Menulis sebagai partisipasi publik

Media Massa dan Afirmasi Politis

Menulis di media massa bagi kebanyakan orang mungkin dianggap sebuah pengalaman khusus dan hanya melibatkan segelintir kelompok saja. Untuk konteks masyarakat kita, aktivitas menulis boleh dibilang masih asing untuk digandrungi masyarakat umum. Aktivitas menulis di media massa sedikit-banyak hanya menjadi bahan olahan kelompok intelek, kalangan mahasiswa, pengasuh pers, serta ahli di bidang tertentu.

Saya sendiri memiliki pengalaman unik dalam kaitan dengan menulis media massa. Pada awal tahun ini, saya mencoba untuk menggarap sebuah tulisan ke Pos Kupang, media cetak lokal. Berbekal sejumlah kompetensi pengetahuan serta modal belajar otodidak, saya coba memetakan masalah dalam tubuh politik NKRI. Opini saya yang bertajuk DPR dan Kealpaan Substansial” ternyata diterima redaksi.

Menyaksikan opini saya yang terbilang masih belia diterbitkan di media massa lokal sekaliber Pos Kupang lantas menumbuhkan kepercayaan diri. Kesempatan menulis di media massa ternyata terbuka bagi siapa saja. Lebih-lebih, saya menemukan bahwa aktivitas menulis di media massa dapat menjadi sarana afirmasi politis warga negara.

Insan pers dan bonum comunne

Bill Kovach dan Tom Rosnstiel dalam bukunya The Elements of Journalism menggaris bawahi bahwa kewajiban pertama jurnalisme adalah mengabdi pada kebenaran, memiliki loyalitas utuh bagi masyarakat, menjadi perangkat pemantau kekuasaan serta forum bagi penyuaraan kritik atau dukungan atas praktik pemerintahan tertentu (Isidorus Lilijawa: 2010).

Di sini jelaslah termaktub profilasi positif jurnalisme sebagai insan pers.  Media massa adalah salah satu penggerak pers dan memiliki tanggung jawab etis bagi terselenggaranya jurnalisme positif. Merujuk pada sejarah perjalanan bangsa, kita menemukan bahwa rekam jejak pers tak sepenuhnya tanpa cacat.

Keleluasaan pers kita memang pernah menjadi korban rezim politik. Otoritarianisme Orde Baru pernah memasung ruang gerak pers. Tetapi, semakin besar usaha untuk memasung pers, semakin besar pula militansi resisten dari banyak insan pers untuk mewujudkan pers yang bebas serentak bertanggung jawab.

Setelah reformasi 1998, pers kita bernapas lega. Walau sering dipelintir sebagai wadah legal bagi kelompok dengan kepentingan tertentu, toh pers telah berjasa banyak bagi kalangan akar rumput.

Usaha media massa untuk membongkar skandal politik pemerintah dan usaha pendidikan yang baik bagi masyarakat adalah fungsi pers yang perlu kita apresiasi. Media massa juga memebrikan ruang inklusif bagi tersalurnya akses komunikasi masyarakat.

Afirmasi politis dengan menulis di media massa

Aristoteles, filsuf kuno Yunani, menyebut bahwa yang politis selalu berkaitan dengan seni untuk membangun kebaikan bersama. Hannah Arrendt, seorang filsuf kontemporer, menyebut bahwa yang politis sebagai indikator pergerakan antar-rakyat dan syarat akan komunikasi politik.

Artinya, yang politis selalu berkaitan dengan yang publik. Yang politis meniscayakan adanya usaha kolektif guna membangun kebaikan bersama. Media massa sejatinya adalah wadah bagi setiap insan warga negara untuk memainkan afirmasi politisnya. Setiap pribadi dapat mencapai yang politis dengan menulis di media massa.

Dengan menulis di media massa setiap orang memiliki kesempatan untuk menyalurkan aspirasi dan pendapat.  Media massa adalah tempat yang strategis bagi tersalurnya aspirasi dan pendapat berupa opini, penilaian atas suatu fakta tertentu, kritik, apresiasi serta dukungan atas hal tertentu.

Tulisan yang dimuat di media massa dapat menjadi tanggapan atas persoalan sosial-politik seperti mengguritanya korupsi dan manipulasi yang melibatkan penguasa atau elite politik. Masyarakat pun dapat menjalankan kontrol sosial. Sejurus dengan itu, dengan menulis di media massa, setiap dari kita sebenarnya punya kesempatan untuk menjalankan tanggung jawab moral bagi terselenggaranya kebaikan bersama.

Aktivitas menulis di media massa hendaknya lebih banyak dilakukan masyarakat. Ini penting terutama ketika masyarakat dihadapkan pada runyamnya dinamika hidup sosial. Kultur menulis di media massa yang selama ini hanya digeluti kelompok tertentu hendaknya juga dibiasakan di kalangan masyarakat umum.

Peran institusi pendidikan dan pelbagai lembaga sosial hendaknya mampu membentuk kultur ilmiah yang baik dalam masyarakat seperti membaca, menulis dan berani memberikan argumentasi kritis atas masalah tertentu. Sehingga kebiasaan menulis di media massa tak asing bagi setiap dari kita.

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *