2016-26-02 Alvin Anak Muda dan Privacy

NGOPI (Ngobrol Pintar): Data Pribadi Anak Muda Rentan Disalahgunakan

Setiap anak muda hari ini terpapar dengan internet, tapi juga termasuk paling rentan data pribadinya disalahgunakan oleh pihak-pihak lain. “Misalnya, pernah nggak anak muda baca Terms and Conditions waktu daftar di media sosial?” ujar Alvin Nicola dari Youth Proactive.

Terms and Conditions yang selalu ada di tiap kolom pendaftaran media sosial menjelaskan aturan yang harus disetujui oleh pengguna dengan mendaftar di media sosial tersebut. Aturan tersebut biasanya mencakup bahwa tiap konten yang diunggah di web tersebut, seperti foto, umur, atau tempat tinggal, menjadi milik si pengelola media sosial dan bisa digunakan untuk tujuan apa pun.

Berdasarkan penjelasan Alvin, foto merupakan data pribadi pengguna yang paling sering tersedia secara publik di media sosial. “Menurut data Pew Research Center, 66% pengguna internet sharing fotonya di medsos,” demikian sebutnya pada diskusi NGOPI: Anak Muda dan Privacy di Cikini (26/2). Setelah foto, data pribadi yang paling sering disebar berikutnya adalah tanggal lahir (50%) dan alamat email (46%).

Persoalan internet dan privasi digital menjadi tajuk diskusi NGOPI yang diselenggarakan Youth Proactive bersama dengan KEMUDI (Kelas Muda Demokrasi Digital) pada Jum’at lalu di Bakoel Koffie. Sebabnya, anak muda begitu terpapar dengan internet tapi tidak semuanya sadar dengan penyalahgunaan data pribadi.

Data pribadi ini yang kemudian bisa dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan besar. Jutaan data pribadi pengguna dari berbagai macam platform terkumpul dalam satu kolektif yang disebut big data. Big data inilah yang jadi ancaman besar bagi privasi anak muda di internet.

“Pernah merasa nggak, lagi buka Facebook terus kok ini ada iklan sepatu yang kita kemarin beli di Lazada? Itulah big data,” ujar Damar Juniarto, aktivis Forum Demokrasi Digital yang juga mengisi diskusi sore itu.

Data pribadi yang kita sertakan di media sosial itu dimiliki oleh kanal-kanal besar seperti Facebook dan Twitter, kemudian dijual ke perusahaan lain untuk tujuan komersil. Perusahaan lain tersebut bisa menggunakannya untuk mengiklankan produknya pada pengguna internet. Bila si pengguna kemarin membeli sepatu Adidas, data pembelian ini bisa digunakan oleh perusahaan untuk menjual produk sepatu lain atau produk Adidas lain.

Foto pribadi pun bisa digunakan untuk kepentingan perusahaan. “Tahu nggak foto yang di-upload ke aplikasi How Old Do I Look bisa dipakai untuk kepentingan Microsoft?” sentil Dhyta Caturani dari Purple Code.

How Old Do I Look adalah aplikasi web garapan Microsoft tempat pengguna bisa mengunggah foto untuk kemudian dianalisis oleh kecerdasan buatan yang memperkirakan berapa umur wajah yang ada di foto. Aplikasi web ini adalah upaya Microsoft dalam mengembangkan kecerdasan buatan.

Tapi, menurut Dhyta, tiap foto yang diunggah ke aplikasi ini menjadi hak milik Microsoft. Microsoft bisa menggunakan foto-foto tersebut untuk iklan atau tujuan komersil lain tanpa perlu izin lagi dari si pemilik foto.

“Ini jadi self doxxing, penyebaran informasi pribadi yang sensitif di ranah online,” jelas Dhyta lagi. Doxxing adalah istilah yang digunakan untuk menyebut penyebarluasan informasi pribadi seseorang di internet, seperti foto, alamat rumah, atau nomor telpon. Ketika dilakukan oleh si individunya sendiri, praktik ini disebut self doxxing.

Dhyta melihat banyak anak muda yang dengan mudah menaruh informasi pribadi yang seharusnya tidak mudah disebar. Biasanya, informasi yang dibagikan seperti nomor ponsel pada biodata di keterangan akun.

Menurutnya, dengan tanpa sadar menaruh informasi pribadi akan membuka peluang untuk orang lain melakukan kejahatan. Apalagi dengan nomer ponsel maka kejahatan seperti bullying dan harassment bisa dilakukan langsung secara pribadi kepada si individu. Hal ini terutama sangat berisiko bagi perempuan. “Data dari PBB, 95% kasus harassment terjadi pada perempuan,” sebut Dhyta.

Damar menganjurkan ada tiga langkah yang sebaiknya diikuti dalam menjaga data pribadi. “Pertama pikir dulu sebelum isi formulir [pendaftaran],” papar Damar. Menurut Damar, harus dipertimbangkan ke mana dan oleh siapa nanti data pribadi yang diisi di formulir itu digunakan. Lalu adakah informasi sensitif yang bisa disalahgunakan oleh pihak tertentu.

“Kedua, atur setting medsos siapa yang bisa lihat konten kita. Medsos seperti Facebook, Twitter, punya pengaturan bisa dibaca publik, bisa dibaca teman, atau privat,” jelasnya lagi. “Terakhir, ikutlah terlibat dalam mendorong UU Perlindungan Data Pribadi,” pungkasnya.