2016-03-15 ayunita open data

Jakarta Open Data Day: Publik Memanfaatkan Data

72,7% pengguna internet aktif (netizen) di Indonesia belum memiliki pemahaman yang kuat dalam pemanfaatan digital hari ini. Bila netizen terus-menerus menggunakan internet sekadarnya tanpa pemahaman kuat, hal ini menjadi masalah sosial. Internet bersifat publik yang artinya punya risiko bagi pengguna.

Karena alasan itu sekaligus memperingati Open Data Day, Open Data Labs memfasilitasi jaringan komunitas, organisasi, NGO, dan instansi terkait yang menggunakan data dan internet sebagai alat pendukung di lingkup kerja sehari-hari. Open data itu sendiri adalah prinsip keterbukaan data yang dimaksudkan untuk memudahkan masyarakat luas mengakses bahan referensi yang akuntabel.

Contohnya, Perkumpulan Pemilu dan Demokrasi (Perludem) memfasilitasi netizen Indonesia mendapatkan hak politiknya dalam menggunakan internet. Dalam Jakarta Open Data Day (4/3), Diah Setiawaty dari Perludem bercerita tentang inovasi transparansi data saat Pilkada Serentak 2015 lalu. Hackathon vs Apps Challenge menjadi fokus bahasannya dalam upaya transparansi data saat bercerita di kantor Open Data Labs, Menteng.

Hackathon itu sendiri adalah sebutan bagi ajang kolaborasi para programmer dalam pengembangan proyek perangkat lunak yang direncanakan dalam satu hari atau paling lama seminggu dengan tujuan terciptanya suatu perangkat yang bermanfaat.

Perludem mengkreasikan proses hackathon ini dengan mengadakan perlombaan merancang suatu perangkat berbasis aplikasi smartphone atau website untuk kepentingan masyarakat saat Pilkada Serentak. Proses aktivitas Apps Challenge ini guna meningkatkan partisipasi warga yang tidak hanya dalam bentuk pemilihan tapi juga pemantauan. Contoh karya open data dalam politik adalah kawalpemilu.org guna memuat tabulasi data scan formulir C1 untuk membantu KPU dalam hal pengawalan pada Pemilu 2014.

Menurut Diah pendidikan informasi untuk pemilih saat ini harus memanfaatkan perangkat yang berkembang. “Yang terpenting dari kegiatan yang melibatkan masyarakat adalah bagaimana tindak lanjut dari kegiatan tersebut, seberapa besar dampak untuk masyarakat dan seberapa jauh interest-nya untuk melanjutkan,” ujar Diah.

Selain cerita Perludem, ada juga kreasi dalam hal pemetaan. Ada banyak peta daring (dalam jaringan) namun sulit untuk diakses karena adanya keterbatasan teknis. Mapillary hadir sebagai salah satu layanan berbentuk aplikasi dengan pola mengumpulkan data berupa foto lintasan di jalan atau lokasi pengembangan di suatu daerah yang dihimpun oleh pengguna aplikasinya untuk memberikan kabar terbaru mengenai lokasi-lokasi yang dibutuhkan.

Beberapa pembaharuan foto-foto yang diunggah oleh pengguna dapat dikombinasikan berdasarkan waktu sehingga menciptakan sebuah permukaan jalan yang dapat dijadikan acuan pembangunan. Misalnya, pada suatu daerah terpencil tidak didukung dengan sarana yang memadai sehingga dalam hal ini dapat menjadi alternatif untuk pembangunan ekonomi, tanggapan darurat, perencanaan kota atau keperluan lainnya. Inisiatif masyarakat Swedia ini memantik ketertarikan masyarakat Indonesia untuk bergabung dengan nama lain OpenStreetMap Indonesia.

Berhubungan dengan menciptakan atau pengambilan data, yang terpenting adalah bagaimana data tersebut dikemas menjadi semenarik mungkin dan mengundang publik untuk memanfaatkannya. “Kini selain menjadi sumber, individu juga bisa menjadi “publisher” dari berita dikarenakan adanya internet,” papar Yosep Suprayogi dari Tempo mengawali kelas singkat tentang jurnalisme berbasis data.

Menurutnya, tantangan dalam sebuah data bukan dari proses membuat atau mencarinya, namun lebih kepada bagaimana data tersebut dibuat semenarik mungkin dan juga mudah dimengerti. Dukungan visual data dapat meningkatkan penyampaian kepada publik dengan tepat sasaran sampai dengan 95%. Karena acuan saat membuat data adalah untuk memahami, mengungkap, dan menyajikan data yang bersih serta terencana juga fungsional.

.

Foto: @glennmaail