Jangan memerkosa, bukan jangan sampai diperkosa

Kekerasan Seksual pada Perempuan dan Pemakluman Kita

Kita semua begitu terkejut saat mendengar kasus pemerkosaan Yuyun. Dia diperkosa secara brutal oleh empat belas orang laki-laki sebelum kemudian dibunuh dan dibuang mayatnya di desanya di Desa Kasie Kasubun, Bengkulu.

Pemerkosaan Yuyun menyadarkan kita bahwa sesungguhnya perempuan dan anak-anak sangat rentan terhadap kekerasan seksual. Sadarkah kita bahwa sesungguhnya isu kekerasan seksual sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari? Ia dapat terjadi kepada orang-orang terdekat yang kita sayangi atau bisa saja terjadi pada diri kita.

Definisi kekerasan seksual

Secara sederhana kekerasan seksual dapat dipahami sebagai tindakan seksual yang dilakukan kepada seseorang tanpa persetujuan yang diberikan oleh orang tersebut. Sebenarnya kekerasan seksual tidak memandang gender dan usia. Ia dapat terjadi kepada baik perempuan maupun laki-laki, dan dapat terjadi kepada anak-anak, orang dewasa, dan manula.

Namun memang tidak dapat dipungkiri perempuan dan anak-anak lah yang paling rentan terhadap kekerasan seksual.

Orang yang memiliki relasi kekuasaan lebih rendah, misal pekerja pada bosnya, murid pada guru, juga memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami kekerasan seksual. Meski bukan tidak mungkin, hal sebaliknya juga bisa terjadi, misal seorang mahasiswa yang secara verbal melakukan intimidasi seksual kepada dosennya.

Kekerasan seksual tidak hanya berupa tindakan seksual yang sudah terjadi tetapi juga mencakup usaha yang tidak berhasil. CDC Amerika Serikat mengidentifikasi beberapa jenis kekerasan seksual: penetrasi (baik kepada vagina, anus, dan juga seks oral), penetrasi dengan media alkohol/obat terlarang (korban dicecoki alkohol/obat terlarang sebelum dilakukan penetrasi).

Juga pemaksaan kepada seseorang untuk melakukan penetrasi kepada orang yang memaksa atau kepada orang lain (mengunakan alkohol ataupun tidak), non-physical penetration: pemaksaan untuk melakukan tindakan seksual oleh ancaman verbal melalui intimidasi atau penyalagunaan kewenangan, sentuhan seksual yang tidak diinginkan (menyentuh bagian tubuh tertentu korban atau memaksa korban untuk menyentuh bagian tubuh pelaku), pengalaman seksual tanpa sentuhan yang tidak diinginkan (memaksa korban menonton pornografi dan penyerangan seksual secara verbal).

Mitos-mitos kekerasan seksual

Ada banyak keyakinan tentang kekerasan seksual yang sepenuhnya salah. Kekerasan seksual diyakini dilakukan oleh orang asing. Pada kenyataannya dua per tiga dari tindakan perkosaan dilakukan oleh orang yang dikenal oleh korban, bahkan lebih dari sepertiga tindakan perkosaan dilakukan oleh keluarga atau teman korban.

Ada juga mitos bahwa kekerasan seksual terjadi karena dorongan seksual pelaku, dan untuk menanganinya dibutuhkan cara untuk mengatur dorongan seksual itu.

Kenyataannya, berdasarkan studi yang dilakukan Nicholas Groth, pelaku melakukannya karena dorongan untuk menguasai (power desire)  dan kemarahan (anger). Pelaku melakukan kekerasan seksual entah sebagai manifestasi dari keinginan untuk melakukan kontrol dan dominasi atau sebagai ungkapan dari kemarahan/rasa permusuhan (hostility) kepada perempuan (korban).

Kekerasan seksual juga dipercaya karena korban “mengundang” pelaku untuk bisa menyerang mereka. Perempuan dianggap bersalah karena memakai pakaian dan melakukan tindakan yang memprovokasi laki-laki untuk melakukan kekerasan kepada mereka (jablay atau acting like a whore).

Kenyataannya, banyak perempuan yang memakai pakaian santai, dan bahkan tertutup, juga menjadi korban kekerasan seksual. Jaclyn Friedman, seorang penggiat pendidikan terhadap kekerasan seksual, juga menyatakan bahwa pemerkosa memilih korbannya berdasarkan seberapa rentan target mereka (sejauh mana mereka bisa diserang), bukan karena seberapa tertariknya mereka secara seksual.

Selain itu, kekerasan seksual terjadi seperti fenomena gunung es. Yang kita lihat di media aslinya hanya sebagian tindakan yang terjadi. Sebagian besar korban kekerasan seksual enggan untuk melaporkan kejadian yang mereka alami. Bisa jadi karena ketakutan akan stigma yang akan mereka sandang bila berani melaporkan atau karena memang mereka terjebak dalam situasi, sistem, atau lingkungan tertentu yang membuat mereka tidak bisa melakukan apa-apa.

Budaya masyarakat yang tidak ramah terhadap korban semakin menyulitkan mereka. Korban dianggap seakan turut bersalah, bahkan menikmati kekerasan seksual yang mereka alami.

Penyebab kekerasan seksual: minuman keras?

Setelah kekerasan terhadap Yuyun mencuat, wacana yang berkembang ialah penyalahan terhadap pemakaian alkohol oleh para pelaku pemerkosaan. Dipercaya mereka memerkosa karena mereka dalam pengaruh alkohol.

Tidak bisa dipungkiri bahwa alkohol menjadi salah satu faktor tindakan tersebut. Alkohol memang dapat membuat seseorang bertindak di luar batas kewajaran. Namun jika memang alkohol adalah faktor utama, bukankah seharusnya setiap orang yang meminum alkohol lalu akan melakukan kekerasan seksual?

Dan jika hal itu memang benar bukankah negara yang melegalkan alkohol (Asia Timur, Eropa, Amerika, dll) akan mengalami tingkat kekerasan seksual yang sangat tinggi?

Data yang dipublikasikan di Wonderlist.com menyatakan bahwa negara-negara maju memang tercatat memiliki tingkat penyerangan seksual yang sangat tinggi. Di Amerika Serikat, data menyatakan bahwa 1 dari 6 perempuan dan 1 dari 33 laki-laki pernah mengalami percobaan/kekerasan seksual. Di Inggris, kira-kira setiap tahunnya ada 400.000 kekerasan seksual terhadap perempuan. Di Perancis kira-kira tiap tahunnya ada 75.000 kekerasan seksual terhadap perempuan.

Yang kemudian perlu kita perhatikan dari data ini ialah: di negara maju, demokrasi sudah berkembang. Kesadaran tentang kemungkinan kekerasan seksual sudah sangat tinggi. Di sekolah atau kampus, murid, guru, dan staf sudah diperkenalkan soal kekerasan seksual dan ada aturan main yang jelas soal itu. Ada sistem hukum yang setidaknya mencoba untuk meminimalisasi dampak dari kekerasan seksual terhadap perempuan.

Di Amerika Serikat pada tahun 1970-an ada upaya memperbaiki sistem hukum soal kekerasan seksual.

Sebelumnya menurut United States Model Penal Code (MPC, dibuat tahun 1962), pemerkosaan dipahami terjadi jika dilakukan oleh laki-laki kepada perempuan yang bukan istrinya dengan kekerasan, ancaman untuk melakukan kekerasan, ancaman untuk membunuh/melukai tubuh, adanya kesakitan yang amat sangat, atau penculikan.

Definisi seperti ini memiliki kelemahan: tidak mengidentifikasi pemerkosaan dalam pernikahan, perkosaan hanya terbatas pada korban perempuan, dan tidak mengakui pemaksaan yang kemudian diiyakan korban. Hukum itu kemudian diperbarui sehingga mengakui bahwa perkosaan tetap terjadi jika ada kekerasan fisik walaupun perempuan itu tidak menolak. Selain itu definisi perkosaan juga dperluas dengan memasukkan berbagai macam paksaan dan ancaman lainnya.

Korban kekerasan seksual di negara maju memiliki lingkungan yang kondusif untuk bisa menyuarakan pendapatnya karena kesadaran tinggi soal kekerasan seksual dan sistem yang setidaknya dapat cukup melindungi korban.

Karena hal inilah, data laporan kekerasan seksual di negara maju menjadi sangat tinggi karena para korban tidak takut menghadapi berbagai macam stigma yang ditujukan pada mereka. Perlu diingat juga, data yang disajikan adalah data kekerasan seksual yang dilaporkan, bukan data kekerasan seksual yang terjadi.

Jadi data seperti itu ada bukan karena gaya hidup yang kelewat bebas, karena perempuan di sana memakai pakaian yang tidak senonoh, bukan juga karena mereka mengonsumsi alkohol kelewat banyak.

Indonesia dan rape culture

Indonesia sebenarnya sudah memiliki undang-undang yang mengatur soal kekerasan seksual terutama kepada perempuan. Ada Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 soal Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Namun UU ini masih memiliki kelemahan karena hanya mencakup kekerasan seksual yang terjadi dalam lingkup rumah tangga.

Selain itu, menurut Abdul Hamim Al Jauzie dari LBH Apik,  meski UU mengisyaratkan bahwa hanya perlu satu orang saksi yaitu korban sendiri, kepolisian kerap meminta saksi tambahan. Padahal karena terjadi dalam lingkup domestik, kecil kemungkinan ada saksi lain.

Jika pun anak-anak dijadikan saksi, mereka akan kerap bingung dan tidak bisa bersaksi. Sistem hukum dan perangkat hukum di Indonesia diangap masih belum bisa memberikan perlindungan yang layak kepada korban.

Seiring dengan kasus yang terjadi kepada Yuyun, muncul usaha untuk membuat UU khusus yang mengatur tentang kekerasan seksual. Karena itu ada inisiatif dari lembaga legislatif dan berbagai kalangan untuk mempercepat pembahasan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

Yang perlu diperhatikan seharusnya adalah jangan sampai usaha untuk meredam kekerasan seksual hanya berhenti sampai di sini. Apakah semua kemarahan yang kita tujukan kepada pelaku yang memperkosa Yuyun hanya muncul karena euforia media semata saja yang kemudian hilang dari ingatan beberapa bulan kemudian?

Kekerasan seksual terjadi karena berbagai macam faktor: budaya yang mendorong terjadinya pelecehan, infrastruktur yang tidak mendukung (fasilitas publik dengan penerangan seadanya misalnya), psikologis pelaku, kesadaran masyarakat yang rendah terkait kekerasan seksual, dan faktor-faktor lainya (seperti alkohol sebagaimana yang dituduhkan banyak orang).

Terkait soal budaya, pernahkah kita mendengar soal istilah rape culture? Secara sederhana rape culture dapat diartikan sebagai budaya di mana masyarakat menyalahkan korban kekerasan seksual dan kekerasan dari laki-laki terhadap perempuan dianggap wajar.

Pernahkah kita mendengar bahwa ada perempuan yang bertahan dalam rumah tangganya meskipun dia kerap kali mendapatkan perlakuan KDRT? Alasannya beragam, bisa karena alasan pribadi sebab dia tidak ingin anak-anaknya merasakan nestapanya hidup dengan orang tua tunggal. Atau bisa juga karena alasan begitu kuatnya stigma dari masyarakat akan status janda/orang yang bercerai.

Cara pikir budaya ini mengisyaratkan istri harus menaati suami sebagai pemimpin keluarga, dan suami berhak untuk “mengajarkan” istrinya menjadi lebih baik meski dengan kekerasan. Ironisnya, saat istri ingin melaporkan kekerasan ini, ia bukan cuma menghadapi risiko perlakuan yang lebih keras dari suaminya, tapi juga mendapatkan tekanan mental dari masyarakat dengan cap bukan wanita baik-baik/tidak taat suami.

Secara statistik, data dari Komnas Perempuan (dapat dilihat di Trihantoro, et.al.) membuktikan premis ini. Tahun 2011 tercatat ada 113.878 kasus kekerasan dalam rumah tangga. Dari 150 kasus KDRT yang diteliti Komnas Perempuan, 75% kasus memperlihatkan bahwa perempuan memutuskan untuk mempertahankan rumah tangganya meskipun mereka telah mengalami siksaan fisik dan psikis dari suami mereka.

Dalam masyarakat kita ada pewajaran terhadap agresivitas laki-laki secara seksual terhadap perempuan. Jamak kita temui laki-laki bersiul kepada perempuan yang sedang lewat di jalan, memberikan komentar terkait tubuh perempuan (misal, “ih, bokong/dadanya besar”), melakukan tindakan yang tidak sopan (memandang bagian tubuh tertentu perempuan).

Di Indonesia, perempuan harus menutupi tubunya untuk menjaga nafsu laki-laki, bukan laki-laki yang menjaga pikirannya terlepas dari apa pun yang perempuan pakai.

Sudahkah kita sebagai individu (dalam hal ini terutama laki-laki), bebas dari perilaku-perilaku itu? Sudahkah kita menjaga pikiran kita dari pikiran kotor terhadap perempuan? Apakah tidak disebut munafik jika kita teriak-teriak membabi buta terhadap pelaku pemerkosaan Yuyun tetapi kita sendiri sehari-hari masih melakukan tindakan atau  perkataan yang melecehkan perempuan?

Sudah seharusnya kita sebagai individu melakukan refleksi pribadi sebelum sibuk mengutuk orang lain.

***

Bacaan Lebih Lanjut

Center for Disease Control and Prevention. “Sexual Violeence: Definitions”. Diakses dari http://www.cdc.gov/violenceprevention/sexualviolence/definitions.html

Filipovic, J. “17 Beliefs about Sexual Assault That Are Totallt Wrong”. Diakses dari http://www.cosmopolitan.com/college/news/a30507/sexual-assault-misconceptions/

Khan, E. “Top 10 Countries with Highest Rape Crime”. Diakses dari http://www.wonderslist.com/10-countries-highest-rape-crime/

Kompas.com. “DPR DIminta Percepat Pembahasan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual” Diakses dari http://nasional.kompas.com/read/2016/05/07/14144781/DPR.Diminta.Percepat.Pembahasan.RUU.Penghapusan.Kekerasan.Seksual

Lisak, D. “Understanding the Predatory Nature of Sexual Violence”. Diakses dari http://www.middlebury.edu/media/view/240951/original

Okezone. “ Ini Kronologi Pemerkosaan Yuyun di Bengukulu”. Diakses dari http://news.okezone.com/read/2016/05/04/340/1380243/ini-kronologi-pemerkosaan-yuyun-di-bengkulu

Republika. “UU PDKRT Masih Banyak Kelemahan”. Diakses dari http://www.republika.co.id/berita/shortlink/97516

StopVAW. “Sexual Assault in The United States”. Diakses dari http://www.stopvaw.org/a6200a22-49cf-4680-a01b-e862d23ccfb6

Trihantoro, W. et.al. “Makna Pernikahan Pada Perempuan Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga”. Diakses secara online dari http://psikologi.ub.ac.id/wp-content/uploads/2013/10/MAKNA-PERNIKAHAN-PADA-PEREMPUAN-KORBAN-KEKERASAN-DALAM-RUMAH-TANGGA-OLEH-WAHYU-TRIHANTORO-0811233.pdf

WAVAW. “What Is Rape Culture”. Diakses dari http://www.wavaw.ca/what-is-rape-culture/

Sharing is caring!
Share on Facebook7Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

5 responses to “Kekerasan Seksual pada Perempuan dan Pemakluman Kita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *