KPK-berani-jujur-hebat

Kampanye Antikorupsi Kekinian oleh Generasi Muda

Solikha dalam tulisannya di Jurnal Youth ProActive volume 2 menegaskan bahwa kondisi korupsi di Indonesia saat ini berada pada level darurat, karena banyaknya jumlah abdi negara yang tertangkap dan terjerat dalam tindak pidana korupsi. Hampir semua media baik cetak maupun elektronik selalu mengulas dan membahas permasalahan korupsi yang seolah tidak akan pernah ada ujungnya. Kejadian ini pun mampu memunculkan kembali fenomena Cicak vs Buaya jilid III.

Hiruk pikuk kali ini ternyata tidak hanya mampu menarik perhatian kalangan politisi atau orang-orang dewasa saja tetapi juga generasi muda. Anak muda yang sering digambarkan sebagai golongan yang jauh dan apatis terhadap isu-isu berbau politik selama beberapa tahun terakhir, kini seolah kembali bangkit karena terusik. Lewat karya mereka yang kreatif dan inovatif, generasi muda mulai menyuarakan kegeraman dan kemarahan terhadap para pelaku tindakan korupsi. Ada yang menyampaikan suara hati mereka lewat lagu, graffiti, tulisan, poster, status-status nyinyir di media sosial, mural, dll.

Hal ini menunjukkan perubahan paradigma anak muda dalam menyikapi kasus korupsi di negeri ini. Jika di era sebelumnya sebagian besar generasi muda khususnya mahasiswa cenderung menyuarakan pendapat mereka lewat orasi dan demonstrasi, maka pandangan anak muda sekarang sudah lebih kreatif. Banyak dari mereka yang secara cerdas mampu menggambarkan curahan hati mereka tentang kasus korupsi di negeri ini lewat meme atau tulisan-tulisan nyinyir yang mampu menarik perhatian dan menggerakkan pikiran banyak pembaca.

Kemampuan untuk memengaruhi masyarakat lewat tulisan sekarang ini tidak hanya mampu dilakukan oleh para jurnalis saja, tetapi juga oleh masyarakat umum, termasuk anak muda. Para generasi muda bangsa ini sepertinya sudah mampu melihat peluang tulisan sebagai media yang mampu menggerakkan masyarakat secara masif.

Belajar dari pengalaman yang terjadi di Libya, gerakan rakyat yang masif diawali dari ajakan status di media sosial menjadikan anak muda bangsa ini tertarik juga untuk memanfaatkan media sosial untuk gerakan kampanye. Anak muda kembali terikat dalam satu-kesatuan menyuarakan suara-suara sumbang untuk menggertak oknum-oknum pemerintahan yang melakukan tindakan koruptif.

Salah satu contoh kampanye anak muda lewat media sosial untuk mendukung KPK dilakukan oleh komunitas Angkatan Perubahan. Komunitas ini beranggotakan pemuda-pemudi terbaik yang berasal dari provinsi-provinsi di Indonesia. Gerakan kekinian yang mereka inisiasi adalah tagar #SaveKPK di kalangan anak muda dengan mengadakan FotOpini yang mengajak pemuda-pemudi selfie dan menuliskan pesan mereka untuk kampanye #SaveKPK dan #UnCorruptedLove tepat di hari Valentine, 14 Februari 2016.

Kampanye melalui media sosial seperti ini tidak menjadi satu-satunya cara. Banyak generasi muda yang juga rela untuk melakukan kampanye melalui kreativitas mural dan graffiti. Komunitas yang konsisten melakukan kegiatan ini adalah komunitas ketjilbergerak dari kota gudeg, Yogyakarta. Mereka yang mungkin secara penampilan dipandang nyeleneh, punya ide yang patut untuk diacungi jempol. Kampanye mural ini bahkan tidak hanya mereka lakukan di Jogja saja tetapi juga ke Batang, Rembang, Salatiga, dll.

Kini bukan saatnya bagi kita sebagai generasi muda untuk berpangku tangan dan memasrahkan masa depan bangsa kita kepada anggota dewan terhormat yang duduk di singgasana, karena sudah bukan menjadi rahasia lagi mereka terlena dan lebih suka disebut sebagai anggota dewan terhormat dari pada wakil rakyat. Tindakan dan keputusan mereka yang cenderung membela kepentingan golongan atau partai politik.

Oleh karena itu, kini saatnya bagi kita sebagai generasi muda melakukan tindakan kekikian. Tindakan kekinian bisa kita lakukan lewat bidang yang kita sukai. Jika kita gemar membuat video dan menjadi YouTuber maka tidak susah bagi kita untuk membuat video yang menyuarakan dukungan #SaveKPK.

Gerakan kampanye kekinina ini akan lebih mampu diterima oleh anak muda secara masif dibandingkan orasi dan demonstrasi yang cenderung berujung anarki dan kekerasan. Bermain kata-kata dengan kombinasi gambar, ide, dan kreativitas yang bagus akan mampu menghasilkan bahan kampanye yang jauh lebih dramatis.

Layaknya kata-kata bijak yang pernah diucapkan oleh Bung Karno, “beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda, maka akan kuguncangkan dunia.” Anak muda itu adalah manusia yang menyimpan kekuatan yang sewaktu-waktu bisa lebih berbahaya dari ledakan bom. Energi mereka yang tidak pernah mengenal kata lelah, ide-ide kreatif mereka yang seakan tidak pernah ada habisnya, dan semangat mereka yang tidak pernah mengenal kata menyerah.

Tentang Yam Saroh

Lahir di Jombang, kota kecil yang melahirkan banyak ulama besar. Yam Saroh lama mengabdi di bidang sosial dan pendidikan dengan mendirikan komunitas Suara Difabel Mandiri (SDM), tergabung dalam kegiatan sosial lingkungan bersama Rumah Hijau, serta menjabat sebagai Wakil Ketua Angkatan Perubahan (AP), komunitas antikorupsi yang mengumpulkan anak muda yang dari seluruh wilayah di Indonesia. Baca tulisan lain dari penulis ini