Pelatihan strategi digital gerakan anak muda dan dasar jurnalistik

Aktivisme Online Juga Harus Disokong Offline

Bicara soal digital tidak akan lepas dari pembahasan media sosial (social media) yang belakangan sedang ramai di kalangan aktivis. Internet saat ini sudah menjadi ‘pasar’ bagi mereka para ‘penjual’ untuk berkompetisi menjajakan ‘barang dagangannya’, yaitu wacana.

Ini yang menjadi bahasan utama dalam sesi capacity building Youth Proactive pada Sabtu (26/3) lalu. Bertempat di Hotel Santika Depok, capacity building tersebut bertema “Strategi Digital Dalam Gerakan Anak Muda dan Pelatihan Dasar Jurnalistik.”

Sesi pertama dalam kegiatan ini diisi oleh Dhyta Caturani dari Purple Code. Banyak hal yang disampaikan terkait kekuatan dan tantangan yang dihadapi dalam menggunakan media sosial sebagai alat untuk melakukan gerakan sosial.

“Media sosial adalah alat untuk membangun gerakan sosial,” ujarnya. Menurut Dhyta, sekadar bergerak di media sosial tidak saja tidak cukup untuk disebut gerakan sosial. “Gerakan harus tetap dijalankan secara offline,” jelasnya.

Jika gerakan hanya terbatas dilakukan secara online, imbasnya justru muncul sikap yang disebut dengan clickactivism. Sikap clickactivisim menganggap sekadar klik, atau memberikan like pada sebuah konten kampanye di internet sudah cukup untuk terlibat dalam suatu gerakan sosial yang diusung kampanye tersebut. Padahal menurut Dhyta kenyataannya tidak demikian. Apa yang mereka lakukan tersebut sejatinya hanya membantu menyebarkan isu yang sedang diperjuangkan. Mereka tetap harus melakukan gerakan secara offline.

Gerakan sosial yang dilakukan dalam dunia digital (online) hanya berfungsi sebagai katalis bagi gerakan sebenarnya di dunia offline. Kegiatan di dunia online menjadi ajang konsolidasi isu untuk kemudian direalisasikan dalam dunia nyata. Salah satu kekuatan dalam menggunakan media online adalah sebagai alat koordinasi massa. Tantangan terberatnya adalah menghindari sikap-sikap clickactivism atau disebut juga armchair activism (aktivisme di balik kursi santai).

Terkait memanfaatkan media sosial sebagai kampanye, Dhyta menjelaskan perbedaan dalam menggunakan Facebook dan Twitter. Berdasarkan pemaparan Dhyta, Facebook bisa digunakan untuk tulisan yang panjang. “Tetapi sepanjang-panjangnya harus tetap pendek, make it short,” ungkapnya. Jika mau lebih panjang bisa menggunakan tulisan di website, kemudian pranalanya dibagikan di Facebook. Sementara Twitter biasa digunakan untuk mengoordinasikan aksi.

Sesi selanjutnya diisi oleh Ardyan M. Erlangga, jurnalis Merdeka.com. Dalam sesi kedua ini peserta dibekali pengetahuan terkait dasar-dasar jurnalistik. Salah satu prinsip jurnalisme adalah harus berbasis fakta, yang diperoleh dengan menerapkan 6W+1H: What, Who, Where, When, Why, How, dan What’s Next.

Dalam gerakan sosial, Ardyan memaparkan pentingnya citizen journalism (jurnalisme warga) sebagai tandingan dari mainstream journalism (jurnalisme arus utama). Citizen journalism adalah jurnalisme yang dibuat warga, berbeda dengan mainstream journalism yang dilakukan media besar. Menurut Ardyan, citizen journalism bisa berperan sebagai kontrol atas mainstream journalism.

“Citizen journalism menjadi penyelamat eksistensi media mainstream. Jika jurnalisme warga bagus, maka media mainstream dipacu untuk harus lebih baik lagi,” ungkap Ardyan di sela-sela presentasinya.

Citizen journalism lebih bebas dalam membuat berita, bisa meliput berita terkait apa pun dan kapan pun. Citizen journalism juga tidak terikat deadline yang seringkali memaksa jurnalis untuk ‘kejar setoran’ dan menghasilkan produk jurnalistik yang berkualitas rendah. Citizen journalism bisa memberikan perspektif lain dalam memandang suatu isu, yang bisa bermanfaat banyak dalam gerakan sosial.

Dalam kegiatan capacity building ini peserta juga diajak untuk praktik langsung membuat berita dengan metode piramida terbalik dan naratif. Kemudian masing-masing peserta membacakan hasil tulisannya dan dikomentari oleh Ardyan dengan mengacu pada prinsip-prinsip jurnalistik.

Harapannya, para peserta yang merupakan relawan Youth Proactive bisa lebih baik dalam membuat produk jurnalistik yang nantinya bisa dimanfaatkan untuk mempublikasikan tulisannya ke dalam media digital Youth Proactive.

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *