Cinta gojek atau marketing gojek?

Mengejek Cinta Kita pada Ojek Online

Sebagai konsumen, tentu kita senang saat muncul alternatif transportasi baru dalam mengarungi jalan-jalan di kota Jakarta. Sejak awal kemunculannya, aplikasi ojek daring begitu populer karena harganya yang kelewat murah. Bahkan selama masa promo, kita bisa pergi dari satu tempat ke tempat lain secara gratis.

Gojek, misalnya, dulu menawarkan kredit gratis sebesar lima puluh ribu rupiah saat kita pertama kali mendaftar. Tarif angkutan saat itu sebesar sepuluh ribu rupiah, artinya kita punya kesempatan pakai ojek gratis lima kali. Belum lagi ada kita bisa mendapat tambahan tiga buluh ribu rupiah untuk setiap orang yang kita ajak memakai Gojek.

Jika kredit kita habis pun kita masih bisa menggunakan ojek dengan harga yang sangat murah: sepuluh ribu untuk jarak sampai dua puluh lima kilometer. Kira-kira sama dengan jarak dari Grogol (Jakarta Barat) ke Ujung Menteng (daerah paling timur di Jakarta Timur). Dalam bayangan kita yang paling liar sekalipun, kita tidak pernah membayangkan sebelumnya kita bisa menempuh jarak sejauh itu dengan harga sangat murah.

Di balik apa yang kita pikir

Seiring dengan berkembangnya aplikasi berbasis online ini, kita sekarang sedang tenggelam dalam euforia munculnya zaman yang baru yang begitu cerah. Bagi kita sekarang adalah masanya tentang kemudahan melakukan transaksi jasa dan hidup lebih sejahtera dalam skema ekonomi bernama ekonomi berbagi (sharing economy).

Pada awal kemunculannya, aplikasi ojek online mendapatkan tantangan yang begitu keras dari ojek konvensional karena dianggap akan menggerus potensi penghasilan ojek konvensional. Kebanyakan dari kita hanya berpendapat, “salah mereka tidak bisa mengikuti perkembangan zaman. Ini sudah era digital, bung.”

Tentu sah-sah saja bagi kita untuk berpendapat apa pun, tetapi sudahkah kita menelisik permasalahannya lebih lanjut?

Skema kerja ojek konvensional berdasarkan konsep spasial. Setiap tukang ojek memiliki daerah kerjanya sendiri dan biasanya mereka bergabung dalam paguyuban yang bertugas untuk mengatur soal nilai (code of conduct) para tukang ojek, bahkan sampai soal kesejahteraan mereka.

Contohnya jika ada salah satu tukang ojek yang sakit, para tukang ojek yang lain akan memberikan bantuan secara material. Mereka juga bahkan bersama-sama membangun fasilitas yang ada di pangkalan. Di daerah Taman Kota, Jakarta Barat, misalnya, para tukang ojek membangun tempat berteduh yang berguna untuk melindungi mereka dari sengatan sinar matahari dan dinginnya air hujan. Mereka juga membeli TV agar lebih nyaman saat menunggu penumpang.

Paguyuban-paguyuban ini juga taat terhadap konsep spasial yang menjadi aturan tidak tertulis di kalangan tukang ojek. Mereka tidak mengambil lahan paguyuban ojek lain dan juga sebaliknya.

Memang, semakin lama penentangan terhadap aplikasi ojek online semakin sedikit seiring dengan semakin banyaknya pengojek yang bergabung dengan aplikasi ojek online. Bahkan saat ini sudah jamak kita lihat pangkalan-pangkalan di jalan-jalan protokol: para ojek konvensional berdampingan mangkal bersama dengan ojek online.

Meski begitu, sampai sekarang masih ada penentangan yang kuat dari ojek-ojek yang ada di daerah perkampungan terhadap ojek online, yang sepertinya akan terus berlangsung.

Masalahnya bukan di soal ketidakmampuan untuk beradapatasi dengan teknologi. Buktinya, ada banyak banyak mantan pengemudi ojek konvensional yang cukup berumur yang bisa menjadi pengemudi ojek online. Masalah yang sebenarnya ada pada bagaimana norma, sistem, dan relasi yang ada pada operasionalisasi ojek konvensional dan bagaimana peralihan itu memengaruhi berjalannya kehidupan para pengojek konvensional.

Ini bukan hanya masalah ekonomi dan teknologi, tetapi juga mencakup soal nilai-nilai yang sudah terinternalisasi secara kuat ke dalam diri para pengojek konvensional. Jika mereka melepaskannya berarti mereka juga mengubah identitas–siapa diri mereka.

Perubahan status menjadi buruh

Sebelumnya, para pengojek hidup dalam kemandirian. Mereka dapat dikatakan sebagai self-employee atau pekerja lepas yang memanfaatkan alat produksi milik sendiri. Mereka langsung berhubungan dengan konsumen dan tidak perlu bergantung kepada jasa aplikasi milik pihak ketiga. Ada aturan yang membatasi cara kerja mereka, tetapi bukan aturan berdasarkan relasi penyedia jasa-konsumen, tetapi lebih ke pada konvensi sosial bagaimana satu pengojek tidak mengganggu hajat hidup pengojek lainnya.

Dengan bergabungnya para pengojek ke dalam sistem ojek online, terjadi perubahan cara produksi yang mengakibatkan munculnya pola hubungan baru antara pengojek dan penyedia jasa layanan ojek online. Para pengojek dapat diibaratkan sebagai buruh dan penyedia layanan ojek online sebagai majikannya.

Para pengojek harus taat kepada aturan-aturan standar yang ditetapkan oleh penyedia layanan ojek online dalam melayani pelanggan ojek (konsumen). Pengojek harus menyediakan masker kepada pelanggan, misalnya, dan melayani pelanggan sebaik mungkin untuk mendapatkan penilaian yang baik dari pelanggan.

Mekanisme penilaian ini menjadi alat yang efektif bagi perusahaan layanan ojek online untuk menilai apakah seorang pengojek online masih layak untuk diperkerjakan atau tidak. Meskipun begitu, dari segi penyedia layanan ojek online, mekanisme seperti ini dianggap lebih dekat kepada mekanisme kerja sama ekonomi antara pengojek dengan penyedia layanan ojek online.

Hubungan kerja antara pengojek dan penyedia layanan jasa online disebutkan sebagai mitra kerja. Hanya saja bukankah mitra kerja ada dalam posisi yang setara dalam sebuah usaha?

Kenyataannya, penyedia layanan ojek online bisa secara sepihak memutuskan hubungan kerja sama ini. Sementara kompensasi yang didapatkan masih dipertanyakan seperti apa bentuknya. Jika kemudian tidak ada kompensasi apa-apa, bukankah itu sama dengan melakukan pemecatan sewenang-wenang kepada pengojek online?

Masalahnya, tanpa layanan aplikasi yang disediakan oleh Gojek dan GrabBike, para pengojek online ini bukanlah siapa-siapa. Setelah dipecat, mereka mau tidak mau harus kembali kepada cara-cara konvensional mengojek. Artinya ada ketimpangan kekuasaan antara pengojek dan penyedia layanan jasa online.

Sharing is caring?

Optimisme kita yang lain kepada layanan ojek online datang dari harapan besar kita kepada skema ekonomi berbagi. Seakan-akan itulah bentuk ekonomi yang diidam-idamkan, yang begitu baik kepada setiap stakeholder. Konsumen mendapatkan harga yang miring, pengojek mendapatkan cara baru untuk memanfaatkan jasa mereka, penyedia layanan mendapatkan keuntungan yang cukup, dan pemerintah setidaknya dapat terbantu sementara dalam mengurangi kemacetan selama mereka belum bisa menyediakan transportasi massal yang layak.

Sayangnya sampai saat ini, aplikasi ojek online masih belum dapat dikatakan sebagai contoh nyata ekonomi berbagi.

Pradipa P. Rasidi dalam tulisannya di Koran Tempo (29/3) menyatakan bahwa ekonomi berbagai seharusnya adalah upaya untuk mendayagunakan idle capacity (sumber daya yang sedang menganggur) dan sesedikit mungkin ada upaya memaksimalkan profit.

Jika ojek online menggunakan skema ekonomi berbagi, seharusnya jasa ditawarkan sebagai upaya untuk mengisi bangku kosong di motor. Misalnya Anda setiap hari pergi ke kantor sendirian menggunakan motor, Anda kemudian akan menawarkan bangku kosong kepada orang yang memiliki rute yang sama dengan anda. Orang yang mengisi kursi di motor anda kemudian akan membayar Anda, tetapi hanya secukupnya sekedar untuk mengganti uang bensin saja.

Yang terjadi dalam hal ojek online ini berbeda: orang menjadikan ojek online sebagai sumber mata pencaharian utama dan sebenarnya hanya merupakan versi lain dari ojek konvensional yang sama-sama mencari profit, tetapi dengan skema kerja yang lebih efisien.

Baik pengojek online maupun konsumen bergerak berdasarkan orientasi ekonomi. Pengojek online bergerak berdasarkan oientasi profit. Mereka bergabung karena mimpi-mimpi penghasilan tinggi ojek online yang dihembuskan media, atau karena pendapatan mereka semakin terserap oleh ojek online sehingga mau tidak mau mereka harus bergabung untuk menjaga sumber ekonomi mereka. Sementara di sisi lain, pengguna layanan ojek online bersuka cita karena harga luar biasa murah yang ditawarkan layanan ojek online.

Yang kemudian perlu dipertanyakan ialah, kenapa harga ojek online bisa semurah itu? Apakah betul karena ekonomi berbagi, atau sebetulnya itu hanyalah bentuk lain dari kapitalisasi modal dengan melakukan subsidi harga? Lantas apakah harga itu akan berlangsung selamanya?

Suatu saat ojek online akan mengenakan harga sesuai harga ekonominya. Jika hal itu benar-benar terjadi, masihkah kita berteriak-teriak membela ojek online seperti yang kita lakukan sekarang? Bisa saja saat itu kita tidak punya pilihan lain karena ojek pangkalan sudah sangat sedikit akibat dilindas oleh ojek online.

Aplikasi ojek online sesungguhnya bukan obat dari segala macam penyakit yang dapat memberikan kepuasan kepada setiap orang. Andaikan ia memang begitu, pasti tidak akan ada penentangan yang begitu kuat dari berbagai macam pihak.

Yang perlu ditelisik kemudian adalah sikap kita kepadanya, apakah kita benar-benar menganggap ojek online sebagai sistem bermanfaat yang bebas eksploitasi, atau kita sebenarnya hanya sedang senang mendapatkan harga ojek yang murah dan sedang berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan sistem itu demi kepentingan kita,  apa pun taruhannya.

***

Bacaan lebih lanjut

Jalal. “(Bukan) Ekonomi Berbagi, Catatan untuk Rhenald Kasali.” Dipublikasikan di http://geotimes.co.id/bukan-ekonomi-berbagi-catatan-untuk-rhenald-kasali/

Rasidi, P. P. “Ilusi Ekonomi Berbagi Angkutan Online.”  Dalam Koran Tempo, 29 Maret 2016.

Foto: Salah satu cara marketing Gojek, Duniaku.net

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

3 responses to “Mengejek Cinta Kita pada Ojek Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *