Poster film Prenjak
Ilustrasi: Poster film Prenjak.

Prenjak, Ciblek, dan Burung Lainnya

Membicarakan eksploitasi tubuh dengan puitis—tapi gelap dan nakal—membuat Prenjak menjadi film Indonesia pertama yang meraih predikat film pendek terbaik dalam kategori Semaine de la Critique rangkaian Film Festival Cannes.

Ciblek

Ciblek (Prinia familiaris) akan punya makna yang beda jika Anda googling dengan menyematkan kata Jogja setelahnya. Berbagai ragam soal praktik prostitusi akan membanjiri halaman-halaman pencarian. Dari tempat prostitusi, cerita pekerja seks, Jogja underground stories, perlawanan moralitas agama, hingga peringkusan oleh aparat.

Ciblek di Jogja bisa berarti sebuah akronim: cilik-cilik betah melek. Istilah ini beken dilekatkan pada perempuan remaja yang keluar malam. Propaganda Orde Baru dan pamali Jawa yang menabukan perempuan keluar malam membuat akronim ini kian bergeser menjadi cilik-cilik isa digemblek. Istilah ini menjadi melekat dengan perempuan remaja pekerja seks.

Mereka bekerja di Alun-alun Kidul, menepi dari wilayah Pasar Kembang yang sudah dikuasai oleh perempuan dewasa.

Mereka biasanya menjual batang-batang korek api dengan harga yang lebih mahal dari harga biasanya. Harga itu adalah untuk nyala yang digunakan untuk melihat vagina. Scene pendek pada dua film Garin Nugroho—Daun di Atas Bantal (1998) dan Aach… Aku Jatuh Cinta (2015)—akan mengingatkan kita pada praktik prostitusi ini.

Prenjak

Wregas Bhanuteja memvisualkan cerita itu—yang hanya ia dengar dari temannya dan tak sempat ia lihat langsung—menjadi Prenjak. Ia memfilmkan visual cerita yang begitu mengganggu benaknya ini. Karena tak pernah melihatnya (tapi saya yakin ia pernah melihat ini di secuplik scene film Garin), ia berusaha mengkontekstualisasi praktik prostitusi 80-an ini ke dalam imajinasi pribadinya yang kelahiran 1992.

Yang menjual korek adalah Diah (Rosa Winenggar). Harga korek itu 10 ribu rupiah per batang. Jarwo (Yohannes Budyambara) awalnya membelinya satu batang, kemudian mengeluarkan tiga lembar sepuluh ribu yang lusuh. Di sebuah gudang restoran kecil pada saat jam istirahat, transaksi itu terjadi. Dengan nyala korek itu, Jarwo bisa melihat vagina Diah di gelap bawah meja.

Diah adalah seorang single parent yang ekonominya terdesak meskipun ia bekerja di restoran itu. Ia butuh duit untuk bayar kontrakan. Ia mendesak Jarwo untuk membeli koreknya. Si juru masak ini terpaksa mesti meninggalkan tugasnya membuat pizza dan menerima tawaran Diah.

Interpretasi ciblek di 12 menit film ini terasa segar. Ia bukan lagi soal prostitusi, tapi juga soal keluarga. Di titik ini lah ciblek menemukan bentuknya yang lebih elegan. Mungkin dari sini pula film ini tak mau diberi judul ciblek, tapi lebih memilih nama lainnya yang berarti sama tapi lebih elegan: prenjak.

Film-film Wregas, jika dikelompokkan, hanya terdiri dari dua kategori saja: realis dan eksperimental. Di filmnya yang realis, film Wregas bertumpu pada kekuatan narasi yang ia sendiri merasa sayang jika harus diotak-atik dalam bentuk eksperimental yang nyeni. Narasinya sudah terlalu kuat.

Kekuatan narasi di film-film Wregas itu lekat dengan tema keluarga. Senyawa (2012) bercerita tentang gadis Kristiani yang merekam Ave Maria bersamaan dengan lantunan ayat Quran yang dibaca ayahnya sebagai hadiah untuk mendiang ibunya. Lemantun (2014) bercerita tentang bagi-bagi warisan berupa lemari di sebuah keluarga kecil di Yogyakarta. Sisanya, The Floating Chopin (2014) dan Lembusura (2014) sangat kental sebagai film ekperimental.

Burung lainnya

Saya sulit setuju dengan komentar bahwa film ini rawan terpeleset pada wacana patriarkis, misoginis, dan/atau eksibisonis.

Film ini tak bisa disebut patriarkis hanya karena Jarwo menyarankan Diah untuk bersuami agar urusan finansialnya selesai. Di film ini, Diah dengan sendirinya melawan stereotip itu dengan tetap bekerja dan mengambil kuasa atas dirinya sendiri—juga anaknya.

Film ini tak bisa disebut misoginis dan/atau eksibisonis cuma karena Diah terasa menikmati saat melihat penis Jarwo. Menurut saya, Diah yang dipaksa (atau lebih tepatnya terpaksa) melihat penis Jarwo bukan suatu pelecehan. Bukan juga sebuah ujud ketakberdayaan perempuan pada kuasa laki-laki.

Yang terjadi justru sebaliknya. Diah adalah perempuan yang mampu bergulat hingga akhir. Saat dia yang menawarkan korek, dialah yang memegang kuasa dengan menegaskan aturan main permainan. Dan yang paling kuasa adalah melarang Jarwo untuk memegang vaginanya.

Saat Diah terpaksa mesti mengiyakan tawaran Jarwo untuk melihat penisnya dalam hitungan 30 detik korek gas, Diah memegang kendali dengan otonomi penuh: memejam atau melihat.

Saya justru khawatir, pandangan komentator lah yang misoginis dan patriarkis. Perempuan seringkali distereotip sebagai manusia yang lemah dan perlu dikasihani. Persepsi ini berkontribusi pada konstruksi sosial (yang disokong nilai-nilai religiusitas) yang selalu menempatkan perempuan di bawah laki-laki dalam relasi apapun, termasuk relasi dalam film Prenjak ini.

Alih-alih sebagai sentral cerita, alat kelamin di film ini memang hanyalah scene yang diperlukan untuk mengalirkan narasi besar yang dibangun Wregas: woman who struggles until the end. Ini bisa kita lihat dari bagaimana penis dan vagina itu digambarkan.

Di Prenjak, alat kelamin ditampilkan as it is—apa adanya, sederhana, dalam cahaya yang remang. Dan karena itulah ia jadi puitis. Ia tak memaksakan diri menjadi alat kelamin yang digambarkan sebagai barang yang lux dengan cara yang binal, sensual, dan bikin ngaceng. Di sisi lain, ia juga tak ditampilkan dalam bentuknya yang grotesk sebagai kelamin yang menjijikan, tempat keluarnya kotoran, atau sebagai komoditas yang dieksploitasi serampangan.

Vagina dan penis yang ditampilkan secara gamblang juga berhasil membikin efek kejut pada konstruksi sosial kita yang diam-diam masih menabukan kelamin dan hal-hal di sekitarnya—seksualitas, moralitas, identitas. Kemunculannya di layar berhasil membuat penonton jadi kikuk, mesti tertawa tapi berubah getir saat akhir cerita.

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *