Anak muda dengan baju hitam khilafah dan kaca mata hitam

Anak Muda dan Ancaman Fundamentalisme Agama

Yang paling menonjol dari perkara razia warung Ibu Saeni dan (kemudian merembet ke) penghapusan peraturan daerah diskriminatif adalah perdebatan agama.

***

Dalam perbincangan di kanal anak muda, respon terhadap fakta sepuluh pemerintah daerah yang mengatur jam buka tempat makan selama Ramadan tak bisa lepas dari debat agama. Perdebatan kian meruncing ketika salah satu akun membagi tulisan Tere Liye berjudul “Menghormati yang Tidak Berpuasa.” Sialnya, tulisan ini banyak diamini anak muda lain.

Kita bisa mencuplik beberapa pernyataan dalam tulisan tersebut. Pertama, logika bahwa Islam yang mayoritas harus menghormati minoritas yang tak berpuasa tak bisa diterima, logika yang bablas sekali. Kedua, puasa sebagai bulan dan ibadah paling penting dalam agama Islam tak bisa dikritisi. Ketiga, ada ketidakadilan ketika agama lain yang mayoritas di daerah lain tak dituntut sama seperti apa yang diperlakukan terhadap Islam.

Pernyataan-pernyataan ini kemudian berkembang, seiring pemberitaan mengenai penghapusan Perda Islami, menjadi: sedang ada serangan dan ajakan perang terhadap Islam.

Semuanya itu, jika kita tarik benang merah, bermuara pada soal fundamentalisme agama. Secara sederhana, fundamentalisme dalam konteks ini bisa dideskripsikan sebagai suatu model pemahaman keagamaan eksklusif yang cenderung menyalahkan yang lainnya.

Karena itu, kelompok ini cenderung antiplural dan menggunakan kekerasan terhadap mereka yang berseberangan. Ancaman fundamentalis tak hanya terletak pada tindakan-tindakan anarkis, tetapi terutama pada penetapan regulasi-regulasi yang tidak memperhatikan asas keadilan bersama.

Pertanyaannya kemudian, mengapa anak muda sekarang ikut fasih menjadikan agama sebagai legitimasi untuk menjadi Tuhan atas yang lain ketimbang toleran dan terbuka mendiskusikan agama sebagai ide?

Saya menduga anak muda telah lama menjadi sasaran fundamentalisme, sebagaimana ia menjadi sasaran dan perebutan -isme lain. Setara Institute (2016) merilis survei toleransi siswa SMA Negeri di Jakarta dan Bandung Raya. Survei dilakukan pada responden berusia 15-19 tahun dengan latar belakang agama 88% Islam.

Hasilnya, 97,1% menjawab setuju terhadap pertanyaan apakah agama yang Anda anut adalah yang paling benar. Pada pertanyaan lain soal sikap terhadap perbedaan cara beribadah orang lain, 69,6% responden menganggap mereka tidak benar atau menyimpang.

Selain dua pertanyaan tersebut, Setara Institute mengajukan 16 pertanyaan lain yang dipilih pada tiga dimensi: sosial, politik, dan ideologis. Setara Institute memberikan skor pada setiap jawaban responden untuk memperoleh status toleransi setiap responden.

Ada 38,4% responden bersikap intoleran. Rinciannya, 35,7% responden bersifat intoleran pasif, 2,4% bersifat intoleran aktif, dan 0,3% telah sampai pada taraf berpotensi jadi teroris.

Intoleransi pasif lebih mendekati istilah puritan yang lebih berfokus pada pandangan yang mengklaim bahwa keyakinan yang dianut adalah yang paling benar. Pada intoleransi pasif, ekspresi ketidaksetujuan tidak ditunjukkan dengan tindakan kekerasan. Sementara, intoleransi aktif selangkah lebih ekpresif dari intoleransi pasif. Selain meyakini bahwa dirinya yang paling benar, intoleransi aktif juga memungkinkan pilihan aksi kekerasan sebagai cara untuk mengekspresikan ketidaksetujuannya.

Angka ini menunjukkan bahwa secara kultural anak muda ditanami benih intoleransi dan fundamentalisme agama yang berpotensi jadi kekerasan, terorisme, dan radikalisme.

Hijrah dan dakwah kekinian

Kita tak lagi asing dengan seorang sarjana muda jebolan kampus terkemuka di Bandung yang selain jago main skateboard juga jadi imam masjid. Ia juga penghafal Quran yang fasih dengan langgam merdu yang bikin jemaahnya (terutama akhwat-akhwat) meleleh dan pengikutnya di Instagram dan Youtube melonjak.

Kita juga tentu tahu dengan tren seleb yang tobat dan memutuskan untuk mendalami agama. Mereka mengubah penampilan dengan memanjangkan janggut dan mencingkrangkan celana. Kalau kita telusuri, seleb-seleb itu juga berkumpul membuat majelis, rutin menggelar pengajian di bilangan Jakarta Selatan, serta menyasar anak muda dengan materi dakwah yang dikemas dengan gaya kekinian pula. Seleb-seleb ini jadi panutan anak muda untuk turut berhijrah.

Saya tak bisa tidak mengingat diskusi soal meningkatnya fundamentalisme agama dalam musik kontemporer Indonesia—dunia yang dekat dengan anak muda. Diskusi setahun lalu di Ciputat itu mendedah fenomena yang kurang lebih sama: mengapa banyak musisi yang tobat, hijrah, dan fasih berbicara agama. Wendi Putranto, wartawan Rolling Stone Indonesia, memantik diskusi itu dengan tulisan “Gerakan Indie Tobat” yang juga secara lebih panjang ia bahas di Rolling Stone Indonesia edisi Maret 2015.

Ia bercerita tentang keluarnya Reza Noah yang kemudian masuk ke Jamaah Tabligh dan melakukan khuruj—berpindah dari masjid ke masjid. Gerakan “metal satu jari” muncul dan diduga merupakan propaganda kaum fundamentalis Islam melalui musik metal. Alfi Chaniago, personil The Upstairs juga tobat—cabut dari band yang dimanajeri Wendi itu. Ia bergabung dengan majelis The Strangers Al-Ghuroba yang giat berdakwah dengan gaya anak muda yang trendi—yang kekinian.

Wendi yakin bahwa kepergian Alfi untuk bergabung dengan The Strangers dan kemudian diikuti oleh kru serta drummer The Upstairs adalah sebuah bagian kecil dari desain besar sebuah gerakan. Yuka Dian Narendra, kandidat doktor di Universitas Indonesia, juga punya kesimpulan serupa. Ia berargumen bahwa fenomena pertobatan yang sejatinya personal menjadi gerakan terorganisasi ini telah menjadi gerakan sosial baru dengan menggunakan subkultur kaum muda sebagai kendaraannya.

“Jika benar pertobatan kolektif ini didorong ideologi Islam transnasional, lalu mengapa subkultur musik rock yang didekati dan menyasar anak band, dan bukan kelas menengah lain dengan berbagai program keagamaan? Jawabannya sederhana, karena pelaku subkultur ini memiliki kekuatan untuk menarik massa,” tegasnya.

Sependek penelusuran saya di dunia maya, ada kesamaan dakwah antara majelis seleb-seleb tobat ini dengan The Strangers. Kesamaan ini bisa kita lacak dari mulai muatan dakwah, pendakwah, dan bagaimana dakwah ini dikemas dalam bentuk audio visual yang, sekali lagi, sangat kekinian. Dari kesamaan ini, saya bisa menarik kesimpulan: jelas betul bahwa majelis ini berasal dari gerakan yang sama dengan The Strangers.

Mengapa anak muda mudah terjerat?

Wahyudi Akmaliah dan Khelmy Pribadi dalam makalahnya “Anak Muda, Radikalisme, dan Budaya Populer” meneliti gejala Islamisasi di ruang publik, dengan melihat tiga aspek (gerakan, regulasi, dan budaya populer) yang sekiranya dapat memengaruhi sikap radikalisme anak muda.

Dua peneliti pada Maarif Institute ini menelisik banyak faktor mengapa anak muda bisa terjerat dalam pemahaman radikalisme dan fundamentalisme. Salah dua faktor tersebut adalah masifnya jejaring terorisme kepada anak-anak muda di tengah krisis identitas yang mereka alami serta adanya ambisi sikap Islamis pasca rezim Orde Baru yang masuk pada ruang publik.

Kelompok ini mengambil dua strategi: struktural dan kultural. Jika di ranah struktural mereka menyasar sistem politik dan partai, di ranah kultural mereka menyasar anak muda. Kelompok fundamentalis mempopulerkan gerakan ke basis kampus dan SMA. Jalur kultural dilakukan misalnya dengan membentuk kelompok kecil dan mengganti strategi konfrontasi dengan strategi yang lebih ramah.

Proses Islamisasi ruang publik bisa dilihat melalui tiga faktor yang saling terkait, yaitu gerakan, regulasi, dan budaya populer. Pada aras budaya populer, hal ini bisa dilihat dengan munculnya fenomena budaya populer yang bertemakan Islam, baik itu buku (novel, puisi, cerpen, dan panduan hidup islami dan pemberi inspirasi semangat), film, musik, dan semarak pengajian yang diisi oleh para da’i-entertainer.

Dari fenomena pendekatan kultural kaum fundamentalis ke anak muda ini, maka tak heran banyak argumen fundamentalisme agama berkembang dalam tiap perdebatan. Anak-anak muda yang krisis identitas ini telah bersikap bahwa ia yang paling benar sedangkan yang lain tidak benar. Ia telah menjadi Tuhan yang Maha Benar dan mengafirkan yang lain.