Foto: Paraisopolis, oleh Tuca Vieira.

Pariwisata, Tidak Seindah yang Kita dan Pemerintah Bayangkan

Sebagai anak muda, siapa sih yang tak doyan travelling? Setiap dari kita tentunya punya impian untuk bisa mengunjungi berbagai macam tempat wisata keren di Indonesia.

Indonesia memang terkenal di dunia menjadi salah satu destinasi yang menarik untuk dikunjungi. Menurut website travelling terkemuka Trip Advisor, Bali menjadi salah satu dari dua puluh lima tujuan wisata terbaik dunia versi 2016 Traveler’s Choice. Yang artinya Indonesia memiliki potensi sangat besar di sektor pariwisata.

Selama ini, tentu yang ada dalam bayangan kita soal pariwisata adalah hal-hal yang positif. Pariwisata dianggap dapat memberikan sumbangan baik pada pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, menggerakkan perekonomian masyarakat, menciptakan lapangan pekerjaan, dan mendorong pembangunan infrastruktur di daerah wisata.

Pariwisata juga dapat menjadi tumpuan bagi pemasukan daerah. Tengoklah Bali misalnya, yang pendapatan dari sektor pariwisatanya memiliki jumlah yang sangat fantastis sebesar 47 triliun rupiah.

Namun pariwisata ternyata juga memiliki efek samping yang mungkin tidak terpikirkan oleh kita sebelum ini. Tulisan ini meninjau tentang beberapa dampak negatif pariwisata yang mungkin terjadi terutama dipandang dari segi ekonomi dan lingkungan.

Leakage

Secara sederhana leakage dapat diartikan sebagai dana turis yang lari ke luar negara atau daerah bersangkutan. Ini menjadi dampak negatif pariwisata. Sebuah studi tentang leakage di Thailand memperkirakan bahwa 70% uang yang digunakan oleh para turis akhirnya mengalir ke luar negeri melalui agen wisata luar negeri, hotel, makanan dan minuman yang diimpor, dan sebagainya.

Dari 100 USD yang digunakan turis untuk berwisata di negara berkembang, hanya sekitar 5 USD saja yang benar-benar dapat dimanfaatkan oleh negara bersangkutan.

Leakage terbagi lagi menjadi import leakage dan export leakage.

Import leakage terjadi akibat produk-produk yang diimpor dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan standar turis internasional. Terutama di negara berkembang, biasanya peralatan, makanan, dan minuman harus diimpor dari luar negeri karena negara bersangkutan tidak memiliki industri untuk menyediakan kebutuhan-kebutuhan tersebut.

Menurut UNCTAD, rata-rata nilai import leakage di kebanyakan negara berkembang sejumlah 40-50% dan sekitar 10-20% jumlahnya untuk negara maju.

Sedangkan export leakage terjadi karena pengambilan kembali keuntungan oleh investor asing yang bergerak di bidang jasa pariwisata. Hal seperti ini dimungkinkan karena banyak infrastrutur penunjang pariwisata (hotel misalnya) di daerah pariwisata disediakan oleh investor asing atau dari luar daerah akibat keterbatan sumber daya ekonomi.

Jumlah export leakage sebagai dampak negatif pariwisata ini sebenarnya cukup tinggi juga. Studi PBB pada 1996 menyatakan jumlahnya cukup signifikan. Sebagai contoh negara St. Lucia memiliki nilai export leakage sebesar 56%, Jamaika 40%, dan Aruba 41%.

Pemerintah Indonesia sesungguhnya sudah mengantisipasi kemungkinan leakage di sektor pariwisata. Bappenas menyatakan bahwa import leakage dapat diminimalisasi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas suplai kebutuhan pokok yang memenuhi standar internasional.

Adapun untuk menghindari export leakage perlu untuk mendukung usaha lokal/domestik agar tertarik untuk berinvestasi pada usaha di bidang pariwisata. Antisipasi seperti ini patut diapresiasi, namun penurunan visi itu ke dalam kebijakan real di tingkat pusat dan daerah nampaknya masih perlu dipertanyakan.

All inclusive package

Tentu kita sering melihat paket-paket wisata yang ditawarkan oleh agen wisata, baik di media cetak maupun online. All inclusive package ini menyediakan segala macam kebutuhan turis dari mulai berangkat sampai pulang lagi hingga turis tidak perlu pusing memikirkan soal itinerary, makanan, akomodasi, transportasi, dan kebutuhan wisata lainnya. All inclusive package juga dapat berbentuk wisata kapal pesiar yang juga menyediakan segala kebutuhan turis selama perjalanan.

Organization of American States menyatakan bahwa sistem seperti ini menyediakan lebih sedikit kesempatan pada orang lokal untuk mengambil keuntungan per dolarnya. Implikasinya trickle down effect yang diharapkan juga semakin kecil.

Menipisnya sumber daya alam

Kerusakan lingkungan bisa tejadi jika jumlah turis menjadi sangat besar yang berimplikasi pada makin banyaknya kegiatan manusia di situ. Jika aktivitas ini melebihi kapabilitas lingkungan untuk bisa beradaptasi, bisa muncul ancaman serius terhadap kelestarian lingkungan di daerah wisata.

Penyedotan air secara besar-besaran untuk kegiatan wisata berpotensi untuk menghabiskan cadangan air warga. Standar pelayanan pariwisata modern mensyaratkan penggunaan air yang berlebihan untuk memuaskan para turis. Pengisian air untuk kolam renang, kolam di area golf, dan tentu air untuk kebutuhan pribadi para turis (minum dan bersih-bersih) menjadi syarat mutlak untuk mengundang para turis.

Belum lagi untuk wisata di daerah tropis yang cenderung panas, para turis tentu memiliki kecenderungan untuk mengonsumsi air lebih banyak.

Kebutuhan air yang banyak ini dibutuhkan secara konstan setiap harinya dan terus meningkat dengan semakin terkenalnya daerah pariwisata bersangkutan. Jika ekstraksi air ini dilakukan melalui pompa air, ada resiko akan terjadi intrusi air laut di daerah pantai atau di pulau-pulau yang ukurannya tidak terlalu besar.

Selain itu bukan hanya ketersediaan air, pariwisata juga mengancam ketersediaan sumber energi lainnya seperti energi dan makanan. Pada saat high season, di mana orang di daerah wisata bisa mencapai sepuluh kali lipat dibanding low season, otomatis jumlah permintaan akan sumber daya akan meningkat drastis yang mengakibatkan semakin turunnya cadangan dan supply sumber daya.

Lalu ada juga isu tentang degradasi lahan. Semakin meningkatnya pembangunan bangunan penunjang pariwisata dan fasilitas rekreasi lainnya, semakin tinggi pula ancaman atas kualitas lahan (hutan, tanah yang subur,  dan hewan yang hidup di dalamnya). Hutan misalnya sering mengalami dampak negatif pariwisata melalui deforestasi yang diakibatkan oleh permintaan untuk kayu dari hutan dan alih fungsi lahan.

Pencemaran

Pencemaran adalah satu lagi dampak negatif pariwisata. Semakin meningkatnya konsentrasi turis di suatu wilayah mengakibatkan semakin banyaknya limbah padat yang dihasilkan dan hal ini merupakan masalah serius untuk lingkungan (sungai, hutan).

Di tempat wisata di daerah pegunungan dan ini terjadi bukan hanya di Indonesia, ada masalah tumpukan sampah yang berasal dari peralatan camping. Di daerah Andes di Peru dan juga di Nepal ada begitu banyak sampah yang ditanggalkan para pendaki sampai kedua daerah itu mendapat julukan ‘Jalur Coca-Cola’ dan ‘Jalur Tisu Toilet’.

Senada dengan yang terjadi di Peru dan di Nepal, gunung-gunung di Indonesia juga mengalami masalah serupa soal timbunan sampah. Setiap harinya diperkirakan ada 250 kilogram sampah yang ditinggalkan para pendaki di Gunung Semeru. Sampai-sampai muncul gerakan Komunitas Peduli Sampah Gunung yang secara sukarela membersihkan sampah di jalur-jalur tracking.

Daerah destinasi populer seperti Bali pun mengalami masalah yang sama. Saat musim penghujan, daerah pantai seperti Seminyak, Kuta, Uluwatu, dipenuhi dengan sampah. Sampah menumpuk tidak hanya di pantai tetapi juga di badan air lain seperti sungai dan parit-parit.

Semakin meningkatnya kuantitas limbah padat oleh pariwisata ternyata tidak diimbangi dengan penyediaan infrastruktur pengolahan sampah yang memadai dan kesadaran masyarakat (dan turis) untuk membuang sampah pada tempatnya.

Di luar masalah limbah padat, ada juga masalah limbah cair yang dihasilkan pariwisata. Sebagaimana dijelaskan di awal, ada lonjakan kebutuhan air bersih untuk menunjang kegiatan pariwisata. Semakin tinggi konsumsi air bersih, maka otomatis semakin tinggi pula limbah cair yang dihasilkan.

Hal ini tentu menjadi masalah serius mengingat, sebagaimana yang juga terjadi pada limbah padat, banyak daerah pariwisata belum siap dengan fasilitas pengolahan limbah cair. Padahal limbah cair yang belum dikelola jika langsung dibuang ke alam berpotensi untuk merusak ekosistem.

Di daerah pantai,  limbah cair yang langsung terbuang ke laut berpotensi mengubah kadar salinitas yang dapat merusak ekositem laut. Selain itu, limbah cair yang tidak terkelola dengan baik juga punya dampak negatif pada manusia dan hewan.

Ecotourism: salah satu solusi

Ternyata pariwisata tidak seindah yang kita bayangkan. Ada banyak dampak negatif pariwisata yang mungkin saja terjadi dan yang dibahas di sini pun sebenarnya hanya dampak dari segi ekonomi dan lingkungan. Belum lagi ada juga masalah sosial dan budaya.

Namun ada satu konsep yang mungkin bisa diterapkan untuk meminimalisasi dampak negatif pariwisata ini yaitu ecotourism.

Secara sederhana ecotourism dimaknai sebagai pariwisata bertanggung jawab yang mencoba untuk melestarikan lingkungan, menjaga kesejahteraan masyarakat lokal, dan mellibatkan interpretasi dan edukasi di dalam kegiatan pariwisata.

Ecotourism memiliki prinsip: meminimalkan dampak negatif pariwisata (fisik, sosial, perilaku, dan psikologis), membangun kesadaran budaya, menyediakan pengalaman positif bagi pelancong dan masyarakat lokal, ada manfaat langsung dalam hal ekonomi untuk kepentingan konservasi dan masyarakat juga industri lokal, membangun fasilitas wisata minimalis untuk meminimalkan dampak negatif pariwisata, mengakui hak dan kepercayaan masyarakat lokal,  dan melakukan permberdayaan berdasarkan hak dan kepercayaan masyarakat lokal.

Sampai sekarang ada banyak paket wisata yang mengklaim sudah menerapkan prinsip ecotourism. Kita bisa saja memilih paket-paket tersebut. Daerah tertentu seperti Banyuwangi juga mengklaim sudah mulai menerapkan konsep ecotourism dalam tata kelola wisatanya.

Inisiatif soal ecotourism di tingkat nasional memang masih belum terdengar, tapi, hei, bukannya perubahan itu katanya datang dari diri kita sendiri?

Seharusnya kita sendiri bisa mulai menerapkan prinsip-prinsip ecotourism dalam rencana perjalan kita; bersenang-senang tanpa melupakan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat di daerah yang kita datangi.

***

Daftar Pustaka

UNEP. “Negative Economic Impacts on Tourism”. Diakses dari http://www.unep.org/resourceefficiency/Business/SectoralActivities/Tourism/FactsandFiguresaboutTourism/ImpactsofTourism/EconomicImpactsofTourism/NegativeEconomicImpactsofTourism/tabid/78784/Default.aspx

GDRC. “Enviromental Impacts of Tourism”. Diakses dari http://www.gdrc.org/uem/eco-tour/envi/one.html

Ecotourism.org. “What is Ecotourism”. Diakses dari https://www.ecotourism.org/what-is-ecotourism

Sharing is caring!
Share on Facebook2Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

2 responses to “Pariwisata, Tidak Seindah yang Kita dan Pemerintah Bayangkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *