2016-03-01 Abu Mufakhir Ekonomi Politik PHK Massal 02698

Penyebab PHK Massal Bukan Kenaikan Upah, Tapi Restrukturisasi

Peneliti Abu Mufakhir menepis anggapan yang santer beredar sejak terjadi PHK pasca-tutupnya pabrik Jepang seperti Panasonic dan Toshiba pada Februari silam. Berdasarkan kajian Abu, penyebab PHK massal tersebut bukanlah kenaikan upah sebagaimana dianggap oleh Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia).

Menurutnya, ada beberapa sebab terjadinya PHK massal awal tahun ini. Sebab pertama adalah restrukturisasi produksi di perusahaan. Restrukturisasi ini salah satunya terjadi ketika perusahaan memutuskan untuk mengubah komoditas produksinya yang memiliki nilai lebih tinggi.

“Pada kasus Toshiba, fokus produksinya berubah ke produksi chip,” ujar Abu dalam diskusi bertajuk “Ekonomi Politik PHK Massal” di Pancoran, Selasa (1/3).

Toshiba, berdasarkan pemaparan Abu, awalnya fokus pada produksi komputer dan televisi. Namun Toshiba melakukan restrukturisasi produksi dengan mengubah fokusnya pada produksi chip, komponen kecil pada perangkat keras elektronik. Chip memiliki nilai yang lebih tinggi lantaran bisa dimanfaatkan oleh perusahaan lain. “Ini juga dilakukan Apple. Merek luar HP boleh Samsung, tapi chip dalamnya punya Apple,” papar Abu.

Hal serupa juga dilakukan Panasonic. Akibat kalah bersaing dengan produk Tiongkok di Indonesia, fokus produksi Panasonic berubah dari lampu bohlam ke LED.

Dengan melakukan restrukturisasi ke produk yang punya nilai lebih besar, perusahaan bisa mengurangi jumlah buruh. Karena bagian-bagian produksi yang membutuhkan banyak pekerja dilimpahkan pada perusahaan-perusahaan pemasok yang berada di negara lain. Akibatnya terjadilah pemecatan massal seperti pada Februari lalu. Menurut Abu, Toshiba bahkan sudah melakukan proses ini sejak 10 tahun lalu secara perlahan-lahan.

Selain restrukturisasi, berdasarkan penilaian Abu sebab lainnya adalah ketergantungan Indonesia pada bahan baku impor.

Industri manufaktur Indonesia masih sangat bergantung pada pasokan bahan baku impor. Pada industri elektronik, hanya 40% komponennya yang diproduksi di dalam negeri. “Kondisi ini yang menyebabkan perubahan harga global bisa membuat ombang-ambing industri di Indonesia,” papar Abu. Ketika pasokan bahan baku terganggu, maka industri di Indonesia akan kena dampaknya. Demikian pula ketika harga bahan baku naik karena harga dolar naik, biaya produksi pun ikut naik.

Di hadapan ketidakstabilan ini, cara mengatasi paling mudah yang dilakukan perusahaan kemudian adalah memecat buruh besar-besaran. Perusahaan pun bisa menambah intensifikasi kerja dengan meningkatkan jam lembur dengan paksa dan menaikkan target produksi.

Memesinkan manusia

Proses intensifikasi kerja ini, menurut Abu, perlu diwaspadai. Abu menilai proses ini berbahaya dan bahkan kejam. “Intensifikasi kerja mengakibatkan yang istilahnya disebut deskillization,” ujarnya mewanti-wanti.

Abu mencontohkan yang terjadi pada industri garmen. Dulu, satu garmen lazimnya dikerjakan oleh satu orang. Satu orang ini mengerjakan pakaian dari mengurus tekstilnya hingga kancingnya. Dengan adanya intensifikasi kerja, satu garmen bisa dikerjakan hingga lima orang. Masing-masing hanya mengerjakan bagian tertentu saja, misalnya ada yang hanya mengerjakan kancingnya. Ini dilakukan untuk mempercepat hasil produksi.

Akibatnya terjadilah deskillization. Seorang pekerja semakin terspesialisasi dengan hanya bisa mengerjakan satu hal spesifik saja. Proses deskillization ini, menurut Abu, adalah proses yang kejam. Pasalnya, pekerja hanya dilatih untuk mengerjakan satu hal saja, hingga kemampuannya untuk bekerja pun terbatas. Keterbatasannya ini menyebabkan seorang pekerja bisa mudah digantikan dengan pekerja lain.

“Pekerja jadi gampang dibuang. Besok bisa direkrut lagi. Dilatih sehari cukup, bisa langsung kerja,” kata Abu, resah. Bagi Abu, proses yang seperti ini lebih berbahaya daripada mekanisasi perusahaan. Bukan mesin yang menggantikan pekerja, tapi pekerja yang dimesinkan, bisa diganti dan dibongkar-pasang.

Peneliti Lembaga Informasi Perburuhan Sedane (LIPS) ini khawatir, permasalahan PHK mencerminkan persoalan lemahnya industri nasional. Indonesia semakin tunduk dalam rezim dagang internasional, dan posisinya hanya jadi sub-bagian dengan posisi tawar paling rendah.

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *