Sekjen TII Dadang Trisasongko di acara SPAK. Foto: Langitantyo Tri Gezar.
Sekjen TII Dadang Trisasongko di acara SPAK. Foto: Langitantyo Tri Gezar.

Langkah-langkah Antikorupsi di Hari Kartini

Matahari tenggelam, lampu-lampu malam kota Jakarta mulai dinyalakan. Kawasan Monumen Nasional (Monas) dan Lenggang Jakarta terlihat menyala lebih terang dari biasanya. Di tengah kerlap-kerlipnya, terpampang sebuah sorot lampu bertuliskan “Saya Perempuan Anti Korupsi” pada sisi-sisi Tugu Monas.

Nyala lampu itu rupanya bagian dari penyelenggaraan acara bertajuk, “Saya Perempuan Anti Korupsi: Mulai Jujur dari Sekarang, Membiasakan yang Benar bukan Membenarkan yang Biasa”. Acara pada 21 April silam itu digelar sebagai perayaan Hari Kartini, sekaligus peringatan ulang tahun kedua Gerakan Nasional Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK).

Wakil Ketua KPK Saut Sitomorang dan Deputi Perlindungan Perempuan dan Anak Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Sujatmiko turut menghadiri acara. Hadir juga komunitas dan lembaga antikorupsi seperti Transparency International Indonesia (TII), Indonesia Corruption Watch (ICW), Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia (MaPPI), Pusat studi Hukum dan Kebijakan (PSHK), serta Perempuan Indonesia Antikorupsi (PIA).

“Ini terobosan baru karena yang dilakukan SPAK banyak aspek pencegahannya. Saya lihat [gerakan] ini dapat mencegah korupsi dari awal, mulai dari keluarga, anak, karena melibatkan perempuan,” ujar Sujatmiko dalam konferensi pers di Gedung KPK, Jakarta, seperti dilansir Majalah Kartini (21/4).

Antara perempuan dan korupsi

Kaum perempuan kerap menjadi korban korupsi. Direktur Advokasi Migrant Care Anis Hidayah menyebutkan, korupsi menyebabkan tingkat kematian ibu dan anak berada di kondisi 390 orang meninggal per 100.000 jiwa. Dilansir dalam liputan ICW (12/10/2015), data Komnas Perempuan menunjukkan korupsi mengakibatkan banyaknya kasus kekerasan terhadap perempuanyang terjadi, yakni 300.000 kasus di tahun 2014.

Korupsi juga mengurangi akses perempuan terhadap pendidikan, perlindungan hukum, dan fasilitas penunjang kualitas hidup lainnya. Hal ini disebabkan korupsi telah menggerogoti daya pemerintah untuk menyediakan pelayanan publik yang bermutu.

Di sisi lain, perempuan juga dapat menjadi pelaku korupsi. Berdasarkan statistik KPK per 29 Februari 2016, dari jumlah 769 perkara penyelidikan, 483 perkara penyidikan, 397 perkara penuntutan, 323 perkara inkracht, dan 343 perkara eksekusi, terdapat 48 perempuan yang pernah terlibat kasus korupsi. Sebut saja, Mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Miranda Goeltom, anggota Partai Demokrat Angelina Sondakh, dan Mantan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah.

Walau menurut beberapa penelitian seperti yang dilakukan Dewan Eropa (2004), GTZ (2004), Transparency International (2007), dan Universitas Sussex (tanpa tahun), tidak terdapat hubungan kausalitas antara peningkatan partisipasi perempuan dan penurunan korupsi, kemungkinan perempuan terlibat dalam kasus korupsi tetap sama dengan laki-laki.

Wakil Ketua Indonesia Corruption Watch (ICW) Agus Sunaryanto dalam pemberitaan Media Indonesia (22/4/2015) menyebutkan, keterlibatan perempuan dalam lingkaran korupsi disebabkan oleh kurangnya sikap kritis perempuan sehingga meningkatkan kemungkinan terjerumusnya mereka ke dalam praktik korupsi. Hal ini juga dipengaruhi oleh sistem kekuasaan di Indonesia yang masih bercorak patriarkal atau didominasi laki-laki.

Sikap tidak kritis ini contohnya seperti saat seorang pejabat lelaki yang menyimpan hasil korupsinya ke rekening istri tapi tidak dipertanyakan asal uangnya. Bahkan sang istri tidak mengetahui bahwa apa yang dilakukan suaminya yang pejabat itu adalah tindak pidana korupsi. Ketiadaan sikap kritis ini kerap diakibatkan oleh adanya informasi tidak seimbang (asymmetrical information) yang dialami perempuan.

Perempuan melawan korupsi

Perempuan dapat berperan aktif memberantas korupsi dengan ikut mengelola keuangan keluarga secara jujur dan akuntabel. Di tingkat keluarga, perempuan sebagai ibu dapat mengajarkan kepada anak-anaknya tentang nilai-nilai kejujuran; tidak menyontek, tidak menyerobot antrean, tidak berbohong ketika bersalah, dan sebagainya.

Di dunia kerja, perempuan juga dapat melawan korupsi dengan melaporkan jumlah kekayaannya secara terbuka, serta membayar pajak, dan turut melaporkan tindakan korupsi yang dilakukan oleh rekan kerja maupun atasannya.

2016-04-21 Liputan SPAK [Mainan]
Anak-anak bermain permainan papan antikorupsi di Hari Kartini (21/4). Foto: Langitantyo Tri Gezar/Youth Proactive.
.

Gerakan SPAK hadir menunjukkan partisipasi perempuan di tengah masyarakat dalam melawan korupsi. SPAK telah memiliki lebih dari 550 perempuan agen perubahan dari berbagai latar belakang dan tersebar di 20 provinsi. Mereka aktif menyebarkan pendidikan antikorupsi kepada berbagai kalangan secara sukarela.

Di Sulawesi Selatan contohnya, terdapat 50 anak berusia 8-13 tahun yang dilatih sebagai agen Sembilan Nilai Antikorupsi (SEMAI) yang menjadi rekan SPAK untuk melawan korupsi.

SEMAI juga diturunkan ke dalam berbagai bentuk permainan anak dan kreatif segala usia sebagai media pendidikan antikorupsi, salah satunya berupa permainan kartu dan papan (board game). Cara mainnya adalah mencocokkan cerita yang tertulis di dalam kartu dengan salah satu nilai antikorupsi yang tertulis di atas papan permainan. Permainan ini dimaksudkan agar anak-anak mudah mencerna sikap hidup yang antikorupsi.

Pada Hari Kartini kemarin, SPAK membuka booth berisi permainan tersebut, melibatkan warga sekitar untuk mencoba permainan antikorupsi. Selain itu, SPAK bersama TII juga menayangkan film Kita vs Korupsi. Sekretaris Jenderal TII Dadang Trisasongko yang mengisi acara itu menyebutkan, kegiatan pendidikan antikorupsi seperti lewat musik dan film dinilai lebih efektif dan ngena dalam menyampaikan pesan-pesan antikorupsi daripada cara-cara lama seperti orasi.

Hari itu, petang pun menjadi malam. Panggung gemerlap peringatan Hari Kartini dan ulang tahun kedua SPAK ditutup oleh lantunan lagu dari Once Mekel. Lampu-lampu kota Jakarta masih menyala, namun kali ini dengan nyala yang lebih benderang karena semangat perempuan-perempuan yang berkata tidak pada korupsi.

Hari Kartini tahun ini memang tak biasa, dan tentu mereka adalah perempuan-perempuan yang tak biasa juga. Merekalah yang membawa semangat dalam tajuk SPAK, “mari jujur dari sekarang, membiasakan yang benar bukan membenarkan yang biasa.”

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

3 responses to “Langkah-langkah Antikorupsi di Hari Kartini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *