JumatKeramat Twitter 3

Jumat Keramat Menggugat Pejabat

Komedi bukan cara baru untuk mengomentari situasi sosial dan politik. Buku “Mati Ketawa Cara daripada Soeharto” yang beredar di penghujung akhir masa Orde Baru, misalnya, mengoleksi kumpulan lelucon yang mengolok perilaku Keluarga Cendana dan jendral-jendralnya. Saat protes tak mau didengar penguasa, humor jadi cara segar untuk mengomentari kelaliman.

Beberapa tahun terakhir stand-up comedy berkembang sebagai bentuk komedi baru di arus utama humor Indonesia. Dalam stand-up comedy, seorang atau dua orang komedian yang disebut komika (comic) membawakan monolog di hadapan penonton luas. Sebagaimana perkembangan di tempat asalnya di Amerika Serikat, stand-up comedy di Indonesia kerap mengangkat isu sosial dan politik jadi bahan lelucon. Isu ini dikemas secara kreatif hingga terdengar santai dan terasa dekat dengan keseharian masyarakat.

Sebagai upaya mengajak generasi muda untuk akrab dengan isu sosial dan politik, Transparency International Indonesia (TII) bekerja sama dengan Stand Up Comedy Indonesia mengadakan stand-up comedy. Kolaborasi ini bukan yang pertama kali. Sejak 2012 TII telah aktif berkolaborasi dengan komunitas stand-up comedy setiap tahunnya.

“Kalau kita bisa seringan itu menertawakan isu politik dan kelaliman penguasa lewat stand-up comedy, mestinya kita bisa seringan itu juga melawan korupsi. Anak muda perlu bebas berekspresi dan lewat kegiatan inilah hal itu mungkin dilakukan,” jelas Lia Toriana, Program Manager Youth Department TII.

Tahun ini TII ingin mengajak anak muda untuk bersama meledek para pelaku kejahatan, terutama di antara penguasa, yang bisa lolos dari penyelidikan dan proses peradilan karena memiliki impunitas. “Materi stand-up ini tidak akan kalian temui di TV,” sebut Andi ‘Awwe’ Wijaya, ketua komunitas Stand Up Comedy Indonesia sekaligus pengisi acara. “Kami akan banyak menyindir orang.”

Di Indonesia, stand-up comedy pernah menyentil pejabat. Provocative Proactive yang dibawakan Pandji pernah menyindir Patrialis Akbar, Menteri Kementerian Hukum dan HAM Kabinet Indonesia Bersatu II di masa Susilo Bambang Yudhoyono.

Dalam sesi itu, Pandji meledek buruknya tata kelola penjara dan tahanan korupsi di bawah Patrialis, di antaranya bebas keluar-masuknya tahanan korupsi Gayus Tambunan dan pemberian remisi bagi napi korupsi. Beberapa waktu kemudian, Patrialis masuk dalam daftar menteri yang di-reshuffle. Hingga hari ini, jendral pelanggar HAM di masa pemerintahan sebelumnya dan perusahaan perusak hutan masih berkeliaran tanpa diproses hukum.

Stand-up comedy tahun ini bertajuk “Jumat Keramat: A Stand-up Comedy Show”, digelar di Gelanggang Remaja Bulungan, Jakarta Selatan pada Jumat malam, 11 Desember 2015. Jumat Keramat melibatkan komika Andi ‘Awwe’ Wijaya, Arief Didu, Abdur Arsyad, Adriano Qalbi, Muhadkly Acho, Gilang Bhaskara dengan host Adjis Doaibu. Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan yang dilakukan TII dalam rangka memperingati Hari Antikorupsi dan Hari HAM Sedunia.

Sharing is caring!
Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

One response to “Jumat Keramat Menggugat Pejabat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *