Darmaningtyas: transportasi online terpentok regulasi

NGOPI (Ngobrol Pintar): Keselamatan Pengemudi Tidak Dijamin Angkutan Online

Angkutan online sangat dinikmati konsumen sejak berkembang dalam dua tahun terakhir. Kemunculan jasa seperti Grab, Uber, dan GoJEK dianggap memudahkan mobilitas di kota Jakarta. Selain tarifnya yang sangat rendah, angkutan online juga dianggap mudah karena bisa dipesan lewat ponsel.

Sayangnya, kenikmatan konsumen ini tidak beriringan dengan jaminan bagi pengemudi angkutan online.

Perusahaan angkutan online tidak bertanggung jawab pada pengemudi. Selain asuransi kecelakaan, perusahaan tidak memberikan apa pun kepada pengemudi. Kerusakan pada kendaraan dan perawatan ditanggung sendiri, begitu pula asuransi kesehatan.

“Soal pekerja transportasi memang rumit sekali. Sekarang kita dorong asuransi harus all risk (mencakup kesehatan dan kecelakaan, red.),” kata pengamat transportasi Darmaningtyas dalam diskusi NGOPI bertajuk Transportasi Online: Bebas di Jalan, Macet di Peraturan di Menteng Central, Jakarta (1/4).

Pasalnya, bagi perusahaan angkutan online, pengemudi tidak dianggap sebagai pekerja. Pengemudi disebut sebagai mitra kerja. Meski disebut mitra, posisi pengemudi dengan perusahaan tidak setara: pengemudi bisa dipecat kapan saja oleh perusahaan.

Hal ini, misalnya, terjadi pada GoJEK. Saat pengemudi memprotes pemotongan komisi sepihak oleh GoJEK, terjadi pemecatan setelah ultimatum dari perusahaan. Dilansir VivaNews (3/11/2015), ultimatum tersebut menyebutkan agar pengemudi GoJEK tidak melakukan demonstrasi.

Masalah tarif harus diatur

Merespon aksi protes yang dilakukan pengemudi taksi konvensional Selasa lalu (22/3), Darmaningtyas menganggap permasalahannya ada pada regulasi yang tidak seimbang. Ia membantah anggapan yang menyebutkan ini soal teknologi yang tak bisa bersaing.

“Yang kita sebut konvensional juga sudah online. Tahun 2014, Express sudah presentasi menerapkan teknologi pada armadanya,” ujar Ketua Institut Studi Transportasi tersebut. Ia menjelaskan, teknologi taksi konvensional pun sudah bisa melacak pengemudi. Lewat teknologi yang disebut Fleety, Blue Bird bisa mendeteksi lokasi pengemudinya.

Bedanya, kata dia, angkutan online tidak diregulasi dengan sepadan. Perusahaan tidak perlu menanggung biaya-biaya teknis seperti asuransi bagi pengemudi atau perawatan kendaraan. Perusahaan juga tidak bertanggung jawab membayar pajak angkutan umum serta mengikuti ketentuan uji emisi dan KIR. Sebab itulah mereka bisa mematok harga miring.

Meski demikian ia menggaris bawahi angkutan konvensional juga perlu berbenah. Angkutan yang sudah legal menurutnya juga perlu dikurangi bebannya. Ia merekomendasikan tarif buka pintu diatur sekitar Rp.5000 hingga Rp6000. Sementara angkutan online bisa menambah ongkos per kilometer sekitar Rp.2500 hingga Rp.3000.

“Nanti [persaingan harganya] akan ketemu di tengah. Akan ketemu persaingan murni,” sebutnya.

Penulis di Youth Proactive, Gloria Fransisca, juga mengkhawatirkan masalah tarif. Jurnalis Bisnis Indonesia ini curiga apa yang akan terjadi bila angkutan online mendominasi pasar transportasi, bahkan dengan membuka layanan lain. “Saya khawatir justru terjadi monopoli oleh angkutan aplikasi,” katanya.

Jangan terjebak jargon sharing economy

Selain persoalan tarif, ada juga bantahan terhadap ekonomi berbagi (sharing economy) yang dipopulerkan beberapa pihak untuk menyebut praktik ekonomi angkutan online. Ekonomi berbagi mengusung ide tentang memanfaatkan aset menganggur. Dalam ekonomi berbagi, seorang pengemudi membonceng penumpang lain yang kebetulan searah dengan tujuannya. Konsep ini dielu-elukan akan membuka lapangan pekerjaan baru.

Sementara yang terjadi di angkutan online justru sebaliknya. “Saya tidak percaya sharing economy. Kalian coba wawancara pengemudi Uber dan Grab. Mayoritas dari mereka sopir Blue Bird, Express,” kata Darmaningtyas. Pengemudi angkutan online tidak berbeda dengan pengemudi angkutan konvensional. Mereka adalah pengemudi profesional yang berpindah perusahaan. Beberapa bahkan rela hingga menyicil atau menyewa mobil untuk bekerja di angkutan online.

“Maka sebenarnya tidak ada penambahan lapangan pekerjaan,” pungkas Darmaningtyas.

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

One response to “NGOPI (Ngobrol Pintar): Keselamatan Pengemudi Tidak Dijamin Angkutan Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *