Menuju matahari

Passion dan Kerelawanan

Saya sebagai penyandang status relawan (volunteer) merasa bangga. Status relawan bolak-balik dibicarakan terkait Pilkada DKI Jakarta 2017. Ada relawan dari Teman Ahok, Sahabat Sandiaga Uno, hingga Suka Haji Lulung. Walaupun bukan barang baru, sebutan relawan saat ini menjadi populer di mana-mana berkat Pilkada DKI.

Sebelumnya saya ingin memperjelas dulu. Identitas saya memang relawan, tapi sama sekali tidak terkait dengan politik. Saya adalah guru relawan di salah satu sekolah di Federated States of Micronesia (FSM).

Merasa asing dengan negara tersebut? Wajar saja, karena FSM memang negara kepulauan kecil yang berada di tengah luasnya Samudera Pasifik. Saya mengajar dan mendidik murid SMA, bukan mengumpulkan KTP. Oleh karena itu, gerombolan saya sebenarnya bukanlah Teman Ahok atau Suka Haji Lulung. Mungkin seharusnya saya disejajarkan dengan para relawan Indonesia Mengajar yang diinisiasi oleh Pak Anies Baswedan itu.

Mungkin ada yang bertanya, ”Lalu, apa hubungan lu sama Teman Ahok dan sebagainya itu?” Atau, bisa juga ada yang menanggapi, ”Lah, terus ngapain lu menulis soal Teman Ahok dan kawan-kawannya?”

Alasan saya sederhana: kami sama-sama relawan, walaupun saya berkarya di bidang pendidikan dan mereka bergerak di bidang politik.

Pandangan seseorang mengenai kerelawanan (volunteerism) ternyata bisa kabur. Ada beberapa orang yang secara tidak sadar ingin memperlakukan identitas relawan layaknya suatu profesi. Motivasi yang mendasari “kerelawanannya” bukanlah passion, melainkan kepentingannya sendiri.

Siapa pun yang menjadi relawan saat ini harus paham akan pentingnya menghidupi identitas sebagai relawan. Apa pun bidangnya, siapapun teman atau sahabatnya (baik Ahok, Sandiaga Uno, maupun Haji Lulung), dan apa pun hasil yang ia peroleh sebagai relawan. Baik pula bila orang-orang bukan relawan, namun selama ini menjadi pemerhati relawan, memahami apa itu kerelawanan.

Relawan = passion

Salah seorang teman guru pada suatu saat mengeluh. Yang dia keluhkan adalah sikap beberapa teman yang kerap mengeluh soal kondisi hidup di FSM. Mulai dari uang saku yang tidak seberapa, makanan tidak enak, hingga fasilitas seadanya.

Saya maklum saja karena sebagian besar relawan di sekolah ini berasal dari Amerika Serikat yang berlimpah fasilitasnya itu. Akan tetapi, teman saya ini menyahut, ”Kita di sini untuk membantu sebagai relawan, bukan untuk cari duit! Alih-alih mengeluh, apa yang ada di sini seharusnya diterima sebagai bagian dari kerelawanan kita dong.”

Saya setuju dengan pendapat teman saya tersebut. Walau menjadi guru, kami bukanlah guru profesional. Misi kami datang ke FSM adalah menjadi relawan. Menurut definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), relawan atau sukarelawan itu pada dasarnya melakukan sesuatu dengan sukarela.

Sekali lagi: sukarela atau dengan kemauan sendiri, dengan rela hati. Dengan mengeluhkan jumlah uang saku yang diterima, makanan, serta fasilitas yang ada, teman-teman saya itu dianggap kurang sukarela dalam melakukan sesuatu.

Dengan kata lain, daripada mendaftar sebagai relawan, seharusnya mereka berkarir saja di tempat asal mereka. Pendapatan dan segala fasilitas pasti terjamin bila dibandingkan dengan apa yang mereka peroleh sebagai guru relawan di negara kecil ini.

Kesadaran akan identitas sebagai relawan. Itulah yang diharapkan oleh teman saya. Kesadaran yang sama diharapkan juga ada di dalam diri teman-teman yang menjadi relawan calon gubernur DKI.

Entah di bidang politik atau pendidikan, yang namanya relawan itu melakukan segala sesuatu dengan rela hati. Relawan mengutamakan misi yang dijunjung oleh institusi atau pihak yang dibantu, bukan misi pribadinya. Di sekolah saya, misalnya, kami diharapkan menjunjung misi “mendidik para murid untuk menjadi pemimpin yang kompeten, mengetahui yang benar dan salah, serta berbela rasa.”

Relawan yang mengaku “sahabat” atau “teman” calon gubernur DKI hendaknya terutama menjunjung misi si calon tersebut. Mengharap balas jasa dan mewujudkan kepentingan diri bukanlah cara bertindak seorang relawan. Karena yang dijunjung adalah misi orang atau institusi lain, bukan misinya sendiri, relawan dapat dikategorikan sebagai passion.

Memaknai passion

Yohanes Damascenus Anugrahbayu, teman saya, berpendapat bahwa passion tidak dapat dipahami dengan sempit. Menurutnya, hobi, minat dan bakat, serta semangat memang dapat menjadi elemen dari passion. Akan tetapi, bagaimana dengan Yesus Kristus yang kisah sengsaranya oleh umat Kristiani disebut the passion of the Christ?

Dalam istilah Anugrahbayu, tidak perlu diragukan bahwa Yesus melakukan berbagai karya kebaikan dengan passionate. Akan tetapi, apakah karya-karya itu dilakukan semata-mata karena hobi atau minat, bila akhirnya mengakibatkan sengsara dan wafat (walau nantinya bangkit kembali)?

Anugrahbayu mengusulkan agar passion juga dilihat secara lebih luas, yaitu sebagai suatu tanggapan akan kebutuhan di sekitar kita. “Keadaan dunia ‘memanggil’ manusia untuk tanggap,” demikian tulis Anugrahbayu. Syukur-syukur kalau tanggapan itu sesuai minat dan selalu membangkitkan semangat. Akan tetapi, bagaimana bila upaya menanggapi panggilan itu berujung sengsara?

Saya sependapat dengannya. Saya memang senang dengan dunia pendidikan. Berkaca pada pengalaman selama di FSM, saya merasa bahwa kerelawanan saya bukanlah terutama hobi, minat, atau bakat. Tidak terpikir juga untuk mencari uang dengan menjadi relawan. Saya merasa bahwa mengajar di tempat terpencil perlu dilihat sebagai pengabdian dan pengorbanan, lebih daripada hobi dan minat. Siapa pun yang berkarya di sini harus siap meninggalkan segala bentuk kenyamanan.

Menjadi relawan calon gubernur DKI itu passion atau bukan? Walaupun ranahnya politik, identitas tetaplah relawan. Oleh karena itu, relawan politik seharusnya juga masuk kategori passion dalam arti luas.

Aktivitas mengumpulkan KTP demi calon yang mereka dukung kiranya bukanlah semata-mata hobi atau minat dan bakat. Yang terlibat sungguh di dalam pengumpulan ratusan ribu KTP itu pasti paham akan pengorbanan yang mereka harus lakukan. Kebutuhan mendesak akan sosok kepemimpinan tertentu di Jakarta menjadi motivasi aktivitas sukarela mereka. Selama menyadari dan melakukan itu semua, para relawan calon gubernur dapat dianggap memandang kerelawanan mereka sebagai passion.

Akan tetapi, menjadi relawan politik di Indonesia masih memiliki wilayah abu-abu. Sebagai contoh, kelompok relawan belum diatur dalam hukum—lain dari partai politik—namun memobilisasi dukungan layaknya organisasi massa.

Bila belum berpayung hukum, aktivitas para relawan dalam arti tertentu juga tidak tersentuh hukum. Bila tidak tersentuh hukum, pihak tertentu dapat memanfaatkan aktivitas relawan politik demi kepentingan yang sejatinya berlawanan dengan hukum ketika diterapkan pada kelompok berpayung hukum.

Dengan demikian, alih-alih relawan, aktivitas mereka dapat menjadi rawan. Padahal, bila sudah disisipi kepentingan pribadi, menjadi relawan tidak lagi dianggap sebagai passion. Artinya, sebenarnya orang-orang itu tidak lagi pantas disebut sebagai relawan.

Mari kita doakan, semoga para relawan itu membawa semangat kerelawanan hingga akhir hayat, bahkan ketika mereka tidak lagi menjadi relawan.

.

Ilustrasi: LatinoReview