan 50% dunia menolak 50% menerima. DSM dikeluarkan oleh APA (America Psychiatrics Association). Bahkan di DSM 1 Homo termasuk dalam klasifikasi gangguan jiwa. lama kelamaan bergeser ke arah kelainan seksual dan hilang. kenapa hilang? karena banyak orang di dalam APA adalah penyuka sesama jenis. Sumber saya sahih. saya psikolog klinis. Indonesia masih ake PPDGJ 3, dan di dalam PPDGJ itu masih gangguan jiwa.

  4. Nah, ini akibatnya kalau orang sudah merasa pintar untuk menetapkan hukum sesuatu padahal pemahamannya terhadap Alquran dan sunnah sangat terbatas. Ini alasannya kita merujuk firman Allah,'”Bertanyalah kepada ahlinya apabila kamu tidak mengetahui”. Para ahli (ulama) dari kalangan mazhab manapun sejak dulu sampai hari ini berpandangan bahwa perbuatan tersebut adalah maksiat yang wajib dijauhi dan wajib dijauhi. Tidak ada satupun yang mentolerir perbuatan tersebut. Maka menjadi kewajiban pemerintah dan setiap umat Islam di seluruh dunia untuk memerangi LGBT yang sangat merusak itu. Jadi ayat Alquran jangan coba sengaja dikaburkan hanya untuk melegalkan LGBT, bisa kualat nanti lho….

  5. Mohon perhatikan judul dan konten pemikirannya, ” Kaum Luth Diazab Bukan Karena Homoseksual”. Jadi, ini bukan membahas Homosexual bener atau salah, karena sudah pasti SALAH dalam pandangan mayoritas penduduk yang beragama. Tapi, bagi yang tidak sepaham, apakah harus DIBUNUH. Dasar kaum Barbar! Biarlah ALLAH yang menghukum atau membunuh mereka.

  6. Al Qur’an itu sudah pasti benar, tapi yang sudah pasti benarpun terkadang karna keterbatasan kita jadi salah memahami.
    Yang kita harus ingat Allah menciptakan kita berpasangan,yang kita bisa fahami dengan berbeda tapi saling melengkapi. Kesimpulannya sesama jenis itu haram.

  7. Mengapa hukum sesama jenis LGBT di reinterpretasikan lagi dalam islam?
    jelas jelas Al Qur’an di surat Al Isra(17) ayat 32. “Janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”
    untuk yang LGBT silahkan tetap menjadi LGBT bila menganggap itu bukan penyakit. Tapi ingat jangan dekati zina apalagi berzina. hukum islamnya sudah jelas dan tidak perlu interpretasi lagi.

  8. walah.. kok pada ribut masalah ginian. klo berebut benar g ada ujungnya,
    berebut benar malah menimbulkan konflik dan perpecahan

    klo memang semuanya disini mengaku islam mari kita kembali kepada diri kita sendiri, sudahkah kita menjadi islam yang sebenarnya?

    “Saya bersaksi tiada tuhan selain allah”

    dan itu adalah yg menjadi syarat utama kalian mjd org islam, sudahkah kalian mengenal siapa yg kamu saksikan itu? ataukah kalian menjadi saksi dengan hanya tau namanya saja?

    duh.. dlm islam utk jadi saksi ternyata gampang banget ya? g perlu sampe tau siapa yg di saksikan LOL

  9. Memutarkan lidah sesuai dengan keinginan hawa nafsu. Nabi melaknat lelaki berpakaian wanita, inikan pula memuaskan nafsu didubur lelaki

  10. Hanya ada dua sebutan ntuk kaum LGBT dan manusia2 yg mendukungnya…mereka adalah orang2 yg sakit jiwanya dan orang yg telah murtad akan ajaran agamanya ( klo mereka punya agama loh)

  11. Saya LGBT dan sejujurnya tidak ada satupun LGBT yang mau diciptakan seperti ini, termasuk saya. Banyak manusia normal yang menyebut LGBT itu sakit jiwa atau penyakit padahal perkataan mereka itu jangan2 hanya opini yang diyakini sebagai fakta. Katanya bisa disembuhkan dan ada obatnya, ya bukti realnya apa, jangan hanya berkoar dimedsos. Turun langsung kalau perlu, biar tahu kalau LGBT itu alami sekali, persis seperti keadaan laki2 mencintai wanita dan sebaliknya. Dan setau saya belum ada LGBT yang sembuh menjadi normal. Kalaupun ada, saya meragukannya, karena saya sudah mencoba sendiri untuk berubah jadi normal tapi tidak berhasil, begitu juga dengan teman LGBT saya. [Saya butuh solusi, bukan komen negatif ya]

  12. Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa (MAHA 1, BUKAN 3), Hanya Allah-lah tempat bergantung;
    Dia tidak beranak (GAK PUNYA ANAK), serta Dia tidak pula diperanakkan (GAK PUNYA IBU), Dan tiada satupun yang setara dengan Dia
    (QS. Al-Ikhlas 1-4)

    semua umat islam tahu siapa yang disaksikan LOL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *