Framing yang bias gender

Tentang Bias Gender yang Terabaikan

Beberapa sikap kita sehari-hari memang perlu terus dievaluasi. Alasannya sederhana. Sadar atau tidak sadar kita kerapkali melakukan dengan tindakan atau perkataan yang bias gender. Penulis perhatikan, komentar seperti ini belakangan ramai di media sosial.

Contoh pertama adalah cyberbullying terhadap SD. SD adalah seorang siswi SMA yang membentak seorang polwan di Medan, Sumatera Utara. SD juga mengaku sebagai anak pejabat Badan Narkotika Nasional (BNN). Siapa sangka, dalam tempo menit saja, sikap SD tersebut masuk berita terpopuler di media massa.

SD pun menjadi bulan-bulanan di media sosial. Netizen ramai-ramai menghina SD dengan berbagai cemoohan. Beberapa netizen menyebut SD sebagai “anak perempuan cantik yang kasar”.

Pemberitaan masih berlanjut tatkala sehari usai bullying berlangsung, ayah SD meninggal dunia karena serangan jantung. Berita duka tersebut ternyata tak langsung membuat netizen berhenti bullying anak malang tersebut. Berbagai komentar masih mencuat dengan bau yang sama: kematian ayahnya adalah bentuk karma atas tindakan SD.

Geser ke kasus lain, adalah kasus Irma Bule. Irma Bule, bernama asli Irmawaty (29 tahun), adalah pedangdut yang menghembuskan nafas terakhir tiga jam setelah dipatuk ular king cobra saat melakukan pementasan di Desa Lemahabang, Karawang, Jawa Barat.

Sekali lagi kasus ini juga meramaikan media sosial. Salah satu netizen berkomentar, “salah sendiri manggung pakai ular.” Tapi komentar sinis netizen adalah bentuk ketidakpaham bahwa panggung dangdut adalah modus eksistensi bagi kaum marjinal untuk menikmati apa yang disebut seni dan berkesenian. Itu adalah sepenuhnya cara Irma mendapatkan penghasilan bersama timnya.

Mengutip tulisan Tomy Sasangka di Bisnis Indonesia,

Kalau hanya sekadar berpakaian seksi atau ‘open house’ dan berjoget sensual, hal itu bukan lagi menjadi daya saing luar biasa, karena hampir semua pedangdut yang malang-melintang di Karawang dan sekitar kawasan Pantura siap melakukannya.

Berdangdut adalah cara kaum pinggiran kota menikmati estetika, sebuah kebiasaan yang dipandang sinis oleh kaum mapan ibukota—netizen kelas menengah. Nasib Irma jelas lebih nahas ketimbang pendahulunya, Inul Daratista. Inul berhasil masuk jadi artis Jakarta, sempat dituding melakukan pornoaksi lewat goyang pinggulnya, kemudian hari ini Inul justru semakin sering menghiasi layar kaca dan bahkan memiliki bisnis karaoke. Irma dan sebagian besar lainnya belum seberuntung Inul.

Berita lainnya yang hits di media sosial adalah komentar artis Dian Sastrowardoyo tentang Kartini Kendeng. Dian yang diundang dalam sebuah acara seminar tentang spirit Kartini di Jepara, Jawa Tengah, Sabtu (16/4/2016) ditanyai pendapatnya soal Kartini Kendeng. Dian justru mempertanyakan peran lelaki di antara Kartini Kendeng,

Saya melihat fenomena bicara perempuan itu, ada tanda tanya besar. Apakah polemik itu terlalu politis bagi laki-laki. Kenapa yang bicara malah perempuan, saya enggak tahu.

Menarik bisa ditanyakan, di sana ada problem apa? Bapak-bapaknya kok enggak ikut.

Pernyataan Dian sekonyong-konyong menjadi bumerang. Perempuan yang biasa dijadikan ikon perempuan idola kini dikritik pedas.

Dian lalu mengirimkan surat koreksi alias hak jawab kepada Kompas.com. Dalam klarifikasi tersebut, Dian jelas menegaskan dirinya tidak mengikuti pemberitaan atas aksi tersebut. Dia merasa tak berkapasitas untuk berkomentar lebih.

Saya kurang paham atas kasus tersebut dan belum mendalami duduk permasalahannya sehingga pengetahuan saya sangat terbatas dan belum tahu harus menjawab apa. Saya sangat prihatin dan sedih atas nasib ibu-ibu tersebut yang mempertaruhkan kesehatan.

Di luar itu, saya jadi tertarik dan bertanya-tanya sendiri, apabila kasus ini sangat serius, kenapa yang berjuang hanya ibu-ibunya? Untuk kasus sebesar ini, bukankah seharusnya diperjuangkan secara bersama-sama antara lelaki dan perempuan ya?

Apakah karena ini terlalu politis buat kaum laki-lakinya sehingga kaum perempuannya yang maju? Dan, apakah karena dalam hal ini, kaum perempuan tidak terikat dari segala hal yang berbau politik dan hierarki patrialis sehingga di luar hal-hal domestik yang dilakukannya, perempuan dianggap lebih bebas dan netral dalam mengungkapkan pendapat dan angkat bicara ya?

Lebih jauh lagi penulisan dalam Kompas.com memberi implikasi bahwa saya menyarankan perempuan hanya mengurusi hal domestik serta menyerahkan urusan politik ke pihak laki-laki. Ini tidak benar dan bertentangan dengan prinsip saya yang sangat menjunjung keseteraan jender dan pemberdayaan perempuan yang selalu saya perjuangkan dari dulu, baik melalui karya seni maupun dalam sikap laku sehari-hari.

Klarifikasi Dian tak melepaskannya dari sejumlah kritik. Masih ada saja beberapa pihak yang menegaskan Dian untuk banyak membaca, atau lebih baik jangan berkomentar kalau tidak tahu. Menurut mereka, Dian sebagai public figure harusnya bisa menjawab bukannya melarikan diri.

Framing yang bias gender

Jika kita lihat baik-baik, berita terpopuler ini sangat berkaitan erat dengan perempuan. Mengapa demikian ya? Mengutip buku PORNO! karya Ahmad Junaidi, disebutkan bahwa, “pers mencari pasar-pasar tertentu yang mendatangkan keuntungan caranya dengan mengeksploitasi seksualitas terutama perempuan.”

Hal itu paling jelas tercermin dari kasus Irma Bule. Sementara untuk kasus SD dan Dian Sastro yang ditegaskan dalam pemberitaan adalah kata sifat khusus bahwa mereka adalah perempuan yang: cantik, public figure, atau model. Kata sifat berikutnya adalah mereka sebagai perempuan yang: kasar, tidak punya etika, dan tidak punya simpati atau empati terhadap orang lain.

Pers yang jelas beririsan langsung dengan kapitalisme menjadikan seksualitas dalam hal ini perempuan sebagai subjek yang bisa didagangkan bagi pembaca. Cara mengidentifikasinya sederhana saja.

Dalam kasus SD, kata sifat “siswi SMA cantik” ditekankan dalam pemberitaan awal guna menyuguhkan pembaca—yang otaknya masih patriarkis—kepada rasa penasaran. Dia tak cukup hanya “siswi SMA”, tapi juga “cantik”. Pembaca itu bisa laki-laki maupun perempuan.

Dalam kasus Irma, kata sifat “pedangdut seksi” juga dipakai guna merangsang pembaca tetap bertahan untuk menyimak.

Dalam kasus Dian Sastro, kata sifat “public figure yang cantik dan memperjuangkan kesetaraan gender” dibingkai seolah-olah seorang ikon saja tidak mendukung aksi tersebut. Parahnya, sejumlah pembaca perempuan karena terangsang emosi semakin menuding Dian, “lebih baik Dian mengurus saja kecantikkan, badan yang kurus, dan lain sebagainya dibandingkan mengomentari Kartini Kendeng.”

Duh, pedas sekali pernyataan-pernyataan seperti itu bukan?

Kalau ditampik bisa saja misalnya, “apa salahnya seorang perempuan mengurus diri, tampil cantik? Bukankah itu tuntutan pekerjaannya? Sesungguhnya Dian dan Irma berada di dalam tatanan yang sama bukan? Sebuah tatanan kapitalistik, yang tidak menguntungkan yang membelenggu keduanya dalam logika ‘kecantikan’.”

Sungguh sedih penulis membaca komentar-komentar pedas yang tak dilandasi oleh keadilan berpikir. Penulis makin sedih dengan perlakuan media massa lewat penggunaan kata sifat yang memarjinalkan perempuan.

Hal ini menguatkan pernyataan Thelma McCormack, banyak studi yang berfokus hanya kepada perspektif laki-laki sebagai konsumen utama.

Akhir kata, berhati-hatilah sebelum berkomentar. Simak baik-baik, apakah komentar Anda tak bias gender. Jangan lekas-lekas merasa asumsi anda adalah asumsi terbaik dan terbenar. Begitu informasi itu bias gender, Anda akan lebih mudah menghakimi perempuan.

Ya, dan lagi-lagi yang disalahkan pasti perempuan!

***

Referensi:

Klarifikasi Dian Sastrowardoyo atas Pemberitaan Aksi “Kartini Kendeng” http://entertainment.kompas.com/read/2016/04/17/152011110/Klarifikasi.Dian.Sastro.atas.Pemberitaan.Aksi.Kartini.Kendeng?utm_source=RD&utm_medium=inart&utm_campaign=khiprd

Terkait Aksi “Kartini Kendeng”, Ini Kata Dian Sastro http://regional.kompas.com/read/2016/04/16/16452231/Terkait.Aksi.Kartini.Kendeng.Ini.Kata.Dian.Sastro

SPEKTRUM BISNIS: Irma Bule http://koran.bisnis.com/read/20160414/270/537796/spektrum-bisnis-irma-bule

Junadi, Ahmad. PORNO! Feminisme, Seksualitas, dan Pornografi di Media. 2012. Penerbit Grasindo. Jakarta

Ilustrasi: Courtney/Modern Women in Media

Koreksi (25/4): Artikel ini sebelumnya menyebutkan Medan terletak di Sumatera Barat, bukan Sumatera Utara.

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

3 responses to “Tentang Bias Gender yang Terabaikan

Leave a Reply to Youth Proactive Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *