2015-12-02 Titi Anggraini 17 November

Waspadai Tokoh Politik yang Seolah Mengayomi Warga

Pilkada semakin dekat. Masyarakat sudah diwanti-wanti untuk mewaspadai “serangan fajar”–pemberian uang pada pemilih menjelang pemilu supaya memilih calon tertentu. Tapi politik uang bukan cuma yang transaksional seperti serangan fajar.

Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini menjelaskan, politik uang juga bisa berupa non-transaksional dan juga bisa menyasar penyelenggara pemilu.

Berbeda dengan politik uang transaksional yang menganjurkan pemilih untuk memilih si pemberi uang, politik uang non-transaksional tidak ambil pusing siapa yang jadi pilihan si pemilih. Yang penting, pemilih tahu siapa yang memberi uang.

“Citranya begini, ‘saya orang baik lho, saya kasih kamu uang. Enggak apa-apa kamu enggak milih saya, nanti saya kasih kamu uang terus,'” ujar Titi Anggraini, Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), pada seminar sehari bertajuk “Membangun Pilkada Serentak yang Bersih dan Bebas Korupsi” di BPHN, Jakarta (17/11).

Menurut Titi, politik uang non-transaksional lebih berbahaya daripada politik uang transaksional. Politik uang non-transaksional berusaha membangun citra si pemberi uang sebagai tokoh dermawan yang mengayomi masyarakat.

Acapkali, politik uang jenis ini dilakukan oleh incumbent (petahana). Incumbent akan menggelontorkan uang sangat banyak bagi masyarakat, seolah-olah berasal dari kantong pribadi, padahal menggunakan dana bansos dan dana hibah yang asalnya dari anggaran daerah.

“Nanti kalau masyarakat butuh uang buat sunatan massal, minta uang ke dia. Butuh buat acara RT, minta uang ke dia,” ujar Titi. Si pemberi uang akan dikenal sebagai tokoh masyarakat yang dermawan dan suka menolong. Saat ia maju di pemilu, dengan sendirinya warga akan memilihnya yang punya citra baik.

Hal ini terjadi dalam kasus Yusak Yaluwo, bekas Bupati Boven Digoel, Papua (masa jabatan 2005-2010). Yusak sempat masuk bui karena korupsi APBD dan Dana Otonomi Khusus sejumlah Rp.130 Miliar. Tahun ini, Yusak kembali maju di pilkada Boven Digoel. Di daerahnya, elektabilitas Yusak mencapai 70%. Di antara warga Yusak dikenal sebagai tokoh yang siap menolong warga yang kesulitan. Yusak menjadi sosok patron pelindung warga Boven Digoel. “Padahal uangnya dari hasil korupsi anggaran negara,” sebut Titi.

Selain politik uang non-transaksional, Titi juga mewanti-wanti untuk mewaspadai bentuk lain politik uang: penyuapan penyelenggara pemilu.

Menurut Titi, praktik suap di pemilu sering tak terungkap lantaran semua bagian dari penyelenggaraan pemilu adalah bagian dari korupsi. “Yang disuap bisa KPU (Komisi Pemilihan Umum), KPUD (Komisi Pemilihan Umum Daerah), atau Panwaslu (Panitia Pengawas Pemilu,” ujarnya. Dengan menyuap penyelenggara, calon bersaing bisa memanipulasi data pilihan atau menghilangkan pemilih supaya dirinya yang terpilih. “Kalau itu belum cukup juga, suap hakim kalau perlu,” sebut Titi.

Biaya politik yang sangat besar menjadikan pemilu sebagai pertarungan high risk and high cost. Para calon mati-matian menghalalkan segala cara supaya dirinya terpilih. Titi beranggapan anggaran partai politik terkait kampanye politik perlu dievaluasi supaya tidak memberatkan calon dan mengurangi potensi korupsi.

Sementara ini, menyambut tanggal 9 Desember, masyarakat masih harus perlu berhati-hati memilih siapa yang akan mewakili kepentingan warga selama lima tahun ke depan.

.

Foto dari: Siantar News

Sharing is caring!
Share on Facebook23Tweet about this on Twitter0Share on Google+0Share on Tumblr0Email this to someonePrint this page

One response to “Waspadai Tokoh Politik yang Seolah Mengayomi Warga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *