2016-03-16 jurnalisme ramah gender 20160316_145842

Bagaimana Membuat Jurnalisme Ramah Perempuan?

Seorang perempuan dilecehkan di suatu sudut kota di Ambon. Beritanya menjadi tajuk utama koran pagi. Nasib naas si perempuan, yang namanya disamarkan sebagai Mawar, dinarasikan secara rinci. Dari bagian tubuh yang dilecehkan sampai rambut yang dijambak. Melengkapi pemberitaan itu, hadir pula celetukan singkat tetangga Mawar, “Oh, soalnya dia sering pulang malam, sih…”

Pemberitaan sedemikian rupa kerap ditemui di media massa. Liputan semacam ini yang mewarnai tajuk koran-koran lokal Ambon saat Linda Tangdialla, mantan pimpinan redaksi Bisnis Indonesia, berkunjung ke kota manise itu. Dan Linda menggelengkan kepala, menyesalkan kualitas jurnalistik media-media itu. Pasalnya, berita semacam itu dinilai tak ramah perempuan.

Berita seperti pemerkosaan, menurut Linda, seharusnya tidak diceritakan secara rinci. Pemerkosaan sendiri sudah merupakan peristiwa yang traumatis. Menceritakan ulang kekerasan seksual tersebut secara terperinci justru akan menggandakan trauma. “Korban mengalami perkosaan berulang,” papar Linda saat mengisi diskusi di Pacific Place Jakarta, Rabu (16/3).

Selain penceritaan, banyak hal lain dalam peliputan kasus kekerasan seksual yang seringkali absen dilakukan jurnalis. Pelengkap pemberitaan berupa wawancara, misalnya. Alih-alih wawancara korban, menurut Linda yang sering terjadi justru wawancara pihak lain. Dari wawancara itu terkadang muncul pernyataan serampangan yang mengimplikasikan kesalahan pada korban. Pada kasus “Mawar”, pernyataan tetangga mengimplikasikan pelecehan terjadi karena Mawar sering pulang malam.

Pernyataan-pernyataan sedemikian menurut Linda meneguhkan stereotipe gender. Dengan mengaitkan “pulang malam” dengan “pelecehan seksual”, ada kesan bahwa sudah sewajarnya perempuan dilecehkan ketika pulang sampai malam. Walau risiko itu memang ada, cara pikir yang harus dibangun adalah bagaimana perempuan berhak untuk mendapat rasa aman meskipun harus pulang malam.

Stereotipe gender juga bisa hadir dalam cara mendeskripsikan perempuan. Perempuan dideskripsikan dari pakaian yang mereka kenakan. Dalam kasus pelecehan, misalnya, korban lazim dideskripsikan dengan kata ganti “perempuan yang berpakaian ketat”. “Tapi dalam kasus kriminal lain, apa kita pernah bilang begini, ‘lelaki dengan celana panjang tersebut merampok bank’? Atau, ‘lelaki bertelanjang dada itu memulai perkelahian’?” sebut Joy Sakurai dari Kedutaan Besar Amerika Serikat, menambahkan.

Di Amerika Serikat, menurut Joy, setiap tahunnya jurnalis menerima pelatihan jurnalisme ramah gender. Jurnalis dilatih agar tahu cara meliput berita terkait perempuan. Kosakata dipilih secara hati-hati agar tidak bias gender.

“Untuk pemerkosaan, kita tidak memakai istilah korban (victim), tapi penyintas (survivor),” paparnya. Menurutnya istilah penyintas lebih mampu memberdayakan perempuan, dengan tidak menempatkan diri perempuan sebagai pihak yang lemah.

Secara mirip, peliputan berita ramah perempuan di Indonesia juga sebaiknya menghindari penggunaan kata ganti nama bunga seperti mawar. “Mawar, Melati, dan lain-lain. Kesannya cantik. Tapi bunga setelah layu dibuang ‘kan ya?” ucap Linda melengkapi Joy. Ketimbang nama bunga, seharusnya media mengikuti standar jurnalistik, yakni dengan menggunakan akronim seperti dalam liputan berita lain.

Jurnalisme ramah perempuan tidak boleh menghakimi, dari cara mendeskripsikan sampai pemilihan kata. Selain itu, jurnalisme ramah perempuan juga harus mampu mengangkat berita tentang perempuan di luar sektor domestik.

Berita tentang perempuan sebagai pengambil keputusan atau pembuat kebijakan publik harus diperbanyak untuk menerapkan jurnalisme ramah perempuan. Harus ada perubahan cara pandang, bahwa perempuan juga bisa terlibat di sektor-sektor yang biasanya dilazimkan sebagai pekerjaannya lelaki.

Indonesia, menurut Joy, punya role model: Meutya Hafid, jurnalis yang pernah meliput Perang Irak di medio tahun 2003. Di saat liputan peperangan yang berisiko tinggi dipenuhi lelaki, Meutya hadir sebagai sosok perempuan. Sekarang, Meutya duduk di parlemen sebagai pengambil kebijakan. Pemberitaan tentang Meutya dapat dijadikan contoh prestasi perempuan.

Sebaliknya, perlu juga mengangkat berita tentang lelaki yang bekerja di sektor yang umum dipenuhi perempuan dan sektor domestik. Contohnya lelaki yang merawat anak, mengajar, bahkan sampai membersihkan rumah. Menurut Linda, tampilnya beberapa lelaki di kolom fashion dan gaya hidup di beberapa koran Indonesia adalah bentuk jurnalisme ramah perempuan.

Sayangnya, Linda menilai masih banyak jurnalis yang menjadi jurnalis karena keterpaksaan. Mereka menjadi wartawan bukan karena keinginan, tapi karena kondisi.

Ia mencontohkan, hal ini terjadi di Ambon. Akibat konflik sektarian berupa Kerusuhan Ambon di tahun 1999, orang Ambon mengambil pekerjaan apa pun yang tersedia. Menjadi wartawan lokal adalah salah satu dari beberapa pilihan yang menggiurkan. “Jadi yang dicari adalah oplah yang masuk, bukan fungsi edukasi dan advokasi,” sebut perempuan berdarah Indonesia Timur ini.

Meski masih jauh panggang dari api, Linda optimis kerja-kerja jurnalisme bisa mengarah ke yang lebih baik. Ia percaya bahwa mengembangkan jurnalisme ramah perempuan harus dilakukan secara bertahap. Dengan jurnalisme ramah perempuan, cara pikir masyarakat pun akan mengikuti kepekaan itu.

“Seorang penulis juga mempunyai kekuasaan,” sebutnya, mengutip Bondan Winarno, “Soalnya memang bukan apakah seorang penulis memilikinya, tetapi bagaimana ia menggunakannya.”

Sharing is caring!
Share on Facebook17Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

One response to “Bagaimana Membuat Jurnalisme Ramah Perempuan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *