Youth Report Center Aceh

Memanfaatkan Budaya Lokal untuk Lawan Korupsi

Diskusi sudah menjadi budaya yang khas masyarakat Aceh. Dari pagi hingga malam, kedai kopi yang banyak menghiasi pinggiran jalan Kota Banda Aceh itu tidak pernah sepi dari muda-mudi. Tak sulit mengajak anak muda di kota dengan julukan Serambi Mekah ini untuk hadir dalam sebuah kegiatan, apalagi di kedai kopi itu tadi.

Puluhan mahasiswa dari berbagai kampus, masyarakat setempat, juga perwakilan komunitas anak muda hadir untuk menonton bersama film Asa di Kekait Daye dan Bergerak dari Daerah yang diselenggarakan oleh Transparency International Indonesia (TII) bersama mitra lokal Rumoh Transparansi pada Rabu, 13 April, di Aneuk Kupi Lamnyong, Banda Aceh.

Kegiatan ini diramaikan dengan tari Rato Jaro khas Aceh dari sanggar Fakultas Tarbiyah Universitas Muhammadiyah (UNMUHA). Ada juga Pane Band, kelompok musik lokal dengan tembang perjuangan demokrasi. Selepas pemutaran film digelar diskusi. Rukita Widodo dari TII, Alvian dari Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA), Andi Syahputra dari Ombudsman RI perwakilan Aceh, serta akademisi Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala Mawardi Ismail menjadi pengisi diskusi.

“Asa di Kekait Daye yang disutradarai oleh Chairun Nisa ini menceritakan tentang audit sosial Youth Report Center (YRC) di Lombok Barat membantu warga yang kebingungan untuk bagaimana memiliki dan memahami penggunaan BPJS yang proses sosialisasinya tidak dilakukan secara tuntas oleh pembuat kebijakan,” papar Rukita membuka diskusi.

Kekait Daye sendiri merupakan sebuah dusun di sebuah desa di Lombok barat. Desanya bernama Kekait dan dusunnya bernama Daye. Film dokumenter ini dibuat untuk warga di Lombok Barat sebagai kritik kepada para pembuat kebijakan.

Masyarakat Kekait Daye punya kultur keagamaan yang kuat. Setiap hari mereka melakukan pengajian. Kultur lokal ini, seperti dipaparkan Rukita, dapat dimanfaatkan sebagai cara untuk melawan korupsi yang sistematis. Lewat pertemuan pengajian, warga setempat mengingatkan sesama warga mau peduli untuk mengadvokasikan BPJS. Selepas mengaji selalu ada diskusi dan rembug bersama warga.

Berkaca dari semangat warga di Kekait Daye, Lombok, Alvian mendorong anak muda Aceh untuk dapat berperan aktif dan kritis. Misalnya seperti pembalakan liar yang telah terjadi di 95 titik pada kawasan hutan lindung dan hutan produksi di Aceh. Itu adalah peluang anak muda untuk menekan perilaku korupsi dan lemahnya penegakan hukum. “Korupsi di sektor SDA saat ini perlu diwaspadai, mengkritisinya mulai dari proses awal di perizinan,” katanya.

Setelah pemutaran film kedua, banyak peserta segera mengacungkan tangan. Baju mereka yang basah keringat lantaran gerahnya ruangan rupanya tak memupus semangat terlibat aktif dalam diskusi. Salah satu peserta bertanya apa yang bisa dilakukan pemuda Indonesia untuk mencegah terjadinya korupsi. Belum lagi birokrasi yang rumit membuat warga makin malas berhubungan dengan pelayanan publik secara langsung dan membiarkan adanya praktik korupsi.

Salah satu narasumber menyarankan untuk menemukan wadah yang berisikan orang-orang yang dapat menyinergikan misi-misi menjadi pergerakan yang kreatif, masif, juga terorganisir. Alvian mengingatkan, transparansi itu bukan hanya di level pemerintah, tapi juga ada pada institusi kampus, NGO, lembaga-lembaga yang berhubungan dengan masyarakat, dan juga diri sendiri. “Jadi, jangan malas untuk melawan hal-hal yang merugikan diri kita sendiri,” katanya.

Waktu hampir berganti pagi, sehingga diskusi harus segera diakhiri. Masih banyak tangan peserta yang mengacung untuk mengajukan pendapat, namun waktu tak bisa menunggu. Naik ke atas panggung sebagai gantinya adalah anak muda dari BEM Fakultas Teknik UNMUHA yang membawakan musikalisasi puisi.

“Untuk mengawal sebuah kebijakan yang gak sesuai dengan kesejahteraan dan keadilan itu perlu adanya partisipasi dari kalangan orang banyak,” kata Rukita menutup acara.

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *