Pertanian dan energi terbarukan

Membangun Nexus Energi-Pertanian di Indonesia

Peluncuran Center of Excellence (CoE) telah sukses dilaksanakan Februari lalu dalam kegiatan Bali Clean Energy Forum (BCEF). CoE didirikan untuk memfasilitasi integrasi program riset dan pembangunan, penyebaran dan investasi energi bersih dan teknologi terkait di Indonesia.

CoE dimulai dari Bali sebagai pilot dan akan dikembangkan di sejumlah wilayah lain di Indonesia. Dalam BCEF, CoE memegang kendali dalam struktur acara. Ada enam sesi paralel pada hari kedua yang terbagi ke dalam; bioenergi, energi angin, matahari, ocean, geothermal dan micro-hydro.

Di samping kebutuhan energi, Indonesia juga harus menjawab tantangan domestik dan global pada energi terbarukan dan perubahan iklim. CoE mencoba mengkaitkan target global dengan prioritas nasional. Fokusnya adalah untuk mendukung prioritas tersebut melalui penguatan kapasitas nasional dan menciptakan lingkungan yang kondusif.

Akan tetapi, ada sebuah pembahasan yang luput dalam BCEF dalam rangka mencapai misi-misi CoE di atas, yaitu mengenai pembangunan nexus energi-pertanian. Bidang pertanian adalah salah satu kontributor dalam 34,8% konsumsi energi dari sektor industri (BPPT, 2014). Sehingga menjadi penting bagi para pemangku kepentingan untuk menghubungkan kebutuhan energi dengan bidang pertanian.

Ini bisa dikaji mulai dari rantai nilai pertanian.

Nexus energi-pertanian dapat menjadi sebuah faktor kunci dalam pembangunan berkelanjutan. Input energi langsung dan tidak langsung dibutuhkan dalam rantai nilai pertanian. Mulai dari pengolahan, pasca-panen, penyimpanan dan pendinginan, semua proses dalam rantai nilai tersebut membutuhkan energi.

Pengurangan konsumsi energi pada pabrik pengolahan memiliki potensi yang tinggi untuk peningkatan efisiensi energi. Pilihan untuk pendanaan solusi energi alternatif sangat tergantung pada konteks individu, seperti kondisi institusi. Nexus energi-pertanian juga menjanjikan peluang pengembangan bisnis substansial sepanjang rantai nilai pertanian.

Namun, Virchow dkk (2014) membantah konsep rantai nilai yang dinilai sudah tidak lagi cukup kuat. Sinergi antar sejumlah elemen dalam rantai nilai pertanian harus dipahami sebagai sebuah jaringan nilai yang komprehensif. Setiap perubahan dalam setiap rantai akan mempengaruhi semua elemen dalam jaringan nilai.

Karena itu, kebijakan terkait mesti memininalisir inefisiensi dalam keseluruhan jaringan nilai. Contohnya pada jaringan nilai jagung, produksi jagung di kebun dapat digunakan untuk sejumlah rantai nilai yang berbeda, seperti produksi makanan, pakan atau untuk bahan bakar. Setiap rantai nilai tersebut memiliki perbedaan, namun untuk setiap perubahan harga dari salah satunya akan mempengaruhi keseluruhan jaringan nilai.

Energi terbarukan adalah salah satu kunci pembangunan nexus energi-pertanian. Penggunaan energi terbarukan di daerah terpencil dapat membantu petani untuk meningkatkan produktifitas pertanian dan juga menghasilkan pendapatan lebih melalui penambahan nilai dalam produksi mereka, seperti pada kontrol pengeringan buah dan sayuran, produksi keju dari susu dan produksi buah dan sayur di luar musim dengan bantuan irigasi.

Potensi penggunaan energi terbarukan dalam jaringan nilai pertanian sangat banyak dan juga memiliki kelebihan dibandingkan menggunakan teknologi konvensional seperti generator diesel. Integrasi energi terbarukan ke dalam proses pertanian dapat membantu efisiensi energi, pengurangan dampak lingkungan dan biaya produksi. Ada banyak sumber energi terbarukan di berbagai daerah, yang dibutuhkan hanya memilih  sumber yang memadai atau sebuah kombinasi sumber yang ideal.

Bioenergi dan energi matahari adalah dua jenis energi terbarukan yang berpotensi untuk bidang pertanian. Bioenergi memiliki kaitan langsung dengan pertanian, karena proses pertanian membutuhkan energi dan teknologi pembangkit energi bisa menggunakan limbah pertanian sebagai bahan bakarnya.

Hal ini termasuk ke dalam konsep ekonomi sirkular yang saat ini marak digunakan untuk efisiensi penggunaan sumber daya. Konsep ini meminimalisir ekstraksi sumber daya baru dan memaksimalkan penggunaan kembali dan daur ulang dari sumber daya yang sudah diekstraksi. Jaringan nilai pertanian menawarkan peluang yang signifikan untuk menggunakan pendekatan ekonomi sirkular.

Lalu untuk energi matahari, ada dua jenis aplikasi untuk konsep ekonomi sirkular, yaitu solar thermal dan solar PV (photovoltaic). Energi matahari memiliki potensi integrasi dengan jaringan nilai pertanian, dari aplikasi skala kecil hingga besar.

Sistem solar PV sudah digunakan di banyak negara di dunia, mulai dari pembangkit listrik skala besar hingga skala kecil rumah tangga untuk lampu dan juga pompa air yang mendukung sistem penyimpanan air yang lebih murah.

Di satu sisi, pompa solar PV dapat menggantikan energi fosil atau pompa air berbasis listrik grid. Di sisi lain, PV juga membuka peluang bagi petani untuk meningkatkan produktifitas pertanian melalui irigasi. Teknologi PV sangat sederhana dan dapat diproduksi secara lokal. Untuk solar thermal, contohnya adalah pada solar dryer yang berfungsi untuk pengawetan produk buah dan sayuran.

Untuk bioenergi, proses dasarnya adalah konversi dari material organik menjadi produk final yang digunakan untuk memproduksi energi. Bahan baku utama untuk produksi bionergi tersedia melimpah di Indonesia, seperti sisa makanan, kotoran ternak, limbah agroindustri dan sisa tanaman.

Biogas adalah salah satu jenis bionergi yang memiliki banyak kegunaan seperti kogenerasi untuk menghasilkan listrik dan panas, bahan bakar memasak, lampu, dan bahan bakar kendaraan. Kogenerasi adalah penggunaan suatu sumber energi untuk menghasilkan tenaga dua jenis energi pada saat bersamaan. Biogas dapat menggantikan fungsi minyak tanah dan kayu pada alat kompor sederhana dan lampu penerangan. Pada bahan bakar kendaraan, biogas menggantikan fungsi gas alam terkompresi (CNG).

Setelah menentukan sumber energi terbarukan, ada tiga tahap berikutnya yang juga penting untuk dilaksanakan, yaitu; efisiensi energi, audit energi dan penilaian siklus produk.

Efisiensi energi adalah strategi untuk mengatur dan menahan pertumbuhan dari konsumsi energi. Ukuran efisiensi dapat ditargetkan menggunakan kedua elemennya yaitu sumberdaya yang digunakan dan servis yang dihasilkan. Namun, efisiensi masih tetap bisa dilakukan meskipun sumberdaya input yang digunakan tidak diturunkan, caranya adalah dengan meningkatkan nilai kegunaan dari servis yang dihasilkan. Dalam mengukur energi efisiensi, sistem yang dibandingkan harus diuji dalam lingkup sistem yang sama.

Kedua yaitu audit energi, hal ini menganalisis proses atau sistem terkait penggunaan energi dan kerugian energi. Dengan meninjau pola tersebut, kunjungan lapangan, pengukuran kebutuhan energi proses dan langkah-langkah efisiensi energi yang sesuai akan dapat ditemukan. Hasil audit energi bermanfaat untuk proses analisis perbaikan ekonomi dan lingkungan, sehingganya hal tersebut adalah alat yang penting dalam sektor energi.

Berikutnya adalah penilaian siklus produk, hal ini menginformasikan dampak lingkungan, ekonomi, dan sosial yang menjadi fakta dasar dalam pengambilan keputusan. Sejumlah studi kasus di Indonesia sudah menjalankan ketiga proses di atas, mereka adalah beberapa pabrik tembakau dan teh. Mereka sudah menggunakan pelet kayu biomassa untuk proses pengeringan dan juga briket sebagai bahan bakar alternatif dari limbah.

Akses kepada energi bersih, handal, dan terjangkau ini ke depannya akan terus membantu meningkatkan kesejahteraan, mendukung ketahanan pangan, dan hidup yang lebih sehat. Akhirnya, ini akan menjadi sebuah langkah progresif untuk membangun nexus energi-pertanian.

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *