Neng Zaskia Gotik dari Halimunda

Neng Gotik dari Halimunda

Neng Zaskia Gotik yang memelesetkan hari kemerdekaan Indonesia patut diduga adalah akibat dari pelesirannya yang lampau bersama Vicky Prasetyo ke Halimunda.

Neng dan Vicky mengarungi lautan, melewati Selat Sunda hingga Laut Selatan, dan sampailah di pelabuhan ikan yang di sampingnya berderet perkampungan nelayan. Tak jauh dari pinggir laut selatan itu, ada hutan berkabut. Dari hutan itulah nama Halimunda berasal. Segalanya nampak cantik di Halimunda.

Tak hanya cantik, Halimunda juga menjadi tempat yang begitu penting di ujung masa kolonial. KNIL pernah diantar pulang Shodancho naik kapal di bibir pantai. Tentara-tentara itu mesti bubar dari Halimunda setelah semuanya selesai di meja perundingan. Si Shodancho itu pula yang memimpin pemberontakan tentara Jepang yang hendak menduduki Halimunda.

Di tanah cantik penuh sejarah kolonial itu, si Neng bertemu dengan anak-anak sekolah dan bertanya. Pertanyaan yang diajukan adalah pertanyaan biasa—mengetes keindonesiaan layaknya pertanyaan siapa presiden Indonesia saat ini.

“Kapan hari kemerdekaan Indonesia?” kata Neng.

“23 September,” jawab anak-anak sekolah itu kompak.

Ia mendapati jawaban serupa ketika bertanya pada guru, preman, bekas pemimpin TKR, tukang sablon kaos, penjaja souvenir, buruh cuci, ustad, Pak RT, dan segenap bangsa Halimunda yang lain.

Pemerintah pusat melakukan beberapa usaha untuk mengatasi kekeliruan sejarah itu dan menjelaskan soal keterlambatan informasi ke Halimunda di tahun 1945, tapi penduduk Halimunda bahkan rela mati untuk tetap berpegang teguh merayakan hari kemerdekaan tanggal 23 September. Dan akhirnya tak seorang pun mempermasalahkannya lagi.

***

Di segmen “Cerdas Cermat” program acara musik pagi, giliran Neng yang ditanya hari kemerdekaan Indonesia. Sekilas memang apa yang dilakukan Neng di Cerdas Cermat itu hanyalah upaya untuk terlihat beda—melucu dengan memelesetkan hari kemerdekaan dan mengolok-olok lambang negara tanpa punya dasar ideologis yang kukuh. Karena itu, kelakar Neng soal 32 Agustus sebagai hari kemerdekaan (dan bebek nungging sebagai lambang sila kelima Pancasila) dianggap sebagai main-main yang ngawur.

Namun sebenarnya, Neng yang menolak manut pada formalitas sejarah adalah sikap politis dirinya yang sangat dipengaruhi Vicky. Sebab, kala pelesir itu, Neng dan Vicky asyik-masyuk membincangkan dan memeriksa hermeneutika diksi “merdeka,” hari kemerdekaan, dan bagaimana meng-harimerdeka-isasi Halimunda.

Vicky berbusa-busa menjelaskan bahwa penduduk Halimunda mengguncang-guncang, mereduksi, dan mengacaukan sejarah formal hari kemerdekaan yang dianut oleh kebanyakan.

Menjunjung tinggi 17 Agustus 1945 sebagai hari kemerdekaan adalah artikulasi nasionalisme. Nasionalisme yang ia sebut maksudnya adalah ide yang dibayang-bayangkan secara sadar oleh komunitas dan kemudian jadi rasa bersama. Ide ini adalah bentukan, sebuah kesadaran akan identitas bangsa sebagai hasil konstruksi karena pengalaman penderitaan dan diskriminasi oleh kolonial. Pada titik ini, kultus pada hari kemerdekaan (dan mungkin lambang lain negara) hanyalah sesuatu yang sifatnya politis sebab dikonstruksi secara sadar sebagai mekanisme untuk melakukan perlawanan.

Tapi semua itu tidak berlaku—runtuh di Halimunda.

Vicky yakin ada maksud di balik orang-orang Halimunda yang mengacaukan ini. Ada pola keteraturan baru yang coba dimunculkan setelah kekacauan ini. Ia mengingat Nobelis Ilya Prigonine yang mendaraskan dissipative structure,” bahwa kehidupan lahir dari entropi. Dari chaos, muncul sistem yang baru. Tapi Vicky tak sampai menemukan yang baru itu.

Neng manut-manut. Mengangguk-angguk tanda mengerti.

Saat Neng ditanya kapan Indonesia merdeka itu, ia menjemput ingatan tentang konsep bayang-bayang nasionalisme yang politis dan kekacauan tadi. Jawaban Neng di kuis itu mencoba mengacaukan makna hari kemerdekaan untuk kemudian menawarkan keseimbangan baru, hari kemerdekaan baru.

Tapi hari kemerdekaan baru apa yang hendak ia tawarkan?

32 Agustus jelas bukan yang ia tawarkan. Tanggal itu diajukan masih dalam tahap mengacaukan kesakralan hari kemerdekaan.

Barangkali ia hendak mengamini tesis “proklamasi kedua” yang diajukan Zen RS. Zen mencoba mencacah waktu-sejarah Indonesia dengan warsa 1965 sebagai porosnya: Sebelum 1965 dan Setelah 1965. Jika 1945 ialah proklamasi yang (diniatkan) men-tidak-kan kolonialisme, maka 1965 adalah proklamasi yang men-tidak-kan “kiri” (dengan ragam varian dan spektrumnya).

1965 jadi garis batas yang mengubah semangat antikolonialisme dan antiimperialisme yang kuat dalam politik Indonesia sejak 1945. 1 Oktober 1965 jadi awal perubahan yang nyaris tiba-tiba. Ia menjadi begitu ramah kepada Barat dan amat terbuka kepada kekuatan ekonomi-politik yang sebelumnya menjadi musuh bersama: neo-kolonialisme dan neo-imperialisme. Semangat anti kolonialisme dan imperialisme, yang akar tunjangnya menancap dalam pengalaman sebagai bangsa terjajah, bisa dibilang (nyaris) raib dengan seketika.

Di segi politik, mereka yang terus menggali pengalaman sebagai bangsa terjajah untuk mengampanyekan antikolonialisme dan antiimperialisme dipaksa menepi dari gelanggang, disingkirkan dari panggung sejarah. Pemusnahan “kiri”, baik manusianya maupun infrastruktur gagasannya (dari partai hingga buku-bukunya), menjelma sebagai hamparan karpet merah bagi masuknya modal asing di Indonesia.

***

Memelesetkan hari kemerdekaan dan simbol-simbol kenegaraan tak selalu berarti pengkhianatan terhadap negara. Di Halimunda, tak ada yang terganggu dengan hari kemerdekaan 23 September. Tesis Zen soal proklamasi kedua juga tak sampai membuat ke-Indonesia-annya luntur kemudian dicap sebagai pengkhianat bangsa.

Tak perlu serius menganggap senda gurau Neng sebagai ancaman terhadap negara. Yang seserius itu mending piknik ke Negeri Kabut di selatan Jawa itu. Tentu dengan surat yang meminta penjemputan serta akomodasi dan transportasi lokal selama di tempat tersebut.

.

Foto: Liputan6.com