Apakah angkutan online membuat macet?

NGOPI (Ngobrol Pintar): Jakarta Rugi 18 Triliun Gara-gara Macet

Dari tahun ke tahun, kepemilikan mobil di Jakarta terus meningkat. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), di tahun 2014 ada 3,2 juta unit mobil yang terdaftar di Jakarta. Selama 2010 hingga 2014, angkanya konsisten naik sekitar 250 ribu. Akibatnya, tidak mengherankan bila setiap hari kerja Jakarta dilanda kemacetan.

Kemacetan ini ditaksir mengakibatkan kerugian besar bagi ibukota. Zuhairan Yunnan, peneliti ekonomi Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, menaksir setiap tahunnya Jakarta kehilangan Rp.18 triliun akibat kemacetan.

“Anggap sehari bisa macet selama empat jam. Dalam seminggu, 20 jam. Dalam setahun kita terjebak macet selama 40 hari,” papar Zuhairan dalam diskusi NGOPI, Jumat (1/4). Ia menghitung, bila angka 40 hari itu dikalkulasikan dengan upah minimum regional (UMR) Jakarta, maka akan dihasilkan angka sebesar Rp.18 triliun. Angka sejumlah itu, menurut Zuhairan, seharusnya bisa dialokasikan untuk sektor produktif.

Kemacetan ini yang ia nilai seharusnya diurai oleh pemerintah. Peneliti ekonomi ini mempertanyakan peran angkutan online yang hadir di tengah kemacetan Jakarta. “Masalah transportasi adalah masalah publik, karena menyangkut hajat orang banyak. Hajat hidup orang banyak harusnya jangan diserahkan ke pasar,” kata dia.

Zuhairan menganggap persaingan antara angkutan konvensional dan angkutan online sebagai bentuk penyerahan masalah transportasi kepada mekanisme pasar. Artinya masalah transportasi dilihat sebagai masalah persaingan bisnis antar-perusahaan, alih-alih sebagai masalah publik yang perlu dipecahkan pemerintah. Persaingan ini menyebabkan pengemudi taksi konvensional memprotes taksi online seperti Uber dan Grab, Selasa (22/3) lalu.

Ia meragukan peran angkutan online di tengah upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membenahi transportasi publik. Transportasi publik kerap diharapkan menjadi solusi dari masalah kemacetan di Jakarta. Khususnya ketika komuter dari kota satelit seperti Bekasi dan Tangerang semakin lazim akibat tanah di pusat kota dikuasai segelintir orang.

Sebagai catatan, Jakarta tidak sendiri menghadapi problem kemacetan dan angkutan online. Di Los Angeles, Amerika Serikat, yang juga sesak oleh keberadaan mobil pribadi, layanan angkutan online Uber sangat menjamur. Sejak Uber beken di antara warga Los Angeles, ribuan orang berlomba-lomba menyicil pembelian mobil pribadi demi menjadi pengemudi Uber. Pada tahun 2015, tercatat ada 6,4 juta unit mobil di kota itu.

Gloria Fransisca, penulis Youth Proactive yang juga mengisi diskusi, menyebutkan pentingnya ada transparansi kegiatan transportasi. Seperti halnya angkutan konvensional, ia menganggap angkutan online juga harus terbuka memberikan informasi perusahaannya.

“Harus ada informasi armadanya berapa, kapitalnya berapa,” tuntut Gloria. Blue Bird, misalnya, membuka jumlah armada taksinya. Tahun 2015, ada sekitar 20 ribu armada Blue Bird. Sementara jumlah armada angkutan online lebih sulit dilacak. Di Los Angeles, Uber baru membuka jumlah armadanya yang sebesar 162 ribu setelah enam tahun beroperasi.

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

One response to “NGOPI (Ngobrol Pintar): Jakarta Rugi 18 Triliun Gara-gara Macet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *