2016-03-04 data driven journalism

Jurnalisme Berbasis Data Harus Jadi Standar Media Massa

Di tengah arus informasi internet, media massa dituntut untuk punya standar lebih tinggi. Salah satunya adalah dengan menerapkan jurnalisme berbasis data (data-driven journalism). Jurnalisme berbasis data ini yang bisa membuat media massa memiliki nilai tawar lebih ketimbang informasi dari blog atau media sosial.

Hal ini diungkapkan Wahyu Dhyatnika dari TEMPO saat diskusi Jakarta Open Data Day di Menteng, Jum’at (4/3). Ia menyebutkan, menerapkan jurnalisme berbasis data selaras dengan pentingnya menerapkan prinsip open data.

Prinsip open data menekankan bagaimana data tertentu bisa disediakan agar terbuka untuk diakses publik dan diolah ke dalam bentuk lain tanpa perlu meminta izin. Prinsip open data ini sangat penting untuk menopang jurnalis dalam menerapkan standar jurnalisme berbasis data, karena jurnalis harus bisa mudah mengakses data terkait ketika ia menulis liputannya.

Wahyu menyebutkan bagaimana jurnalis di Amerika Serikat menerapkan jurnalisme berbasis data saat meliput kasus Obamacare, layanan kesehatan dari pemerintah, 2013 lalu. Pemerintah membuka data sumber keuangan dokter-dokter di Amerika Serikat untuk memastikan tidak ada dokter yang menagih biaya kesehatan yang mahal terhadap pasien. Data ini kemudian bisa dikutip dan diolah ulang oleh jurnalis.

Selain perihal open data, menurut Wahyu jurnalisme berbasis data juga selaras dengan standar jurnalisme sains (science journalism): pentingnya memverifikasi ulang sebelum menerbitkan liputan.

Jurnalis TEMPO ini mencontohkan ketika terjadi kisruh LGBT Februari silam. “Ada media yang asal mengutip ucapan walikota bahwa LGBT menular gara-gara makan mie instan,” paparnya. Menurutnya, seharusnya kerja jurnalis tidak berhenti hanya di mengutip saja. Jurnalis juga harus memverifikasi adakah penelitian yang mendukung klaim narasumber, sebagaimana yang dilakukan ketika menulis jurnalisme sains.

Dengan memverifikasi ke hasil penelitian, jurnalis juga membantu menjangkau hasil penelitian para akademisi ke khalayak luas. Ia menilai selama ini peneliti seperti terlalu lama bertengger di menara gading, terisolasi jauh dari jangkauan masyarakat. Dengan menerapkan kerja jurnalisme sains, jurnalis bantu menjembatani jarak yang jauh itu.

Jurnalis juga ia anggap perlu punya kemampuan mengolah datanya tidak hanya dalam bentuk tulisan, tapi juga ke dalam bentuk visual. “Find the right data, clean and analyze, visualize data,” ucap¬†Wahyu. Pasalnya, pembaca media sekarang kerap lebih senang dengan tampilan visual, seperti yang disajikan oleh infografis. Informasi yang padat jadi mudah dicerna ketika diolah dalam grafis yang menarik. Jurnalis sebab itu sebaiknya tak hanya punya kemampuan menulis, tapi juga mengolah grafis.

“Media massa butuh sesuatu yang tak bisa disediakan media lain. Prinsip ini yang bisa membuat media massa bertahan,” katanya.