Gereja Katedral berdampingan dengan Masjid Istiqlal

Apakah Indonesia Negara Sekuler?

Perdebatan tentang Indonesia sebagai negara agama atau negara sekuler masih berlanjut sampai saat ini. Sebagian menilai Indonesia bukanlah negara sekuler dengan kehadiran sila pertama dalam Pancasila yang berbunyi, “Ketuhanan Yang Maha Esa.” Sebagian lagi berpendapatan Indonesia adalah negara sekuler karena keberagaman yang ada di dalamnya.

Menurut golongan pendukung sekularisme, guna mencegah konflik horizontal antar umat beragama maka Indonesia seharusnya menjadi negara sekuler. Pendapat ini spontan menyudutkan posisi Pancasila. Ideologi negara seolah kembali dipergunjingkan.

Berkaca dari Turki

Akhir April lalu, Antaranews.com melansir pernyataan Presiden Turki Tayyip Erdogan bahwa sebuah negara seharusnya memiliki jarak yang sama dari semua agama. Seruan Erdogan ini adalah respon menyusul seruan sebelumnya dari ketua parlemen Turki yang tengah mengupayakan pembentukkan konstitusi baru menghapus rujukan-rujukan kepada sekularisme.

Erdogan secara tegas menyatakan, proposal penghapusan sekulerisme tak sejalan dengan prinsip-prinsip mendirikan republik Turki, yang mayoritas penduduknya Muslim tetapi sekuler. Republik Turki memang mengamandemen Undang-Undang Dasar 1924 dengan menghapus Islam sebagai agama resmi negara. Langkah tersebut dipandang sebagai sebuah wujud dari Republik Turki yang modern, demokratis dan sekuler. Konstitusi yang berlaku tidak menonjolkan agama manapun.

Turki berpenduduk mayoritas Muslim Sunni. Meski demikian seperlima dari 78 juta jiwa penduduknya penganut Alevi, yang beraliran Syiah, Sufi dan tradisi Anatolia. Turki juga memiliki 100.000 orang yang beragama Kristen dan 17.000 Yahudi.

Berdasarkan data yang disiarkan Antaranews, survei Pew Research pada 2013 menunjukkan bahwa 12% orang Turki menginginkan hukum syariah, hukum yang berlandaskan Islam.

Membaca Turki seperti membaca Indonesia. Sampai saat ini Indonesia memang kerap bertempur dengan perang antar-agama akibat intoleransi. Dengan dasar negara Pancasila, sejumlah permasalahan terkait kebebasan beragama dan intoleransi perlu mendapatkan perhatian dan kajian lebih lanjut.

Apakah Pancasila sudah tak lagi cukup sahih menjadi landasan hidup bernegara dan kebebasan beragama? Lantas, apakah Indonesia sungguh pernah memasuki fase sekulerisme?

Pada tanggal 1 Juni lalu, Presiden Joko Widodo secara resmi menyatakan 1 Juni sebagai Hari Kelahiran Pancasila, sehingga tanggal itu dijadikan hari libur nasional. 1 Juni di tahun 1945 adalah tanggal pidato Soekarno tentang konsep Pancasila ke hadapan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Konsep tersebut dilahirkan Soekarno dalam masa-masa pengasingan di Kota Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Salah satu gagasan Pancasila adalah tentang kehidupan beragama yang damai dalam keberagaman. Gagasan itu adalah hasil refleksi Soekarno selama menjalani pengasingan di Kota Ende yang mayoritas muslim tetapi sangat toleran terhadap umat beragama lain.

Soekarno menyatakan, formula sila pertama menunjukkan sebuah gagasan bahwa adanya “Tuhan” yang bisa dipegang, diyakini, dipercaya oleh semua elemen masyarakat. Seperti yang dikutip dalam pidato Soekarno,

Dan formulering Tuhan Yang Maha Esa bisa diterima oleh semua golongan agama di Indonesia ini. Kalau kita mengecualikan elemen agama ini, kita membuang salah satu elemen yang bisa mempersatukan batin bangsa Indonesia dengan cara yang semesra-mesranya.

Soekarno adalah seorang penganut agama Islam yang toleran. Menurut Soekarno, Islam memiliki nilai-nilai ajaran nabi yang sarat dengan pencapaian terhadap kebajikan.

Bagi Soekarno, Tuhan adalah sebuah kenyataan. Berangkat dari keyakinan bahwa perubahan berada dalam diri manusia, bukan Tuhan, dan setelah mendalami sejarah dan karakteristik bangsa Indonesia yang beragam, Soekarno memutuskan kata “Ketuhanan” menjadi sila pertama guna mengakomodasi semua keyakinan. Hal ini juga secara otomatis menjadi penanda bahwa bangsa Indonesia sekalipun mayoritas muslim bukanlah negara agama.

Prinsip itu ternyata tetap menjebak Soekarno. Jika Indonesia bukan negara agama, apakah Indonesia adalah negara sekuler?

Indonesia bukan negara sekuler

Berbagai permasalahan intoleransi di Indonesia menampakkan wajah dampak ketidaksempurnaan integrasi kepercayaan masyarakat agamis menuju sekuler. Anehnya masyarakat Indonesia juga sebagian mengklaim diri sudah memasuki fase pasca-sekuler. Nyatanya, masyarakat Indonesia belum menjadi masyarakat sekuler, hal ini tercermin dengan semakin banyak catatan sejarah terkait konflik horizontal antar warga akibat konflik agama.

Negara Indonesia mengakui agama, tetapi Indonesia bukan negara agama apalagi memakai agama sebagai landasan hukum bernegara dan bermasyarakat. Sebagai konsekuensi mengakui agama dalam kesatuan hidup bernegara, alhasil agama tidak akan mati di Indonesia.

Secara garis besar pemaparan J. Sudarminta dalam makalah Extension Course yang berjudul Sekularisasi dan Kembalinya Yang Sakral, dengan menggunakan pisau analisis dari Charles Taylor, Indonesia sepertinya belum pernah mengalami fase sekularisasi murni. Sekularisasi terjadi akibat dari perubahan sosial masyarakat ke arah rasionalisasi dan modernisasi. Hal ini ditunjukkan dengan bukti-bukti masih ramainya praktik hidup beragama di Indonesia, rumah-rumah ibadah yang tak pernah sepi apalagi ditinggalkan.

Sekularisasi di Indonesia lebih ditandai dengan industri dan bisnis. Misalnya, produk-produk yang dikonsumsi masyarakat wajib mendapatkan label halal. Ciri lainnya, hari raya keagamaan juga dimanfaatkan untuk memperkuat industri pariwisata kerohanian. Contoh lain, industri pakaian atau fashion yang menjadikan cara berpakaian dalam agama sebagai trend masa kini.

Indonesia memang tak mengalami transformasi sempurna menjadi negara sekuler ataupun pasca-sekuler. Keputusan individu di Indonesia menjadi sekuler bukanlah sebuah diskursus yang mendapatkan ruang di Indonesia.

Lekatnya sendi agama di Indonesia jelas menyulitkan proses sekulerisasi. Agama masih begitu sarat dalam kehidupan berpolitik dan pengambilan kebijakkan publik. Kentalnya agama mayoritas mungkin menjadi penyebab Soekarno merefleksikan sekulerisasi di Turki: pemerintahan secara tegas memisahkan agama dengan negara.

Menurut buku Di Bawah Bendera Revolusi jilid I, Soekarno menyatakan bahwa sesungguhnya keputusan Turki menjadi negara sekuler tak berarti menandakan Turki mengampanyekan diri sebagai anti Islam. Sebaliknya, Soekarno mencoba menarik garis pembatas yang menjernihkan argumentasi pemerintah Turki dengan menyatakan ulang pernyataan Menteri Kehakiman Turki, Mahmud Essad Bey,

Agama itu perlu dimerdekakan dari belenggu pemerintah agar ia menjadi subur.

Menurut Mahmud Essad Bey, ketika agama dipakai untuk memerintah sebuah negara, maka dia berpotensi digunakan sebagai alat penghukum oleh tangan penguasa.

Tak selesai sampai disitu, Attaturk juga mengatakan;

Saya merdekakan Islam dari ikatan negara, agar agama Islam bukan hanya menjadi agama memutar tasbih di dalam masjid saja, tapi agar menjadi satu gerakan yang membawa kepada perjuangan.

Menurut Soekarno, sekularisasi Turki disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, kondisi Turki setelah Perang Dunia I (1914-1981) yang sangat terpuruk. Hal ini terlihat dari faktor ekonomi: umat Islam di Turki tak mampu menyehatkan perekonomian. Kritik tersebut bukan mengenai ajaran Islam yang tak mendorong pemulihan ekonomi tetapi perilaku umat Islam yang kekeuh karena pengaruh ajaran-ajaran tarekat.

Kedua, persatuan agama dan negara di Turki acapkali melahirkan dualisme yang biasa disebut Soekarno, “satu hal berbatin dua”. Contohnya: kekhalifahan berlandaskan hukum-hukum Islam, tetapi di sisi lain, sabda sultan juga menjadi aturan-aturan yang diberlakukan di dalam kehidupan masyarakat, dan tak jarang sabda tersebut tak sejalan dengan syariah. Hal ini juga kerap terjadi di Indonesia, di beberapa daerah khususnya hukum-hukum agama diberlakukan untuk memberikan hukuman.

Bagi Soekarno, Attaturk menghendaki Islam terbebas dari belenggu kekuasaan dan politik. Dia juga tak menghendaki negara masuk ke agama melalui aturan fatwa-fatwa ulama Islam yang membelenggu. Pada hakikatnya, Islam perlu dibebaskan dari negara agar Islam menjadi kuat dan negara menjadi kuat dan merdeka secara kokoh.

Untuk mengantisipasi sejumlah kekhawatiran Attaturk agar tak terjadi di Indonesia, Soekarno sempat melahirkan pidato keras berjudul Islam Sontoloyo. Tulisan berjudul yang dimuat dalam Pandji Islam itu menuliskan argumentasi Soekarno tentang bagaimana pemuka agama menyalahgunakan posisinya untuk melakukan pembenaran atas tindakan-tindakannya yang salah.

Misal, Soekarno mengkritik bagaimana seorang kiai memperkosa anak pesantrennya. Dengan sejumlah dalih agama, sang kiai bisa lolos dari jerat hukum, misalnya, dengan menikahi anak pesantren korban perkosaan tersebut.

Sayangnya sampai saat ini pemaknaan terhadap sejumlah kritik Soekarno tersebut belum terselesaikan. Kekerasan terhadap manusia dan intoleransi atas nama agama terjadi bukan hanya di Indonesia, tetapi di seluruh belahan dunia.

***

Rujukan

Erdogan Pertahankan Sekulerisme di Turki. April 2016. Antara News. Link: http://lampung.antaranews.com/berita/289908/erdogan-pertahankan-sekularisme-di-turki

Soekarno. Di Bawah Bendera Revolusi, Jilid I. 1963. Jakarta: Panitia Penerbit Di. Bawah Bendera Revolusi.

Soekarno. Filsafat Pancasila Menurut Bung Karno. 2006. Penerbit Media Pressindo. Yogyakarta.

Sudarminta. Sekularisasi dan Kembalinya yang Sakral. 2016. Extension Course – STF Driyarkara. Jakarta.

Sharing is caring!
Share on Facebook201Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page
Gloria Fransisca

Tentang Gloria Fransisca

Gloria Fransisca Katharina Lawi, perempuan berdarah Flores, Nusa Tenggara Timur yang lahir dan tumbuh dewasa di Ibu Kota Jakarta. Alumni Universitas Multimedia Nusantara (UMN) pada Fakultas Ilmu Komunikasi ini tengah bekerja sebagai jurnalis di salah satu harian ekonomi dan bisnis di Indonesia. Dia juga tergabung dalam Komunitas Penulis Muda Agenda 18. Baca tulisan lain dari penulis ini

One response to “Apakah Indonesia Negara Sekuler?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *