2016-02-18 kampung bersih tidak kumuh IMG-20160218-02618

Kampung Tak Harus Kumuh, Seperti di Singapura

Di antara gedung-gedung apartemen tinggi yang tersekat-sekat, warga Singapura tengah mencari sesuatu yang hilang. Sesuatu itu pernah negara-kota itu miliki, sebelum digerus pada medio 1970-an. Sesuatu itu adalah kampung spirit.

Kampung spirit (semangat kampung) sedang menjadi kerinduan bagi warga Singapura yang selama beberapa dekade terakhir hidup dikotak-kotakkan dalam apartemen. Tren rancang bangun infrastruktur Singapura sedang bergerak ke arah model pembangunan pendekatan gugus perumahan, seperti rancangan rumah-rumah di perkampungan yang terikat erat satu sama lain. Warga berbagi ruang sosial yang sama dengan tetangganya.

Jika di negara-kota yang kerap dijadikan role model oleh pejabat publik di Indonesia itu sedang membangun kembali kampung spirit, maka yang terjadi di ibukota Indonesia justru sebaliknya. Penggusuran kampung-kampung menjadi corak pembangunan Jakarta selama dua tahun terakhir.

“60% penduduk Jakarta tinggal di kampung. Tapi Jakarta memusuhi kampung,” demikian sebut Sri Palupi, peneliti Institute for Ecosoc Rights, pada diskusi di Bentara Budaya, Jakarta (18/2).

Pasalnya, memang kerap terjadi kebingungan antara “kampung” dan “perumahan kumuh”. Perumahan kumuh lazim dianggap sama dengan kampung dalam pembicaraan sehari-hari di Jakarta. Padahal, kampung tak harus kumuh. Sangat mungkin mewujudkan kampung bersih. Sri mengambil contoh Kampung Rawajati, Jakarta Selatan.

Di pemukiman di kawasan Pancoran ini, tumbuhan asri memenuhi perumahan warga. Jalanan yang melintasi tempat hunian boleh jadi kecil, namun disapu bersih dan tersedia tempat sampah selang sekian meter sekali. Pada tahun 2005, Sutiyoso mendeklarasikan kampung bersih ini–jauh dari kesan kumuh–sebagai destinasi agrowisata. Selain Kampung Rawajati, ada pula Kampung Kunir di Kota Tua Jakarta dan Kali Code di Jogjakarta.

Kampung Rawajati. Foto dari: Ruang Hergiawan/wiskawanta.blogspot.co.id
Kampung Rawajati. Foto dari: Ruang Hergiawan/wiskawanta.blogspot.co.id

Kekeliruan memahami kampung sebagai perumahan kumuh, menurut Sri, lantaran pengabaian oleh pemerintah. “Kampung dibiarkan kumuh karena tak diberikan layanan publik [oleh pemerintah],” paparnya. Ketiadaan akses kesehatan atau akses sosial seperti ruang publik bagi warga, menyulitkan warga kampung untuk memberdayakan komunitasnya sendiri sebagai kampung bersih. Akibatnya kampung menjadi identik dengan kata kumuh.

Kampung, dalam pengertian sesungguhnya, dipahami bukan hanya dari bentuk fisiknya saja. Kampung adalah kehidupan pemukiman yang ciri khasnya ada pada kebersamaan ruang (sharing of spaces), pertemuan antar-tetangga setiap hari, dan penggunaan rumah yang bercampur sebagai ruang interaksi sosial sekaligus ruang kerja. Interaksi sosial di kampung berdasarkan hubungan-hubungan informal di antara warganya. Sebab itulah bisnis kecil seperti warung lazim ditemui di rumah-rumah perkampungan.

Selain faktor pengabaian pemerintah, Sri juga menyayangkan kurang banyaknya penelitian mengenai kampung, yang menyebabkan sulitnya mempertahankan kampung di hadapan ancaman penggusuran.

Ia membandingkan dengan pengalaman di Thailand, yang kampung-kampungnya banyak diteliti dan bahkan dijadikan tempat wisata sejarah karena riwayatnya yang panjang. “Ada salah satu kampung yang jadi tempat pertama imigran dari China sampai di Thailand, kampungnya masih ada sampai sekarang,” papar Sri, berkaca pada kampung bersih Thailand. Penelitian seperti ini dinilai masih kurang di Indonesia, hingga nilai sejarah kampung bisa dengan mudah digusur oleh pembangunan kawasan real estate mewah atau proyek pemerintahan.

Terkait penggusuran karena alasan tanah negara, Direktur RUJAK Center for Urban Studies Marco Kusumawijaya meminta agar masyarakat lebih berhati-hati dan tak terburu-buru memaklumi penggusuran hanya karena ada pengakuan “tanah negara”.

Marco membandingkan pengalaman di Berlin, Jerman. “Di Berlin, ada banyak tanah negara. Tapi lalu tanah-tanah itu dijual-jualin, ke orang Rusia, ke orang China,” papar Marco. “Tanah itu dibeli bukan untuk warga, investor nggak peduli pembangunan kota selama bisnis berjalan.” Proses penjualan tanah negara ini banyak terjadi di wilayah yang dulu menjadi Berlin Timur saat masih Perang Dingin.

Pada kesempatan terpisah, Marco sempat menyebutkan bagaimana kepemilikan tanah di Jakarta dikuasai semakin sedikit orang. Ratusan hektar tanah Jakarta yang puluhan tahun lalu bisa dimiliki 50 orang, sekarang pemiliknya bisa dihitung jari. Tanah-tanah tersebut hari ini dimiliki oleh para pemodal, dimanfaatkan sebagai investasi.

Akibat penguasaan tanah ini, terjadi proses penjauhan: orang-orang tinggal makin jauh dari orang tuanya. “Ada yang orang tuanya tinggal di Menteng, tapi anaknya tinggal di Bekasi,” ujar Marco pada kesempatan itu (13/2).

Arsitek RUJAK ini menyebutkan, hasrat “kekampungan” perlu dihidupkan kembali dalam hidup berkota. Kampung perlu ditarik dari asosiasinya yang kumuh, sebab ciri khas kampung adalah pada dekatnya kehidupan bertetangga, yang warganya siap-siaga saling membantu satu-sama lain. Marco melihat kedekatan ini diperlukan, terutama bila mau membangun kota bersama-sama–yang membutuhkan partisipasi aktif dari warga. Kampung bersih harus diupayakan.

“Ada pepatah Aceh yang kalau diterjemahkan berbunyi begini, ‘celaka lah rumah tanpa atap, celaka lah kampung yang tak guyub.’ Hasrat guyub inilah yang kita butuhkan,” pungkasnya.

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

2 responses to “Kampung Tak Harus Kumuh, Seperti di Singapura

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *