Pelayan Indonesia melayani turis asing

Menjadi Tuan Rumah di Sektor Pariwisata

Inilah kejutan terbaru dari pemerintah kita: membebaskan visa kepada 169 negara. Di berbagai kesempatan, Presiden Joko Widodo mengungkapkan bahwa kebijakan tersebut bertujuan untuk mendongkrak devisa negara melalui sektor pariwisata. Berbekal klaim kesuksesan Malaysia dan Singapura, mantan Gubernur DKI Jakarta itu juga menegaskan jika langkah tersebut tidak akan mengancam keamanan negara.

Dalam tulisannya di harian Kompas (23/03/15), Marie Elka Pangestu, mantan Menteri Pariwisata, memprediksi kenaikan pengunjung di Indonesia akan terjadi jika pemerintah menetapkan kebijakan bebas visa.

Selama kurun waktu tiga tahun, turis mancanegara akan meningkat sebanyak 100.000-200.000 orang dengan devisa sebesar 120-240 juta dollar AS per tahun. Angka tersebut bahkan bisa menjadi 160.000-790.000 orang per tahun dengan tambahan devisa senilai 188-944 juta dollar AS per tahun jika menggunakan dasar 9,44 juta kunjungan di 2014.

Berorientasi turis asing

Sekilas, gambaran tersebut memang terlihat indah untuk menggenjot devisa negara. Namun, pada posisi ini, kebijakan rezim pemerintahan semakin mengukuhkan sektor pariwisata kita berorientasi pada turis asing.

Sebab, kebijakan bebas visa tidak ubahnya upaya mempermudah perjalanan bagi wisatawan internasional. Mudah ditebak, pengembangan pelayanan secara besar-besaran pun akan dilakukan untuk mengakomodasi para pelancong asing tersebut: mulai dari infrastruktur, akomodasi, transportasi, atraksi, hingga fasilitas pendukung lainnya.

Profesor Janianton Damanik, dalam pidato pengukuhan jabatan guru besarnya yang berjudul ”Merancang Format Baru Pariwisata Yang Menyejahterakan Rakyat”, mengingatkan bahwa program-program yang didasarkan pada turis mancanegara didesain sesuai dengan cita rasa turis asing.

Reklamasi Teluk Benoa, misalnya, memiliki tujuan untuk mengobati kejenuhan turis asing atas atraksi wisata di Bali, sedangkan sendi-sendi budaya setempat dianggap sebelah mata. Oleh karenanya, kita pun hanya menjadi tuan rumah yang baik, bisa saja menjadi pelayan di bar ataupun hotel tempat mereka.

Tanpa adanya perubahan, sektor pariwisata kita tidak akan pernah benar-benar menguntungkan masyarakat kita. Sejumlah pakar sudah mengingatkan bahwa keuntungan dari sektor pariwisata terhadap masyarakat masih samar.

Bukti konkret ini dapat kita lihat dari upaya pengembangan pariwisata di Kamboja. Dalam artikelnya di Guardian (27/09/10) yang berjudul ”Angkor Butterfly Hunters Tell of Poverty Amid Tourist Wealth”, Ben Doherty memaparkan potret kemiskinan di Siem Reap yang masih tidak berubah. Padahal, turis mancanegara terus membanjiri wilayah tersebut karena daya tarik Candi Angkor.

Fakta tersebut menjadi refleksi bagi kita untuk tidak melupakan keberadaan turis lokal. Dengan menempatkan mereka sebagai prioritas, kita justru dapat mewujudkan sektor pariwisata yang berdaulat. Artinya, kita menjadi tuan di negeri sendiri. Sebab, sektor pariwisata kita tidak akan didasari taste turis mancanegara.

Harus diakui, potensi itu sangat besar karena jumlah penduduk kita merupakan keempat terbesar di dunia. Selain itu, berwisata kini sudah menjadi kebutuhan publik, tidak hanya kelas atas, akan tetapi juga kelas menengah dan bawah.

Berdasarkan hasil survei Litbang Kompas pada 2015 pada 1.200 responden di 33 provinsi di Indonesia, berwisata minimal sekali setahun sudah menjadi hal yang lumrah di masyarakat kita. Bahkan, satu dari lima responden tersebut mengungkapkan berwisata rutin dua/ tiga kali dalam setahun.

Mengintervensi dengan desa wisata

Selama beberapa beberapa tahun terakhir ini, desa sebagai lokus pariwisata semakin menjamur. Berdasarkan catatan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata di tahun 2012, terdapat 978 desa wisata di Indonesia. Angka tersebut mengalami peningkatan dari 144 desa selama sejak tahun 2009.

Selain itu, mahasiswa semakin mengandrungi tema desa wisata. Dari dokumentasi Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Bulaksumur UGM di 2010, lebih dari 30 judul tema desa wisata, baik di Jawa maupun luar Jawa, diajukan mahasiswa UGM ke Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UGM.

Untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai tuan di negeri sendiri, kita bisa memulainya dari desa wisata ini. Kenapa desa wisata? Desa wisata menyediakan fondasi pengelolaan komunal bagi masyarakat. Narasi kegotong-royongan juga masih begitu mudah kita temui di masyarakat desa. Oleh karena itu, kedua poin ini akan memastikan keuntungan retribusi pariwisata secara langsung dapat dirasakan masyarakat lokal.

Lantas, bagaimana caranya? Dengan mengintervensi semangat berwisata kepada masyarakat desa itu sendiri.

Mahasiswa yang tengah KKN, misalnya, dapat mengajak sejumlah masyarakat di Desa Wisata A berwisata ke Desa Wisata B di dalam kota/kabupaten yang sama. Selama berwisata, masyarakat tersebut diajak menikmati akraksi dan pelayanan serta mempelajari kelebihan maupun kekurangan pola pengelolaan di Desa Wisata B. Sebaliknya, sebagian masyarakat Desa Wisata B juga melakukan hal yang sama di Desa Wisata C.

Pengalaman perjalanan itu dapat menstimulasi masyarakat tadi untuk mengembangkan desa mereka sendiri. Sebab, masyarakat tersebut merasakan bagaimana manjadi seorang wisatawan dan bagaimana memperlakukan wisatawan.

Selain itu, masyarakat juga dapat mengaplikasikan berbagai pola pengelolaan pariwisata yang unggul di desa mereka, tentu saja dengan mempertimbangkan karakteristik desa mereka sendiri. Dengan demikian, wisatawan kita dapat tertarik mengunjungi desa mereka.

Pada sisi lain, desa wisata yang dikunjungi juga mendapatkan benefit retribusi dari perjalanan tadi. Dalam jangka panjang, desa-desa wisata tersebut dapat saling bekerjasama menawarkan paket wisata yang terintegrasi kepada turis lokal.

Dengan begitu, wisatawan tidak secara sporadis mengunjungi desa wisata di kota/kabupaten tersebut. Pada akhirnya, pendekatan tersebut akan mengantarkan sektor pariwisata kita yang berasaskan kekeluargaan dan kegotongroyongan dari, oleh, dan untuk masyarakat.

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

2 responses to “Menjadi Tuan Rumah di Sektor Pariwisata

  1. Hi, salam kenal. Tulisannya bagus dan emg terasa banget pariwisata kita masih mengagungkan wisatawan mancanegara yang secara teori dianggap akan lebih menghabiskan banyak uang ketimbang wisatawan domestik. Btw, ntar pinjam tulisannya yahh buat bahn kajian, dengan tetap mencantumkan sumber. Makasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *